teknologi digital

Beberapa Hal Sebelum Memasuki Teknologi Digital

Dunia bisnis digital, sebagai pattern baru dalam menjalankan dan membangun sebuah bisnis sudah mulai menggejala serta merambah ke berbagai segment produk. Meski begitu, belum semua produk atau jasa berubah menuju digital. Masih banyak produk yang belum menuju dunia digital.

Ada beberapa (mulai cenderung banyak) yang memulai eksplorasi tentang apa artinya menjadi perusahaan digital. Tentang bagaimana memulai merubah kebiasaan dari dunia non-digital menuju ke dalam dunia bisnis melalui digital. Beberapa diantaranya terbata-bata, beberapa diantaranya bahkan harus berulang kali melakukan investasi untuk menuju bisnis digital ini.

Definisi untuk bisnis digital mungkin bisa disederhanakan, yaitu semua bisnis yang mulai bisa dijalankan dan di kontrol melalui peralatan digital. Segala bisnis yang bisa dengan mudah dioperasikan dengan peralatan digital dimana produk bisa menemui konsumen dimanapun, beroperasi dengan baik dan bahkan arus pendapatan yang muncul.

Tahun 2015 nanti, akan muncul gelombang pawai perpindahan bisnis dengan sistem digital. Bagi perusahaan yang sudah memulai di tahun sebelumnya tentu lebih mudah dalam mengantisipasi apa yang akan terjadi, dan bagi yang baru akan memulai untuk ikut masuk ke dalam bisnis digital lebih luas, berikut ini beberapa hal yang bisa dijadikan pijakan;

[xyz-ihs snippet=”4480×60″]

1. Haruskah memimpin atau mengikuti pelanggan?

Ini sering menjadi pertanyaan dalam diskusi saat keinginan merevolusi produk sudah mulai masuk ke dalam tataran teknis. Keinginan untuk selalu teratas, paling hebat, paling lengkap dan segalanya merupakan sesuatu yang sering muncul. Dalam dunia bisnis digital, maka perlu juga untuk memahami kapan kiranya waktu yang tepat untuk segera eksekusi dan mengikuti permainan pasar yang fluktuatif.

Perlu juga membangun kemampuan untuk menerapkan prototype se-simple mungkin sembari melihat seberapa jauh pasar membaca dan membawa produk digital ini. Dalam membangun sistem apabila terlalu besar fitur yang terlanjur dibangun, seringkali mengakibatkan kemunduran saat fitur-fitur tersebut tidak bisa aplikatif terhadap pasar. Maka akan lebih bijak apabila memulai dengan sederhana dan “mengikuti pelanggan” dalam pengembangannya. Meskipun tetap tidak selalu kemauan pelanggan menjadi kewajiban untuk diikuti. Terkadang, kita bisa “memaksa” pelanggan mengikuti apa kemauan produk dan begitu juga sebaliknya. Kepandaian melihat perilaku menjadi wajib untuk dipahami.

2. Bekerja sama atau bersaing dengan pesaing?

Software maupun industri teknologinya, sudah sejak lama ditandai dengan kata “coopetition”. Dimana bisnis bisa bersaing sampai mati di satu tingkat namun ditingkatan lainnya, bisa bergandengan tangan bahkan bisa saling memberitahu satu sama lain.

10 tahun yang lalu, produk software (perangkat lunak) mungkin hanya dikuasai oleh 2 atau 3 perusahaan. Namun saat ini, setiap lini sudah begitu penuh, sanggup membuat sesak nafas. Namun disinilah uniknya dunia teknologi, kemungkinan untuk bekerjasama dengan pesaing sangatlah terbuka. Kalimat “daripada menghadapi sendiri, maka lebih baik ramai-ramai menghadapinya”, bahkan dalam beberapa hal bisa memunculkan perusahaan sendiri hasil kolaborasinya. Dan teknologi memang punya kemampuan untuk membuka jalur kolaborasi dalam menjalankan inovasi.

3. Berbeda atau sama?

Seperti dengan bisnis-bisnis non digital, teknologi digital juga sering memerlukan investasi yang besar untuk memulainya. Membangun sesuatu yang benar-benar berbeda bisa jadi bagus dan hebat, namun kebutuhan edukasi akan menjadi sangat besar dan disinilah investasi akan semakin besar. Karena pengguna belum pernah tahu dengan produk yang diluncurkan. Namun bila pengguna berhasil teredukasi dengan baik dan momentum bisa didapatkan, maka produk pun bisa berhasil.

Dan kadang, menjadi sama dengan pesaing juga bisa sebuah langkah yang menguntungkan. Mengapa? Karena akan terhindar dari biaya edukasi yang bisa jadi sangat besar. Apalagi untuk sebuah produk dengan nilai besar yang dipertaruhkan.

4. Memisahkan atau mengintegrasikan semua lini ke dalam digital?

Pertanyaan ini akan kembali ke dalam masalah “perilaku dan kebiasaan” perusahaan. Apabila perusahaan sudah memiliki budaya yang sangat inovatif dan terbuka terhadap ide-ide baru, maka menambahkan teknologi digital ke dalamnya akan menjadi sesuatu yang biasa seperti ide-ide yang lain. Namun bagi perusahaan yang masih memiliki budaya kuno dan picik terhadap ide dan inovasi baru, maka biasanya teknologi digital ini akan dipisahkan.

Mengintegrasi pengoperasian atau kontrol secara digital ke dalam bisnis fisik akan dapat menciptakan nilai tambah, misalnya dengan memberikan kemudahan pengguna dalam membeli atau menukar voucher diskon yang dimilikinya. Dan dalam kenyataannya, semua bisnis konvensional akan perlahan menghilang apabila tidak terintegrasi dengan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *