Karya Dalam Negeri Haruskah Mati?

Karya Dalam Negeri Haruskah Mati?

Beberapa waktu lalu dunia usaha dalam negeri geger dan kalang kabut mendengar kabar Dasep pencipta mobil listrik Indonesia dengan tuduhan korupsi pengadaannya. Kemudian Ricky Elson yang hasil karyanya tidak dihargai sama sekali di dalam negeri terutama oleh pemerintah, dan juga Pak Kusrin dan kasus-kasus lainnya yang berhasil mematikan karya asli anak negeri.

Baru-baru ini, saya terkejut. Mendengar berita produk Bebiluck, sebuah produk buatan rumah industri untuk makanan bayi dinyatakan mengandung bakteri jahat yang merugikan konsumennya. Berita tentang pembredelan produk asli dalam negeri sebenarnya sudah biasa saya dengar, meski dengan mengelus dada, namun biasanya saya tidak sesedih ini.

Saya sedih karena kejadian seperti ini masih saja berlangsung. Selain juga, karena saya kenal secara pribadi dengan pemilik produk Bebiluck tersebut. Teman yang baik, jujur dan punya sopan santun dalam berbisnis. Meski lama tidak berkabar, namun saya yakin keberhasilan bisnisnya tidak akan mengubah kepribadiannya.

Dan sinyal kematian UKM dan karya asli dalam negeri menjadi terasa keras berdentang dipikiran.

Semakin sadar terasa, bahwa industri besar masih banyak yang belum bisa menerima persaingan secara sehat dan kompetitif. Padahal merekalah yang selama ini berlagak dan mengajarkan siapapun untuk berkompetisi dengan baik.

Selalu Dipermasalahkan

Iya, hampir semua karya-karya anak bangsa yang hebat namun mengancam keberadaan pasar penguasa industri besar maka akan tertimpa masalah. Kasus Dasep, sudah sangat jelas sangat mengancam penguasa industri otomotif yang selama ini sudah berkuasa. Begitu juga dengan Ricky Elson.

Diluar cara pandang masyarakat Indonesia yang juga memang memiliki pandangan “merendahkan” pada setiap produk hasil karya anak bangsa maupun UKMnya. Oknum-oknum yang duduk dipemerintahan sudah terlanjur terbiasa nyaman menjadi antek pengusaha atau konglomerasi hitam. Inlander sekali!

Masalah yang dimunculkan bisa dari berbagai macam sudut. Para pemegang kuasa yang memang memiliki peraturan, memanfaatkan peraturan bukan untuk membina namun membinasakannya.

Kembali ke kasus BebiLuck, saya percaya bahwa Lutfiel Hakim tidak akan melanggar peraturan. Bila seandainya terjadi, saya yakin karena ketidaktahuannya. Dan ini seharusnya dijadikan dasar oleh pemerintah untuk membina, membimbing dan membesarkannya.

Ada puluhan orang menggantungkan hidup dari perusahaannya, bekerja keras ditengah kondisi ekonomi yang tidak menentu ini dan bisa mendapatkan pekerjaan bukan sebuah hal yang mudah. Ada berapa anak yang terancam kesulitan biaya hidup bila perusahaan ini harus dibredel dan ditutup.

Kenapa pula bila sebuah usaha dirintis menjadi perusahaan yang besar dari bawah dan bukan dari kalangan konglomerat harus dimatiin? Tidakkah Bapak Ibu pejabat memiliki nurani? Bila memang harus menegakkan hukum, tapi sertakan nurani. Karena ini asli Indonesia. Kalian seharusnya ikut bangga!.

Kenapa produk-produk bermanfaat asli Indonesia harus kalian matikan hanya menuruti kemauan pemodal besar? Dimana nurani kalian? Kalian seharusnya menjadi pintu pertama yang menggaungkan dan membesarkannya. Kalian seharusnya bangga!.

Di satu sisi, pemerintah menggaungkan untuk berkarya dan berkarya agar bisa jadi bangsa yang mandiri, disisi lain, bagian pemerintah juga yang ikut mematikan semua ini.

Tembakau (sudah) akan dimatikan.
Mobil listrik sudah tidak hidup.
Produk Bahan Alami pengganti BBM hilang tiada kabar.
Minyak Jarak ditekan perkembangannya.
Pengrajin TV sudah tak berani lagi produksi.
Sekarang Makanan Bayi sedang digorok.
Minggu depan apalagi Tuan?
Tahun depan siapa lagi Tuan?

Saya pun bersiap-siap sebelum kalian kirim karyaku ke kuburan.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.