Bangkrut Jangan Sampai Temanmu Tahu

Bangkrut? Jangan Pernah Temanmu Tahu!

Baru saja tadi menerima kunjungan dari teman-teman di Garasi mungil Cipendawa.com. Setelah sekian waktu tidak bersua, tentu saja pembicaraan langsung menghangat dengan berbagai topik cerita. Dari mulai soal selama ini mengerjakan apa, hingga tentang kondisi teman-teman lain. Paling hangat tentu saja membicarakan semangat dalam berkolaborasi, membangun jaringan bisnis sampai pada implementasinya. 

Namun yang paling menghujam dalam ingatanku tentang ucapan; “semakin miskin kamu, semakin ditinggalkan temanmu”. Ini memang masih menjadi penyakit di dalam masyarakat, di dalam berbagai komunitas bahkan organisasi bisnis. Penyakit masyarakat yang tidak terlihat namun bisa dirasakan, persis seperti kentut :)). 

Iya, sebenarnya hal ini penyakit yang semua orang tahu, bahkan menyadarinya. Sayangnya, banyak orang yang sudah tahu dan paham tentang penyakit ini namun malah atau bahkan tetap bertahan untuk ikut memperbesar kondisi tidak baik ini.

Ada orang yang kalau diajak bicara tentang keadaan terpuruknya orang lain, akan tertunduk simpati, tapi menghindar pergi saat dimintai pertolongan. Ada juga yang muluk-muluk berbicara soal sosial, bisnis sosial ataupun pengusaha yang melek akan sosial, namun sembunyi saat datang teman meminta tolong. Dan paling sering kalimat yang akan muncul adalah;

Dia itu datang kalau butuh doang.

Kalimat pusaka untuk menghindari beban pertolongan

Penyakit mental miskin ini masih menggejala. Itulah mengapa ketika ada orang yang sedang bangkrut, rata-rata dari mereka akan langsung “bersembunyi” dari teman-teman yang selama ini mereka akrabpi. Bahkan tidak ketinggalan saudara sendiri, akan lebih banyak kalimat “menyalahkan” dibanding memberi semangat untuk bangkit, menggandeng tangan dan hati untuk kembali bergerak lebih hidup. 

Itulah mengapa saya sering sekali mengatakan kepada teman-temanku, bila kamu bangkrut, jangan sampai temanmu tahu. 

Masyarakat Indonesia, atau lebih tepatnya banyak orang-orang (di) Indonesia yang masih lebih suka mendengar cerita bualan tentang kekayaan, keberhasilan, bahkan cerita nina bobok tentang kemewahan hidup. Banyak yang tidak berani untuk melihat kenyataan bahwa ada penderitaan dalam (menjalani) hidup ini, salah satunya kebangkrutan dalam sebuah bisnis. Dan karena tidak berani melihat ini, maka jalan terbaik baginya adalah menghindari temannya sendiri yang sedang bangkrut.

Bahkan dalam komunitas bisnis yang terus menerus menggemakan kalimat indah nan mulia, orang bangkrut masih (tetap) bukanlah bagian dari kelompok mereka. Saya banyak menemukan kondisi ini, semakin bangkrut seseorang semakin tersingkir dari komunitas itu. Ini diluar alasan lainnya seperti kondisi psikologis penderita bangkrut dan sejenisnya. 

Jadi, manakala kamu sedang bangkrut. Janganlah bercerita kepada semua temanmu atau kamu seketika tidak ada dilingkaran mereka. Berceritalah kepadaku, saya akan membantumu semampuku, tapi jangan menawar pertolongan karena kunci keberhasilanmu tetap ada padamu. 

Salam sukses mulia tangan di atas anti bangkrut 😉

Leave a Reply

%d bloggers like this: