Ulas Buku

Jangan Percaya Situs Berita Tanpa Redaksi yang Jelas!

Meningkatnya perkembangan teknologi terutama teknologi Internet, telah memudahkan banyak orang menangkap berita-berita yang bertebaran di internet. Dengan berbagai macam berita dari mulai berita politik, hukum, selebritis hingga agama. Semua berita bisa dengan mudahnya ditemukan kemudian dibagikan. Tanpa melihat isi beritanya lebih detail.

Mungkinkah karena kita terbiasa dicekokin dengan makanan-makanan instan hingga berpikir pun ketularan instan? Tidak lagi ada daya kritis untuk membaca terlebih dulu berita tersebut dengan menerapkannya sesuai logika berpikir, kondisi lapangan, berita pembanding, dan seterusnya. Lebih parahnya lagi, banyak yang langsung memakan berita tanpa memasaknya lebih dulu. Iya kalau itu tidak beracun, kalau beracun? Bisa mati pelan-pelan.

Kembali ke perkembangan media berita melalui online yang begitu marak. Banyak dan sangat banyak. Ada yang bertujuan mencari ceruk bisnis baru, ada pula yang bertujuan membentuk komunitas, ada yang memang karena kesukaannya menulis hingga ada yang beralasan bisnis termurah saat ini adalah melalui Online. Perlahan, bermunculan juga situs berita yang berbau propaganda. Bahkan ada yang membuat situs media propaganda dengan kemasan dakwah. Itu tidak hanya satu agama, beberapa agama saya amati membuat hal yang sama.

Memang penting untuk menyebarkan berita-berita apakah itu berita baik maupun buruk. Namun sayangnya kaidah jurnalistik sering kali ditabrak karena kebanyakan dari mereka tidak tahu tentang jurnalistik, bahkan banyak situs berita besar yang mulai melupakan jurnalistik hanya dengan alasan bahwa ini adalah berita online dan dibutuhkan kecepatan untuk mengejar traffic. Jadi? Ujung-ujungnya bisnis yang dikejar, persoalan itu berita bisa merusak pikiran pembacanya atau tidak, itu urusan belakang.

Kaidah jurnalistik dalam Informasi yang dikumpulkan dalam sebuah tulisan berita harus menjawab pertanyaan yang biasa disebut dengan lima W dan satu H: who (siapa), what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). Berita harus bisa melibatkan 6 poin tersebut, hukumnya wajib untuk menyertakan serta menerangkan ke 6 poin tersebut tanpa menghilangkan salah satunya.

Kaidah di atas sudah banyak diperkosa oleh pemilik situs-situs berita online, dengan berbagai alasan. Mulai dari Traffic atau bisnis, propaganda kepentingan hingga hawa nafsu semata. Melihat begitu mudahnya berita-berita yang bertebaran tanpa menyertakan kode etik, apa yang harus kita lakukan? Ada dua hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk memperkuat “rasa percaya” atas situs berita online tersebut.

1. Periksa Susunan Redaksi

Periksa dengan cermat dari situs berita tersebut, apakah menyertakan satu halaman yang berisi susunan redaksi? Bila tidak ada, hendaknya kita tidak serta merta mempercayai berita dari situs tersebut apalagi bila hanya berdasar dengan alasan bahwa berita itu “sesuai pikiran kita atau sesuai kata orang” semata.

Mengapa susunan Redaksi menjadi patokan? Karena dengan keberadaan nama-nama dalam susunan tersebut, secara langsung ada yang bertanggung jawab terhadap keberadaan berita-berita dalam situs berita tersebut. Dan semua berita adalah tanggung jawab mereka atas benar atau tidaknya.

Kalau disangkutpautkan dengan agama, bila berita tersebut tidak benar menurut Tuhan maka yang masuk Neraka adalah nama-nama yang ada dalam susunan redaksi tersebut :D.

2. Alamat Kantor Berita

Cari dan temukan alamat kantor dari situs media online tersebut di situsnya. Pastikan bahwa situs tersebut memiliki tempat yang bisa ditemukan dan didatangi. Karena dengan begitu, situs berita ini tidak terbukti bagian dari “Lempar batu sembunyi tangan”. Kalau dalam dunia nyata, biasa sebagai tukang fitnah.

Mengapa harus ada alamat kantor? Agar pembaca bisa dengan mudah melakukan Tabayyun / Cross Check dan ketemu dengan pemilik atau penanggung jawab berita. Dan juga sebagai bukti bagi pemilik medianya bahwa keberadaan kantor beritanya tidak fiktif atau tipu-tipu.

Salam Kreatif

*Paling tidak dua hal di atas bisa diberlakukan untuk situs yang berujung pada pemberitaan atau jurnalisme. Untuk situs-situs dengan metode self content seperti Wikipedia, tidak bisa diberlakukan. Karena semua isi yang ada di wikipedia dimasukkan oleh pihak luar wikipedia dan setiap orang bisa melakukan koreksi atas tulisan yang ada.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *