Kampanye Negatif dari Oposisi? Cuekin Saja!

Kampanye Negatif dari Oposisi? Cuekin Saja!

Pemerintah saat ini, dengan representasi Presiden Joko Widodo, sedang berusaha keras membangun Indonesia melalui peningkatan infrastruktur serta pembangunan ekonomi kreatif dan pemerataan hak demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebuah usaha yang patut untuk didukung sepenuh hati agar Pemerintah tetap dalam koridor pembangunan yang baik. Ini sebagai bentuk kewajiban warga negara, kewajiban bagi saya, Anda dan kalian semua yang tinggal dan hidup disini, di Indonesia.

Kampanye Negatif dari Oposisi? Cuekin Saja!

Namun kampanye negatif dari Oposisi Pemerintah saat ini terus menerus mengganggu kinerja Pemerintah. Bila ada kekurangan, maka Pemerintah wajib dikritik dan menerimanya. Kritik loh ya, bukan hinaan atau caci maki maupun fitnah demi menyerang pemerintah yang sah. Dan saat ini, kritikan yang diharapkan boleh dikatakan hampir-hampir tidak ada. Bagaimana mungkin sebuah hinaan, caci maki maupun fitnah itu dianggap kritik? Karena kritik tentunya disertai solusi, tidak sekedar bisa merasa menunjukkan letak dimana kesalahannya kemudian disertai kata Dungu.

Gelombang kampanye negatif dari pihak oposisi pemerintah saat ini sangatlah masif, yang memang sengaja didistribusikan untuk mengganggu kinerja pemerintah Indonesia saat ini. Oposisi pemerintah berhasil menciptakan orkestra kampanye negatif di dunia maya hingga (seakan) tampak nyata, meski tidak terbukti sama sekali di lapangan. Sayangnya, bahkan ironis, orkestrasi kampanye negatif ini diamini dan ikut disebarkan oleh para pendukung pemerintah baik sengaja ataupun tidak. Yaitu dengan ikut membagikan semua materi kampanye negatif dari oposisi.

Belajar dari kekalahan Ahok pada Pilkada DKI beberapa tahun yang lalu, sebaiknya para pendukung Pemerintah saat ini mulai menerapkan ketidakpedulian atas semua kampanye negatif dari oposisi. Kenapa begitu? Karena kampanye negatif yang mereka susun memang dibangun untuk mengalihkan fokus para pendukung pemerintah dalam mengawal pembangunan serta mensosialisasikan keberhasilan pembangunan pemerintah saat ini.

Waktu Pilkada DKI, kampanye negatif dikeluarkan dengan masif hingga para pendukungnya langsung gagap dan sibuk menanggapi semua kampanye tersebut. Ornamen pendukung yang harusnya kreatif membangun kampanye langsung ke masyarakat bawah pun langsung kehilangan fokus, termasuk tim kampanye dari Ahok. Hingga akhirnya terpaksa dilaksanakan putaran kedua dan Ahok pun kalah.

Maka sudah waktunya untuk tidak peduli dengan berbagai konten kampanye negatif yang ditujukan pemerintah. Sudah waktunya tidak peduli dengan sosok seperti Amien Rais, Fadli Zon dan Fahri Hamzah serta makhluk sejenisnya. Fokus saja mengawal serta mensosialisasikan keberhasilan pemerintah agar semua orang tahu, jangan pedulikan konten negatif dari oposisi apapun isinya. Setidaknya ada 5 isu utama yang tidak perlu lagi ditanggapi:

1. Pemerintah anti islam & anti ulama

Kampanye ini terus didengungkan untuk mendegradasi kapasitas Jokowi sebagai Presiden didepan masyarakat muslim yang pengetahuan politik dan agamanya sangat sedikit atau baru terbuka saat-saat sekarang ini. Padahal kenyataannya, Pemerintah memiliki departemen Agama yang dipimpin oleh seorang Menteri Agama yang soleh dan baik, kemudian berhasil menggandeng organisasi NU untuk kemaslahatan umat dan tidak pernah melarang umat islam dalam apapun ibadahnya.

Apakah kyai-kyai NU itu bukan ulama dan bukan islam? Tentu saja ulama dan islam. Namun sengaja terus digaungkan oleh oposisi bahwa pemerintah anti islam dan anti ulama, dengan alasan karena sikap diskriminatif terhadap ulama-ulama boneka dukungan oposisi. Silahkan baca referensi yang bagus dari Islami.co tentang Pemerintah dan Islam.

Jadi isu ini sudah terbantahkan dengan sendirinya dilapangan, maka kita tak perlu repot menanggapi hingga hilang fokus akan membangun kemajuan Indonesia. 

2. Pemerintah tukang hutang

Soal pemerintah yang selalu dikatakan tukang hutang, sudah dijawab berkali-kali oleh pemerintah dengan berbagai data yang valid, maka sebaiknya kita tidak fokus dalam menyanggah para oposan tentang hutang piutang ini, fokus saja membantu pemerintah agar tetap membangun dengan bahagia :D. Bila masih ada yang merajuk dan merujuk tentang pemerintah tukang hutang, suruh saja mereka cari sendiri referensi bantahan dari pemerintah. Toh pada dasarnya mereka tidak sedang mengkritik, namun hanya cari celah kesalahan semata. Silahkan baca referensi bagus dari situs kementerian keuangan.

Jadi isu ini sudah terbantahkan dengan sendirinya dilapangan, maka kita tak perlu repot menanggapi hingga hilang fokus akan membangun kemajuan Indonesia. 

3. Pemerintah hanya pencitraan

Setiap pemerintahan, setiap politisi, setiap pemimpin bahkan perusahaan butuh pencitraan. Pencitraan ini sifatnya untuk menunjukkan seberapa jauh kinerja yang sudah dilakukan. Dan ini tentu sangat dibutuhkan oleh masyarakat agar paham bahwa pemerintah saat ini telah dan terus bekerja sesuai amanah cita-cita bangsa. Seperti membangun infrastruktur jalan raya diberbagai propinsi seperti Trans Maluku, Trans Papua, Trans Sumatera dan Trans Sulawesi. Bisa dibaca di situs PUPR.

Jadi isu ini sudah terbantahkan dengan sendirinya dilapangan, maka kita tak perlu repot menanggapi hingga hilang fokus akan membangun kemajuan Indonesia. 

4. Pemerintah anti kritik

Dibeberapa kesempatan dalam sosial media, mudah ditemui tentang pemerintah yang anti kritik. Dikarenakan memperkarakan beberapa orang yang sering dianggap mengkritik pemerintah, sementara yang sebenarnya dilakukan oleh orang-orang ini bukanlah mengkritik namun menghina. Harus dipahami bahwa Presiden adalah simbol negara, simbol yang harus dijaga dan dihormati. Bila orang yang tidak mendukungnya kemudian seenaknya saja diperbolehkan menghina dan mencaci makinya, maka akan jadi preseden yang buruk. Bagaimana masyarakat internasional bisa menghormati Presiden dan Negara Indonesia bila masyarakatnya sendiri tidak menghormatinya?

Sebagai masyarakat sosial yang bermartabat dan berpendidikan, maka tidak seharusnya mencampur-adukkan antara kritikan dengan hinaan. Karena hinaan dan cacian sama sekali bukanlah kritik. Beda jauh, sejauh bumi dan rembulan.

Jadi isu ini sudah terbantahkan dengan sendirinya dilapangan, maka kita tak perlu repot menanggapi hingga hilang fokus akan membangun kemajuan Indonesia. 

5. Pemerintah didukung Asing & Aseng

Adakah pemerintah Indonesia sejak jaman dulu hingga sekarang yang tidak menerima investasi asing dalam membangun negeri ini? Tidak ada. Bahkan orde baru sangatlah terbuka dengan dukungan serta investasi asing dari Amerika dan sekutunya baik di eropa maupun asia.

Isu utama dari hal ini sebenarnya terletak pada mulai bergesernya hegemoni investasi asing dari Amerika dan sekutunya ke negara-negara lain seperti China dan Rusia. Yang berteriak anti asing (maksudnya anti china) karena sebenarnya mereka mendukung dominasi investasi dari Amerika dan sekutunya seperti Jepang dan Singapura.

Sementara tentang Aseng, selalu dimaksudkan adalah Para Taipan keturunan tionghoa yang berada di Indonesia. Ada yang dilupakan, para taipan atau konglomerat ini sudah menjadi konglomerat sejak jaman dulu. Bahkan sebelum Presiden Jokowi mulai berkiprah didalam dunia politik. Mereka sudah banyak beredar mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah sejak dahulu melalui undang-undang dan aturan-aturan presiden. Maka sangatlah salah bila keberadaan mereka ini dinisbatkan sebagai kesalahan pemerintah sekarang. Malah dijaman sekarang ini, banyak konglomerat yang terganjal karena aturan-aturan pemerintah sekarang, seperti pelarangan kapal-kapal penangkap ikan berbendera asing.

Jadi isu ini sudah terbantahkan dengan sendirinya dilapangan, maka kita tak perlu repot menanggapi hingga hilang fokus akan membangun kemajuan Indonesia. 

—-|

Sekali lagi, tak perlu lagi repot dan tidak perlu peduli dengan kampanye negatif yang dilemparkan oleh para pendukung oposisi dan timnya. Biarkan saja mereka melemparkan wacana apapun, dan pendukung pemerintah sebaiknya melemparkan sendiri wacana terbaiknya untuk terus mempromosikan keberhasilan pemerintah.

Itu yang saya lakukan, tidak pernah mengkomentari atau bahkan membagikan kampanye negatif yang dimunculkan oleh mereka di sosial media maupun di dunia nyata. Dan ini sama juga seperti saya memperlakukan ujaran kebencian dan fitnah yang beredar. Cuekin dan tidak peduli.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.