Hari Musik Nasional

Mungkin terlambat dua hari, dimana Hari Musik Nasional harusnya diperingati tanggal 10 maret kemarin. Sebuah peringatan yang jujur saja, saya baru tahu sekarang. Saya baru tahu bahwa ada yang namanya Hari Musik Nasional. Aneh bin ajaib, karena saya pelaku musik bahkan termasuk pelaku industri di musik. Lebih ajaib lagi, ada yang mengatakan bahwa peringatan ini sudah 10 tahun. Apa saya yang salah yah, kurang info dan kurang gaul? Bisa jadi.

Sedikit skeptis, dalam hati bertanya-tanya “Apakah adanya hari musik ini dikarenakan Presidennya suka Nyanyi?” atau “jangan-jangan tanggal 10 maret adalah tanggal dimana SBY merilis Album pertamanya?”. Masih bergelayut pertanyaan itu, namun saya tidak mau lebih jauh melakukan riset tentang adanya Hari Musik, karena bagi saya everyday is music day. Saya tidak pernah bisa bekerja bila tidak memasang earphone atau headphone untuk mendengarkan Extreme, Queen, Pink, BIP dan banyak lagi. Saya butuh kebisingan untuk bisa masuk dalam kesunyian.

Kembali ke Hari Musik Nasional, apapun itu, saya mengapresiasinya. Setidaknya masih diberi perhatian dengan adanya Hari khusus bagi pelaku seni musik seIndonesia. Meski pemerintah mengeluarkan pernyataan yang berhubungan dengan hari musik nasional ini, terkesan basa basi. Kenyataannya, Pemerintah Indonesia masih jauh dari penghormatan terhadap pelaku seni musik. Terlihat hingga saat ini, Pemerintah Indonesia lebih sibuk memikirkan “keselamatan” pribadi dibandingkan dengan kondisi faktual, apa saja kiranya yang perlu diperbaiki.

Musik itu identitas, musik itu pewarna hari, musik itu cermin dan banyak lagi. Mari bayangkan, apa yang akan terjadi bila dunia ini tanpa musik?. Percaya atau tidak, bila industri musiknya maju rata-rata negaranya ikut maju. Kenapa bisa begitu? Karena musik bisa menyumbangkan pendapatan yang sangat besar. Musik adalah salah satu penyumbang pajak terbesar di sebuah Negara. So, jika Negara bisa membuat system yang bagus dan menekan pembajakan seminim mungkin, dipastikan Negara pun akan ikut mendulang keuntungan yang besar. Yang sulit adalah, pada kenyataannya Pemerintah seperti lebih menyukai pembajak. Mungkin karena pembajak bisa langsung kasih “angpau” ke kantong pejabatnya.

Indonesia memiliki ratusan jenis musik, dari mulai musik daerah ujung Merauke hingga daerah ujung Sabang. Belum lagi musik dengan influence dari Barat yang berhasil dikemas oleh musisi-musisi Indonesia dengan baik. Namun hingga kini, penghormatan dan penghargaan yang didapatkan oleh pelaku musiknya belumlah layak. Semua ini terlihat disuruh jalan sendiri. Pemerintah sebagai orangtua, terkesan masih belum menganggap bahwa musik dan pelakunya adalah salah satu anaknya. Para pelaku musik pada akhirnya harus mencari solusi sendiri untuk menghindari pembajakan, kerugian dan pencurian karya mereka.

Kabar baiknya adalah telah (dan akan) bermunculan solusi-solusi untuk mengakomodir karya para pemusik. Dari mulai Crowdfunding System hingga Digital Label kemudian Komunitas Musisi bahkan publishingnya. Saya berharap semoga solusi-solusi ini terus berkembang, demi kemajuan musik negeri ini bahkan bidang yang lainnya.

Salam Kreatif.

Twit saya tentang Hari Musik Nasional http://chirpstory.com/li/59536

Twit saya tentang Crowdfunding http://chirpstory.com/li/59537

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.