Bersahabat Dengan Tuhan

Bersahabat Dengan Tuhan

Tuhan, dulu pernah suatu kali, aku memakimu karena tiada jawab saat begitu banyak pertanyaan muncul dipikiranku. Saat kaki melangkah begitu jauh tanpa tahu kemana arah tujuan, sempat aku menghibur diri dengan mengatakan bahwa engkau sedang sibuk bahkan sangat sibuk dengan jutaan manusia lain yang setiap hari menuntutmu melalui berbagai macam doa mereka.

Doa-doa mereka laksana luapan asap membumbung tinggi berusaha menjangkau langit agar engkau mendengarnya. Dalam bayanganku, doa-doa mereka saling sikut agar bisa lebih dulu sampai di tempatmu Tuhan. Kemudian saat engkau bosan dengan doa-doa ini, engkau turunkan hujan untuk menyapu semua luapan doa itu kembali turun ke bumi. Bagiku, turunnya hujan darimu seakan ingin memberi tanda kepada semua manusia di bumi ini agar tidak terlalu panas berdoa.

Pernah suatu hari, aku coba mencari doaku di sela-sela air hujan yang baru saja selesai. Aku tak menemukannya, apa mungkin doa itu sudah engkau simpan?

Ya, bisa jadi para malaikatmu juga bosan menerima semua ini yang pada akhirnya melekat di dinding langit. Semua mengerak dan membuat gugusan langit terasa berat untuk menampungnya, hingga bocorlah dinding kaca yang menyelimuti bumi ini. Panas pun menyelimuti bumi.

Belakangan ini, aku merasakan engkau masih belum bisa aku dekati. Aku masih sibuk melawan diriku sendiri. Bahkan rasanya tidak ada waktu untuk mendekatimu, karena saat aku sedang melakukan perintah ibadahmu, saat itu aku sedang berkelahi dengan diri sendiri agar tidak terlalu sombong, agar diam dan tidak merasa paling benar, agar tunduk pada perilaku baik, agar bisa menendang jauh-jauh perilaku buruk dan banyak lagi. Tidak untuk mendekatimu.

Engkau perintahkan aku untuk mengenali setan agar bisa menjauhi setan, namun rasanya setan saja sudah kalah denganku. Setan tidak akan berani mengakui dirinya sebagai Tuhan, tapi ada kemungkinan aku sanggup. Maafkan aku ya Tuhan. Dan lebih sulit lagi Tuhan, semua bujuk rayu dan janji kenikmatan yang setan berikan selalu dibayar kontan.

Tuhan, aku membayangkan engkau sedang tertawa-tawa melihat tingkah laku manusia ciptaanmu yang tiada henti berbuat bodoh. Seperti aku ini misalnya. Aku menganggapmu sahabat, aku menganggapmu teman agar aku tidak takut dengan sifat-sifat “tegas” yang engkau miliki. Mungkin saja, dalam layar besar di depan singgasanamu, banyak kelucuan yang berhasil membuatmu terhibur.

Sebenarnya aku takut, apalah aku ini dihadapanmu Tuhan. Terkadang aku bertingkah laku sepertimu, congkak sana sini, sombong sana sini bahkan sering menganggap diri wakilmu dihadapan manusia lain. Kebenaranmu yang sebenarnya tidak mampu aku pahami, aku klaim sebagai kebenaranku sendiri, hanya untuk terlihat lebih hebat di depan manusia lain. Begitu banyak rahasia, engkau maha pemilik rahasia.

Tapi Tuhan, sampai detik ini, cara seperti ini yang aku pahami untuk bisa berdekatan denganmu. Sebagai manusia yang terlahir menangis saat melihat cahaya, harus aku akui bahwa dalam usia dewasa aku takut gelap. Maafkan aku.

Engkau beri tambahan umur untukku, saat ini. Hari ini. Sebuah kenikmatan tiada tara yang tidak bisa (lagi) aku sangsikan. Tuhan, panggil aku saat aku sudah berhasil menang melawan diriku sendiri. Panggil aku saat aku sudah berhasil menebarkan manfaat bagi anak-anakku dan orang lain. Saat itu, akan aku ceritakan pengalaman menarik yang aku alami selama di dunia. Saat itu, pura-puralah tidak tahu akan ceritaku.

Terima kasih Tuhan, I love You.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.