Berpikir Negatif

Capek nggak sih mikir jelek terus?

Capek nggak sih mikir jelek terus?

Pertanyaan pelan itu menohok keras-keras dalam pikiranku. Sebuah kalimat yang sebenarnya biasa-biasa saja, namun membuatku urung untuk ikut berkomentar lebih jauh di sebuah tulisan orang.

Ya betul, capek nggak sih mikir jelek terus? Mikir positif saja memerlukan energi besar apalagi mikir negatif. Bahkan ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa berpikir negatif memerlukan 3 kali lipat tenaga lebih dibanding berpikir positif. Sudah banyak yang menuliskan tentang pikiran positif dan negatif dan bagaimana sebaiknya menyikapi.

Kalimat-kalimat negatif sanggup menguras tenaga orang hingga akhirnya kehilangan pikiran positif kemudian tercipta pertengkaran melalui komentar, ribut berkelahi bahkan bisa membuat sebuah peperangan antar kampung. Berawal dari saling merasa paling benar, kemudian ngotot paling benar perlahan berubah menjadi saling emosi dan buum! Dosa bergelimpangan dimana-mana.

Begitu sulitnya belajar untuk berpikir positif, ditengah sulitnya untuk bersikap hati-hati, sosial media di sekitar kita justru menyuguhkan begitu banyak atraksi provokasi, memancing kemarahan, memantik benci hingga yang mengotori hati. Tulisan-tulisan provokasi baik yang dilakukan atas nama pribadi maupun atas nama kelompok hadir begitu mudah di depan mata, melalui sosial media yang semakin hari semakin memudahkan bagi orang untuk membagikan tulisannya entah baik maupun buruk.

Para pembuatnya (entah sengaja atau tidak, saya tidak paham) tahu betul bagaimana membangun antusiasme “kemarahan” dari para pembaca atau segmentasi pembaca yang memang menjadi targetnya. Saling tuding diantara kelompok, melempar tangan sembunyi kaki mudah sekali ditemukan. Semua memancarkan pesan negatif, pembacanya di ajak untuk berpikir negatif hingga akhirnya sadar ataupun tidak bisa memunculkan perilaku negatif dalam kesehariannya.

Orang-orang yang sudah terjerumus dalam pikiran negatif akan selalu menganggap negatif se-positif apapun perilaku, nasihat atau tulisan orang lain.

Salah satu ciri khas dari pikiran negatif bahkan kampanye negatif adalah “membenturkan” pembacanya kepada pihak lain, tidak peduli apakah itu benar atau tidak. Dan Indonesia sedang menjadi surganya para provokator. Dari nama yang terkenal hingga nama yang tidak terkenal muncul memprovokasi seenaknya saja. Ironisnya, masyarakat Indonesia yang sedang bergairah di sosial media dengan senang hati menelan dan tidak jarang tanpa menyaringnya terlebih dahulu.

Belakangan ini muncul Provokasi tentang PKI. Di jaman presiden Gus Dur, kampanye tentang kebangkitan PKI ini muncul semenjak ada niatan dari presiden untuk meminta maaf kepada anak turun PKI yang tidak memiliki dosa turunan dari moyangnya. Dan sekarangpun sama. Kampanye serta provokasi untuk terus membenci PKI digayungkan bahkan dengan niatan agar generasi muda saat ini yang tidak mengenal apa itu PKI pun ikut membenci.

Belum lagi provokasi kebencian antar madzhab yang sedang terus berlangsung, setiap kelompok memperbesar kebenciannya kepada kelompok lain hanya karena perbedaan madzhab. Juga provokasi kebencian dengan skema menggoyang sentimen status sosial, sentimen aliran hingga sentimen kedaerahan. Bahkan provokasi kebencian terhadap pemerintah maupun kebencian terhadap oposisi pemerintah juga mudah sekali ditemukan.

Provokasi-provokasi seperti ini terus menerus ditayangkan dan ditulis ulang baik di sosial media maupun situs media baik besar maupun situs entah berantah.

Kapankah Indonesia bisa menjadi maju bila semua sajian informasinya hanya seputaran provokasi kebencian, kapankah Indonesia bisa memiliki masyarakat yang berpikir positif bila semua sajian informasinya hanya seputaran emosi dan memantik energi negatif? Mau dibawa kemana Indonesia ini?

Apakah itu artinya tidak ada informasi positif di dunia sosial media, blog, web maupun media lainnya? Tidak juga, ada banyak informasi positif didalamnya. Namun sungguh disayangkan, karena porsi informasi negatif masih jauh lebih banyak beredar dibandingkan informasi positif. Informasi negatif bisa menjadi persepsi yang menuntun perilaku pembacanya hingga akan merasa dunianya memang benar-benar negatif.

Bila hal ini terus menerus menjadi makanan otak banyak orang, bukan tidak mungkin banyak orang akan berubah perlahan menjadi orang yang selalu negatif terhadap orang lain, skeptis, tidak mau mikir panjang dan anti perubahan. Mari kita lawan. Kita harus mau maju, kita harus bisa berpikir positif, sistematis dan bersedia untuk mengubah diri menjadi lebih baik lagi.

Tidak perlu menambah beban pikiran negatif dalam pikiran kita bahwa semua ini ada penggeraknya, cukup jadikan sebagai kewaspadaan saja. Mulai dari diri sendiri masing-masing untuk menerapkan penyaring yang lebih ketat dalam berpikir, menghindari bacaan yang memantik emosi, hilangkan kebencian atas dasar apapun. Biarkan para provokator itu terus mengkampanyekan pesan negatif mereka, tidak usah lagi dipedulikan. Lakukan saja kebaikan meskipun sedikit di mulai dari diri sendiri, berhenti juga menjadi agen penyebar informasi negatif.

Capek loh mikir jelek terus…

Salam Kreatif

6 thoughts on “Capek nggak sih mikir jelek terus?”

  1. “Berpikir negatif membutuhkan 3 kali lipat tenaga yang lebih dari pada berpikir positif”

    Tapi, apa daya jika media dan orang-orang sekeliling kita seperti itu, bahkan diteruskan kepada anak-anak mereka. Dari diri sendiri dulu dan diiringi dengan niat yang kuat.

    Salam kenal dari saya 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *