Cover Majalah Tempo Tentang Ahok dalam Pandangan Sesama Jurnalis

Cover Majalah Tempo Tentang Ahok dalam Pandangan Sesama Jurnalis

Saya memiliki seorang teman jurnalis yang saya tahu sampai saat ini masih sangat kuat memegang prinsip jurnalisme. Selama mengetahuinya secara singkat, saya dapat memahami bahwa teman ini selalu berpegang pada prinsip akal sehat dan fakta di lapangan. Melaluinya pula, saya jadi paham kejadian apa yang sedang dibangun oleh Tempo di belakang layar. Dan saya kutipkan tulisan-tulisannya dari fesbuk. Selamat membangun analisa.

—-||—-

19 juni 2016, 16.22 wib

Wah, ini seolah-olah sudah menjadi fakta bhw ada duit reklamasi untuk teman-teman Ahok. Bukannya KPK masih menelusuri dugaan ini?

Cover Tempo Juni 20-26

Tiga pertanyaan:

1/ Apakah dugaan itu sebegitu kuat sehingga pantas mendapat gambar cover majalah se-dramatis ini?;
2/ Kenapa kata “dugaan” tidak di-bold seperti tulisan diatasnya yg sudah cenderung menuduh?;
3/ Apakah ada komitmen utk memberikan koreksi di halaman cover kalau ternyata dugaannya salah?

Belum lama ini cover majalah Tempo tidak akurat (kontradiksi dgn tulisan di dalamnya) dan pihak yg dirugikan hanya diberi hak utk klarifikasi di bagian dalam.

ahok-vs-tempo

 

21 juni 2016, 07.10 wib

Soal cover majalah Tempo

Tahun lalu, ada teman dari media daerah yang mengkritik tulisan saya terkait keakuratan fakta di halaman facebooknya.

Saya check, ternyata dia benar. Response saya simple: saya kasih ‘like’ dan mengucapkan terimakasih atas koreksi dan masukannya. Setelah itu saya lapor ke atasan.

Beberapa hari lalu saya melakukan hal serupa, mengkritik keakuratan fakta, kepada majalah Tempo di halan facebook saya. Tanggapannya gak seperti dugaan, timbul sindir-menyindir di luar topik, tidak terjadi diskusi yang sehat mengenai poin-poin yang saya kemukakan soal masalah keakuratan judul cover page majalah Tempo.

Satu pelajaran yang saya ambil dari pengalaman ini. Belum tentu orang yg sehari-harinya berfikir kritis — melakukan tugas mulia kontrol sosial seperti banyak media-media di Indonesia, termasuk Tempo — siap dikritik atau siap menjadi target kritikan.

Dalam tanggapan dari temen-temen Tempo, saya dipertanyakan apakah saya sudah berganti profesi menjadi PR/konsultan media, dalam arti saya mewakili minimal seorang klien dan penghasilan saya adalah fees dari klien itu.

Gampang aja sih check nya. Saya punya rekening bank di Mandiri dan BCA, selama ini pemasukan utama saya adalah gaji sebagai wartawan, fees sebagai pembicara dalam sharing session di beberapa media cetak dan online. Temen-temen Tempo bisa check kebenaran ini, mungkin dgn sumbernya di PPATK kalo emang perlu? (Hehe… Tempo pasti punya banyak kerjaan lain yg lebih bermakna).

Ya betul, walaupun gak punya klien, kadang saya memang melakukan fungsi-fungsi kerja layaknya PR (sebelum dituduh macem-macem mending ngaku sekarang). Baru-baru aja saya ngumpulin lebih dari 25 wartawan, bantuin pihak humas Mabes TNI untuk kenal dgn temen-temen dan bantu memperlancar jalur komunikasi dua arah. Saya gak mendapatkan fees, atau manfaat material lainnya.

Niat saya untuk bantu temen-temen wartawan dan bantu pihak humas Mabes TNI. Toh, sekali-sekali saya juga perlu minta bantuan humas di Mabes TNI, minta nomor kontak, minta komentar, dll. Saya juga lakukan hal serupa untuk humas di kementerian KKP. Dan juga gak ada imbalan atau manfaat material utk saya, kecuali hubungan baik dgn mereka.

Juga untuk Kemenkopolhukam. Saya pernah mengenalkan salah satu narasumber saya seorang peneliti asal Banten yg saya pikir jago banget ke Kemenkopolhukam. Dia diminta presentasi di hadapan Menkopolhukam sekitar 1/2 jam, setelah itu dipekerjakan sebagai peneliti di sana utk bantu kasih input dalam bidang keahliannya.

Saya juga pernah mengenalkan kepada pihak di kemenkopolhukam beberapa wartawan teman saya, ekonom, dll, tapi tidak dengan maksud apa-apa selain sekedar usaha membantu pekerjaan temen-temen di kemenkopolhukam seperti sekali-sekali mereka membantu pekerjaan saya, misalnya saat saya perlu komentar atau informasi dari mereka.

Sekali lagi tolong diingat saya tidak dapat imbalan atau manfaat material. Ini saya lakukan sebagai strategi saya menjangkau narasumber. (Besok-besok kalo saya telpon atau SMS, mereka jawab. Walaupun kadang-kadang juga telpon tetep di-reject, atau SMS gak dijawab. Mudah2an karena lagi rapat.).

Gitulah ceritanya. Tulisan ini utk nanggapin temen-temen Tempo yg mempertanyakan motif saya mengkritik halaman muka majalah Tempo edisi minggu ini. Abis ini saya akan biarin temen-temen nanggapinnya gimana, atau mudah-mudahan ini gak ditanggapin lagi lah (kalo tetep ditanggapin sebisa mungkin saya akan nahan diri utk gak jawab. Abis juga waktu maen-maen facebook kek gini terus). Peace…

Tempo Heat

30 juni 2016, 10.42 wib

Masih Soal Tempo, Ahok

Mas Wahyu Dhyatmika, mohon pertanyaan saya jangan dimentahin, di-rephrase sedemikian rupa, dan digeneralisir.

Coba baca lagi. Pertanyaan saya sebenernya cukup detailed dan ringkas.

Yang saya tanya adalah kenapa yg muncul gambar Ahok di cover Tempo, padahal Tempo dalam artikel berita di dalam gak punya bukti Ahok terima uang. Ini yang menggelitik.

Terus Mas Wahyu menjelaskan tapi tidak menjawab: “Desain, gambar, lukisan, simbol, seperti sampul Tempo ini adalah wilayah seni yang amat subyektif.”

Saya ulangi di sini persisnya pertanyaan saya dalam posting sebelumnya: “Yang diduga terima uang kan teman-teman Ahok, bukan Ahok. Mengapa yang jadi focus sentral (cover Tempo) gambar Ahok?”

Terus, soal hubungan anak dan induk perusahaan, Mas Wahyu punya pemahaman yang salah secara mendasar, yang akhirnya mengkonfirmasi keraguan saya terhadap akurasi cover majalah Tempo terdahulu, soal Panama Papers.

Anak perusahaan tidak mengontrol induk perusahaan atau pemegang sahamnya, tapi sebaliknya induk perusahaan mengontrol anak perusahaan.

Pemahaman mas yang keliru inilah yg ternyata mendasari cover majalah Tempo yang misleading waktu itu.

Tolong lihat lampiran foto dibawah, screenshot pernyataan Mas Wahyu. Ini salah dan melawan logika mas.

Saya coba jelaskan. Contoh sederhananya gini. Kalau anak perusahaan bermasalah, memang benar pemegang saham atau induk perusahaan dapat dimintai tanggung jawab. Tapi tidak sebaliknya.

Kalau induk perusahaan bermasalah, anak perusahaan tidak bisa dimintai tanggung jawab. Karena anak perusahaan tidak mengontrol induk perusahaan.

Mas, awalnya saya mengkritisi cover Tempo, lalu saya langsung dihadapi 2 wartawan Tempo cukup senior (salah satunya menjabat redaktur pelaksana) yang menyerang pribadi saya dan gak pernah membahas kritik saya. Ok, ini udah settled. Permintaan maaf diterima.

Tapi sekarang giliran Mas Wahyu. Kritik saya sudah dibahas, diskusi berkembang, dan saya mendapat posting yg panjang berseri, dengan runtutan kata-kata yg luwes dan berirama yang orang jadi terbuai dan lengah bhw Mas Wahyu tidak memberikan penjelasan yg mengacu pada akar permasalahan. Kalaupun mengacu, jawabannya cenderung sekenanya aja dan lebih gak enaknya lagi, Mas Wahyu memperkenalkan pemahaman yg salah.

Dengan pertimbangan ini, saya ingin menggunakan hak saya untuk memilih stop diskusi soal ini. Silahkan masukan saya dipertimbangkan, hanya kalau memang berkenan. Salam…

—-||—

Semua komentar ada di dalam postingnya asli. Silahkan kunjungi sumber tulisan.

Sumber disini.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.