Membangun Kontrol Diri

Membangun Determinasi Diri dan Menjaganya

Banyak sukarelawan, dengan biaya sendiri mau pergi ke daerah bencana, basah kuyup tanpa dibayar mau berupaya menolong orang, tidur di tenda, makan seadanya, kena penyakit kulit, sanitasi yang jelek, bekerja terus, selama dua minggu. Ketika berhasil menolong orang, berbahagia sekali, walaupun kerjanya luar biasa keras dan tidak dibayar sama sekali. Sebuah determinasi diri yang patut diacungi jempol.

Mereka tidak membutuhkan motivator untuk mengguncangkan semangat dan berteriak teriak menggebukan dada. Determinasi diri dalam diri mereka yang memang memiliki “sumber motivasi” dari dalam dirinya sendiri. Intrinsic Motivation, atau motivasi dari dalam, memiliki kekuatan besar dalam membuat orang mau bekerja lebih keras, bahkan tanpa perlu adanya insentif.

Faktor luar, “Extrinsic Motivation”, seperti bonus dan insentif, semangat menggebu gebu berteriak, bahkan senam pagi sekantor bersama, tepuk tangan ala sukses baru, high five, tentu berguna juga mengangkat semangat kita dalam bekerja, tetapi bukan untuk menjadi “motor” penggerak motivasi yang sebenarnya.

Ada 3 Intrinsic Motivation yang kuat: Pertama adalah Choice and Authonomy, Pilihan dan Kebebasan. Ketika kita memilih sendiri, kita bertendensi untuk bertanggung jawab dan mengerjakan menyelesaikannya sebaik mungkin. Ketika seorang anak memilih menjadi dokter, dia akan lebih mau bekerja keras mencapai cita cita daripada “yang disuruhkan orang tuanya”.

Kebebasan memilih anak buah, memilih proyek, memilih daerah relokasi kerja, merupakan salah satu bentuk insentif untuk anak buah mau bekerja lebih keras dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kebebasan tentu masih dalam koridor tata kerja yang bertanggung jawab.

Kedua adalah Competence, atau Kemampuan. Semakin mampu seseorang melakukan pekerjaannya semakin mau dia bekerja keras. Bandingkan ada 2 karyawan, satu sangat mampu mengerjakan tugasnya, satu kurang mampu, mana yang lebih bersemangat bekerja? Dengan gaji yang sama (orang yang mampu) mau bekerja jauh lebih keras dari pada orang yang kurang bisa.

Mengapa training and coaching, pelatihan dan pendampingan, menjadi kunci sukses perusahaan besar dan maju? Karena karyawan yang “bisa” selalu mau bekerja lembur, bekerja super keras, dan memikirkan pekerjaannya terus menerus, tanpa membutuhkan insentif ataupun motivasi lain dari luar.

Ketiga adalah Relatedness atau Meaning, Keterikatan atau Makna hidup. Keterikatan emosi kita dengan sebuah daerah, kebiasaan, atau keadaan: misalkan artis yang terkena Aids, mau mati-matian bekerja dan mendonasikan semua jernih payahnya untuk pengembangan penyembuhan Aids. Relatedness juga termasuk hoby, kebiasaan, kesukaan akan bidang usaha. Kerja keras menolong ke daerah bencana juga termasuk dalam motivasi pencarian Makna hidup sebagai sesama manusia yang menolong orang lain.

Kalau kita bisa memberikan makna pada pekerjaan kita: Membuat tukang batu sadar dan meyakini bahwa kerjanya adalah membangun Masjid Suci/ Kathedral termegah/ Kuil terhebat, akan membuat tukang batu itu melakukan dengan lebih semangat dan berkerja lebih baik. Ingatan bahwa kita bekerja untuk mensukseskan anak kita, negara kita, akan membuat kita mau bekerja keras dan berkurban untuk itu. Intrisic motivation ketiga ini mempunyai kekuatan terbesar dalam membuat orang mau bekerja dengan lebih keras lebih baik.

Motivasi telah menjadi kata yang umum dan bisnis yang besar, pemahaman ini masih saja jarang dikenal orang, dan jarang di manfaatkan dalam mengembangkan dan menguatkan team kerja kita. Selamat mengembangkan determinasi diri masing-masing.

Salam sukses untuk anda.

1 thought on “Membangun Determinasi Diri dan Menjaganya”

  1. Ping-balik: Ciri Pemimpin Sukses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *