Ulas Buku

Beautiful Enemy

Dalam kepemimpinan, dalam profesionalisme, dalam menciptakan inovasi, kita butuh musuh yang indah. Musuh yang indah membuat kita lebih mempertajam argumen kita. Membuat kita lebih cerdas, lebih tahan, lebih nyata dalam hidup.

Kita semua membutuhkan “devil’s advocate”, orang yang melawan argumen kita, dan berada di pihak seberang. Kita paham hal ini, tetapi ada berapa oang yang benar-benar punya, dan menginginkan adanya “beautiful enemy” ini.

Riset menunjukkan semua orang setuju akan idea ini, tetapi dalam kenyataanya tidak menyukainya. Bahkan tidak mau menerima kritik, walau itu membangun. Kita memperhatahankan diri atas pendapat kita, kita jarang benar-benar mau menerima pendapat orang lain, ketika pendapat itu beda.

Ketika kita beradu argumen dengan istri atau suami kita, kita berargumen dengan anak buah atau atasan kita, atau antara kita dengan suplier kita, perhatikan apakah argumen itu, walau pendapatnya berlawanan, tetapi maksudnya sama-sama untuk kebaikan semua pihak.

Kita berkata kita meninginkan kebenaran, kebanyakan dari kita hanya menginginkan untuk dianggap benar.

Semoga kita mampu memanfaatkan idea “beautiful enemy” dalam kehidupan kita ini, dalam bisnis dan dalam kepemimpinan kita.

*Tanadi Santoso. Surabaya, 2 Sep 2014.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *