HTI, Kampus Negeri, Paradoks dan Fenomena Benalu

HTI, Kampus Negeri, Paradoks dan Fenomena Benalu

Hizb ut-Tahrir (Arab: حزب التحرير‎ Ḥizb at-Taḥrīr; Party of Liberation) adalah organisasi politik pan-Islamis, yang menganggap “ideologinya sebagai ideologi Islam”, yang tujuannya membentuk “Khilafah Islam” atau negara Islam. Kekhalifahan baru akan menyatukan komunitas Muslim (Ummah) dalam negara Islam kesatuan (bukan federal) dari negara-negara mayoritas Muslim. Mulai dari Maroko di Afrika Barat ke Filipina selatan di Asia Timur.

Semua negara yang memiliki penduduk mayoritas pemeluk islam akan menjadi tempat pertama yang (diusulkan) menjadi negara Islam yang bertumpu pada hukum Syariah Islam untuk kemudian disebarkan melalui jargon “Dakwah Islam” ke negara lain di seluruh dunia. Sampai pertengahan 2015 organisasi ini dilarang di Jerman, Rusia, Cina, Mesir, Turki, dan semua negara Arab kecuali Lebanon, Yaman dan UAE.

Organisasi Hizbut Tahrir ini terlibat dalam “politik kebencian” dan intoleransi yang memberikan pembenaran ideologis untuk kekerasan; memanggil pelaku bom bunuh diri sebagai “martir”, menuduh negara-negara barat melancarkan perang terhadap Islam dan Muslim, dan menyerukan penghancuran umat Hindu di Kashmir, orang Rusia di Chechnya, menyerang non muslim di Indonesia secara verbal dan orang Yahudi di Israel; sampai “negara Islam” telah didirikan. [Wikipedia]

Di Indonesia, Hizbut Tahrir menambahkan kata Indonesia (HTI) sebagai nama pergerakan untuk memulai pendirian khilafah islam. HTI masuk ke Indonesia pada 1983 oleh Abdurrahman al-Baghdadi, seorang mubaligh sekaligus aktivis Hizbut Tahrir yang berbasis di Australia. Ia memulainya dengan mengajarkan pemahamannya ke beberapa kampus di Indonesia hingga menjadi salah satu gerakan. [Tirto.id]

Kampus Negeri & Radikalisme HTI

Kader – kader HTI di Indonesia terkenal sebagai orang – orang dengan intelektual tinggi, dan rata – rata dari kampus atau basis latar belakang bidang ilmu pasti (eksakta), hingga tidaklah mengejutkan bila Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melansir ada tujuh kampus negeri di Indonesia yang menjadi pusat perekrutan kader HTI dan radikalisme.

  •  Universitas Indonesia (UI),
  • Institut Teknologi Bandung (ITB),
  • Institut Pertanian Bogor (IPB),
  • Universitas Diponegoro (Undip),
  • Insitut Teknologi Surabaya (ITS),
  • Universitas Airlangga (Unair), dan
  • Universitas Brawijaya (UB).

Hingga sekarang masih belum ditemukan hubungan yang pasti mengapa orang – orang dengan bidang ilmu pasti lebih mudah terpapar paham radikalisme dan atau ikut menjadi kader HTI. Ada yang menyimpulkan karena mereka orang – orang yang kurang sosial, ada pula yang menyimpulkan karena kurang piknik, semua bisa jadi benar dan bisa juga tidak. Salah satu ciri khas dari kader HTI yaitu selalu menyebut pemerintah sebagai Thogut.

Dan video dibawah ini menjadi bukti bahwa apa yang menjadi tengarai dari BNPT itu benar, bahwa sudah banyak kampus negeri ternama yang menjadi sarang radikalisme dan penggugat pancasila atas nama dakwah islam serta khilafah. Ini sungguh miris. Pemikiran radikal yang dibawa oleh Hizbut Tahrir sudah menjangkit kalangan akademisi hingga profesional di berbagai bidang. Bahkan banyak sekali paparan radikalisme di karyawan BUMN.

Paradoks HTI dan Benalu

Yang menjadi keanehan dari perilaku kader HTI adalah, banyak dari mereka yang hidup oleh fasilitas negara. Pegawai negeri, karyawan BUMN hingga mahasiswa – mahasiswi kampus negeri yang notabene masih mendapatkan subsidi dari pemerintah, yang selalu mereka sebut thogut.

HTI maupun kelompok radikal lain dan begitu juga Partai Keadilan Sosial (PKS) memiliki kesamaan dalam hal ini, yaitu menganggap bahwa mereka bekerja didalam pemerintahan itu sebagai politik rampasan perang, daripada dikuasai oleh orang-orang kafir (kafir = yang tidak sepakat dengan mereka). Itulah mengapa mereka ini banyak didalam pemerintahan maupun badan pemerintah dan tidak mau keluar, meskipun mereka sudah menganggap pemerintah sebagai haram.

Kader HTI dimanapun berada, memiliki cara pikir bahwa kondisi atau situasi mereka sedang dalam berperang terus menerus. Bahkan jargon yang menakut-nakuti terus menerus ditanamkan kedalam kepala para kader HTI seperti bahwa islam sedang dimusuhi, ulama dikriminalisasi dan sejenisnya. Sehingga mereka secara militan terus menyerang pemerintah, tidak percaya dengan sistem sosial, dan menihilkan suara dari kelompok lain. Itulah mengapa HTI sering juga disebut sebagai kelompok pemilik kebenaran, karena diluar mereka tidak ada yang benar.

HTI benar-benar menjadi benalu didalam negeri Indonesia ini, mereka hidup di dalam negara Indonesia namun perlahan diam-diam berusaha meruntuhkannya, Pancasila sebagai dasar negara akan diganti oleh Syariah Islam dan Sistem Khilafah.

Alhamdulillah pemerintah sudah berhasil membubarkannya. Sehingga semua kegiatan HTI dengan segala judul temanya bisa dilaporkan ke aparat setempat dari RT hingga kepolisian. Karena sebagai organisasi terlarang tentu saja kegiatannya pun tidak boleh ada lagi.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.