Kika Syafii

Terus Merasa Bodoh dan Menolak Tua

Kebencian Sudah Meracuni Dunia Anak-anak, Intimidasi Menimpa Anakku

Update:

Pengirim suratnya sudah ditemukan, bukan teman sekolah namun teman main di komplek. Sempat dibalas sama anakku dengan tulisan, “S****, aku tidak seperti yang kamu pikirkan”. Dan tak berapa lama, anakku mendapat jawaban yang lebih sadis lagi. Kalimat umpatan binatang berkaki empat.

Anak saya pun berhenti, baginya yang penting sudah usaha untuk tetap baik. Dan saya pun berniat untuk menutup baik-baik masalah ini, masalahnya biar diselesaikan oleh orang tuanya. Anakku urusanku.

Saya sengaja tidak mempublikasikan nama, lokasi dan bahkan nama, karena menurut saya ini jalan yang terbaik. Saya tidak ingin teman anakku ini jadi hujatan orang-orang di dunia maya. She just a child.

Sebagai orang dewasa, kita patut sadar untuk membangun anak-anak tanpa kebencian. Namun terkadang (sering juga saya temui), yang muncul justru “hujatan” untuk membenarkan ketidaksepakatan terhadap perilaku tersebut.

Sekali lagi, tolong jangan gunakan tulisan saya tentang intimidasi ini untuk memuaskan “emosi” terhadap pihak lain. Look at yourself, sudah bersihkah diri sendiri dari kebencian?.

Sikap dan perilakumu dalam mendukung sesuatu, menunjukkan kebaikan yang kamu dukung. Cinta dan kasih sayang terhadap sesama, selalu dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Sebarkan kedamaian.

Salam.

————|||||

Pilkada DKI Jakarta benar-benar sudah tidak sehat dan merusak. Ingin menang dengan berbagai cara pun dilakukan oleh beberapa pihak dalam mendukung pasangan masing-masing. Penyakit menebar Hoax dan intimidasi sesama pemeluk agama islam berlangsung sangat dahsyat, hingga menelan korban anak-anak. Yang seharusnya belum tahu dan tidak patut untuk tahu sesuatu yang bukan levelnya.

Sangat disayangkan jika agama terus-terusan dijadikan mainan, sementara Tuhan sendiri selalu memberikan contoh untuk kebaikan dan kebaikan. Pilkada ini urusan duniawi, bukanlah urusan akhirat. Tuhan memberikan kebebasan bagi pemeluk agamaNya untuk menentukan sendiri arah dunia tempatnya hidup. Hanya saja dibarengi dengan koridor syarat agar sesuai dengan norma agama.

Adanya ayat dalam kitab suci yang melarang memilih calon dari agama lain. Namun itu bukanlah ayat yang terputus, selalu dibarengi dengan klausul sebab dan penyebab serta deskripsi lanjutan yang bisa multitafsir. Sehingga satu tafsir tidak otomatis menjadi benar atau dianggap kebenaran mutlak, karena itu masih jadi rahasia Tuhan. Dalam agama islam, Al Qur’an merupakan kitab suci yang 80% isinya adalah kiasan, bukan substansi. Substansi dalam Al Qur’an hanya seputar larangan memakan sesuatu yang haram, disini mutlak tidak ada penafsiran lain.

Namun sangat disayangkan, satu tafsir banyak dipaksakan hanya agar calon dukungannya menang. Bukan lagi visi misi atau program yang dikedepankan, namun sudah intimidasi dan pembunuhan karakter serta menyerang pribadi. Tuhan menyayangi semua makhluknya, apapun agamanya. Sungguh sayang bila hanya karena Pilkada DKI, kebencian dijadikan madu yang terus disebarkan demi sebuah kemenangan. Berita bohong juga banyak disebarkan disertai dengan kebencian.

Anak-anak kecil pun tak luput dari kebencian yang terus ditebarkan itu, apa yang terjadi atau menjadi sikap seorang anak sudah tentu mencerminkan orang tuanya. Seperti yang diterima oleh anakku. Anakku dapat surat kaleng. Isinya begini:

Untuk Alia
Bukan nyinggung, harus ngerti.
1. Alia kamu itu isbomuka = islam bodoh munafik kafir
2. Kamu kan bela Ahok sama aja kamu hina al qur’an
3. Kamu itu munafik,

Munafik =
1. tidak taat pada allah
2. Kamu kelihatannya seperti kristen
3. Sering bohong untuk dibela
4. Kamu kalau dikasih jalan lurus malah belok
5. Gak tahu diri
6. Baca al quran sana

4. Sengsara lo di akhirat! Gaga gugu didepan allah nanti masuk neraka, kagak didoain masuk syurga!
Solat deh yang bener, zikir!!

—-ll

Surat ini entah dari siapa, sedih bacanya dan sangat menyedihkan. Kebencian ditanamkan sejak dini. Tidak bisakah dipahami bahwa semua ini sekedar politik untuk sebuah daerah? Sekali lagi, ini hanya politik. Politik merupakan salah satu jalan untuk membangun bersama-sama dengan cara mengedepankan hasil-hasil tertentu yang sudah disepakati sesuai aturan. Terlalu besar ruginya jika harus mengorbankan keberagaman dan persatuan.

Politik sangatlah dinamis, sangat dinamis. Di Jakarta menggeliat kalimat “muslim tolak pemimpin non muslim”. Di daerah Maluku sana, di sebuah kabupaten dengan 98% penduduk muslim, seorang non muslim berhasil duduk jadi kepala daerah yang bahkan didukung oleh partai yang sama dengan partai yang selalu teriak tolak pemimpin non muslim di Jakarta.

Saya selalu mengatakan pada anakku, bahwa segala urusan yang kamu belum waktunya untuk tahu, maka sebaiknya tidak ikut bicara. Saya ulang kalimat itu untuk meyakinkan diri apa sebenarnya yang terjadi, sampai ada surat seperti itu.

“Selama ini kakak hanya menolak untuk membenci, itu saja kok Pa”, kata Kakak Pertama.

Kami sering mendiskusikan Ahok hanya karena hasil kerjanya yang benar-benar kami rasakan. Seperti contoh kecil, membuat KTP atau surat domisili, hanya 5 menit dan tanpa pungli sama sekali. Karena ini tidak ditemukan pada jaman dulu sebelum Pak Jokowi dan Pak Ahok. Saya tekankan pada anak-anak untuk memahami dan mengerti hasil kerja orang. Suka atau tidak suka terhadap orang tersebut, kita harus belajar jujur untuk menilai hasil kerjanya.

Masalah agama termasuk neraka dan surga, selalu saya katakan bahwa itu urusan Allah SWT. Itu hak penuh dari Gusti Allah, tak ada satupun manusia punya hak mewakilinya. Kita dilahirkan di dunia ini hanya untuk memperbaiki diri, berbuat baik dan berbuat baik. Karena Nabi Muhammad sendiri diturunkan untuk memperbaiki Akhlak manusia, bukan mengislamkan manusia.

Bagi Allah tidak ada sesuatu yang muskil untuk dilakukan. Membuat seisi dunia jadi orang Arab dan seisi dunia beragama islam pun, bisa dalam sekejap mata.

“Nak, pahamilah bahwa di dunia ini rahasia Allah tak terbatas. Sangat tidak terbatas dan tidak punya batas. Tugas kita yang bodoh ini untuk terus belajar, jangan pernah berhenti untuk terus merasa bodoh”, sembari aku peluk anakku yang kelihatan menahan emosi.

Disclaimer:

Tulisan ini bukan bertujuan untuk berkampanye atau mendukung calon tertentu. Tulisan ini sebuah refleksi bahwa ada kejadian atau situasi yang perlu untuk diwaspadai. Kebencian tidak menyelesaikan masalah apapun.

Surat Kaleng Juga Surat Kaleng Juga Surat Kaleng Juga

Pencarian yang datang:

  • apa sebabnya non muslim selalu sukses dalam urusan duniawi
  • Kebencian Sudah Meracuni Dunia Anak-anak Intimidasi Menimpa Anakku - Kika Syafii
  • kebencian sudah meracuni dunia anak2
  • Kika hanya dunia yang
  • kikasyafii com
45 Discussions on
“Kebencian Sudah Meracuni Dunia Anak-anak, Intimidasi Menimpa Anakku”
  • Semoga anak Mas Kika menjadi penebar kebaikan, bukan penyebar kebencian. Tapi saya yakin, semangat kebaikan akan terus bertahan.

  • Anaknya umur brapa Pak? Tulisan tangan itu tulisannya anak SD yg br belajar nulis ato remaja yg mengalami gangguan emosional.

      • Maaf pak sebelumnya, kalau kata bapak makan makanan yang haram itu substansi atau mutlak, bapak salah.semisal kita dihutan tidak ada makanan buah-buahan/biji-bijian dan binatang halal lainnya, kita boleh memakan binatang haram JIKA memang tidak ada makanan halal

        Sama halnya dengan pemimpin kafir dalam Al-Quran, kita boleh memilih pemimpin tersebut JIKA kita menjadi minoritas,tidak adanya paslon Muslim

        Saran saya cuma satu untuk bapak
        Banyak banyak ikut majelis taklim, perbanyak guru ngaji, jangan suka menelan mentah mentah omongan / postingan.

        • Urusan makanan beda dengan urusan memilih pemimpin menurut saya. Tulisan saya pun tidak membandingkan antara makanan dan memilih pemimpin.

          Saya sedang tidak berusaha mencampuri urusan orang, hanya berusaha memperkuat diri sendiri. Jika Anda percaya dengan itu, silahkan saja.

          Dan Anda tidak bisa menjustifikasi seseorang hanya dari tulisan, Anda pun tidak tahu sama sekali tentang saya bukan?

          Btw. Terima kasih sarannya.

  • Saya ingat benar, dulu waktu saya kecil dan partai masih cuman 3 biji, mulut saya akan di jepret atau di pelototin, kalau ikut campur masalah politik atau sekadar ngomong nama salah satu partai.

  • Anak-anak menjadi seperti itu pasti karena faktor terdekat yang selalu mempengaruhi. Jadi kalau tiba-tiba anak menjadi ikut terlibat dalam politik, coba tanya tau darimana. Diajarkan bicara seperti itu oleh siapa? Kalau sudah tau, langsung ditegur deh yang bersangkutan agar jelas dan jangan meracuni pikiran anak-anak dengan kebencian. Persahabatan anak sangat polos dan rapuh.

  • Kejadian yg sama dg ke-2 anakku usia 7 dan 8 tahun. Karena trs menerus dicekoki hal2 radikal sampai : Ahok darah nya halal jd boleh dibunuh”, aku “mengalah” akhirnya memindahkan ke 2 anak ku ke Sekolah Madania,yg menghargai perbedaan dan kemajemukan . Alhamdulilah skrg lebih tenang

  • hoax atau betul? kok tulisannya bukan tulisan anak kecil, atau kisah fiksi? kapan, dimana, siapa, kenapa dan bagaimana surat itu dibuat?

  • Mas, ini sekolahnya tahu, nggak? Seharusnya tahu, ya. Atau dikasih tahu. Masalah kebencian ini jauh lebih panjang daripada sekadar Pilkada, apalagi buat anak-anak.

    Kalau tahu dan masih dibiarkan oleh sekolah, mungkin sekolah anaknya yang perlu dipertimbangkan ulang.

      • Kalau HS berarti sudah jelas nilai-nilai kebencian sudah ditanamkan dari orang tuanya. Turut prihatin sama anak tersebut, semoga suatu saat mendapat hidayah bahwa hidup tidak harus selalu belajar untuk membenci orang yang bukan dari satu aliran 🙁

    • Semoga yang benar akan terbuka ya Pak Herman. Tapi saya tidak berniat untuk mempermalukan pelakunya, jadi hanya berhenti disini saja..

  • Guru agama islam keponakan saya klo dikelas isiny selalu menekankan kalau ahok itu penista agama dan ciri2 penisata agama, terus saja setiap mata pelajarannya itu diomongin /diselipin, anak yg masih kecil itu suka merasa bosan disekolah itu diomongi di tv jg itu, mereka merasa kehilangan bahan pembicaraan seusianya

  • Saya tidak membela siapa2, cuman saya tidak sependapat jika ada pemisahan antara dunia dan akherat karena semua urusan dunia pasti ada hubungannya dengan akherat. Tapi semua kembali kepada kita mau pilih yang mana pasti ada konsekuensinya. Tks

    • Pemisahan dunia dan akhirat, batasnya ada di perilaku. Perilaku pribadi dan perilaku masyarakat. Pribadi berperilaku baik, tidak akan merusak agamanya, perilaku masyarakat yang baik tidak akan merusak agamanya. Ketika perilaku masyarakat beragama rusak, maka otomatis agamanya tidak ikut rusak.

      Koridor agama ada pada diri masing-masing, masalah aturan agama dan aturan dunia (dalam hal ini negara) itu sesuatu yang berbeda. Tapi semua aturan selalu berbasis pada aturan agama, hanya saja di dunia ini aturan agama dikembalikan pada diri masing-masing dan kelompoknya. Sementara aturan dunia yang sudah disepakati bersama, itulah wakil aturan agama.

  • Anak saya sudah dewasa semua artinya sudah berhak memilih, cuman dirumah saya tidak pernah membicarakan politik atau milih siapa karena semua sudah tau dan punya dasar/pegangan sendiri2 pilihannya.

  • Semoga pilkada DKI cepat berlalu dan manusia jkt menjadi normal kembali dan Ahok kembali menjadi gubernur jkt…In Syaa Allah doa2 kita diijabah Allah…Aamiin

  • Ooohhh sy siy dapat klunya. Bpk membicarakan spesifik kinerja Ahok ke anak² bpk (mgkn bpk bisa cari contoh lain selain Ahok, dr keluarga terdekat aja knp pak), jd mgkn stlh itu anak² bpk selalu cerita dg antusias ke teman²nya. Eeehhh di sisi lain ketemulah dg anak yg dr keluarga yg tdk pro Ahok. Jadi deh gayung bersambut. Itu kali ya… Apalagi anak² skrg telinganya lbh tajam.Saran sy, bpk bijaklah dlm memilih tema & lakon utk dijadikan contoh cerita ke anak², cari yg netral yg sesuai levelnya. Bagi yg (katanya) nulis surat kalengpun demikian semoga ya (ortunya pny blog jg gak y??)

    • Begini cerita aslinya: beberapa kali anak saya menanyakan perihal pemimpin kafir dan banyak teman yang mengkafirkannya. Saya meminta anak saya untuk tidak ikut-ikutan, maka saya bilang lihat kinerjanya saja, dan faktanya memang banyak perubahan di Jkt. Nah hal masalah kinerja yang saya tekankan untuk dilihat bukan masalah lain.

      Saya pun meyakinkan anak untuk tidak ikut membenci, bilang saja bahwa “saya tidak sepakat namun saya tidak membenci”.

      Dan jauh dari klu yang Anda pikirkan. Kalai Anda berpikir bahwa kami tidak membicarakan tentang sosok tokoh lain, sangat salah. Namun saya juga berusaha meredam energi negatif dalam bercerita, contohnya: kejadian saya dimintain 300rb oleh petugas sebuah kelurahan di Bekasi. Saya tidak mungkin menyebut namanya, hanya menekankan bahwa itu tidak boleh.

      Clear? Hope so yaa..

  • Kita selalu melihat dampak, tanpa melihat sebab lalu menyalahkan segala akibat.
    Selama akar masalah tidak diselesaikan, kejadian seperti ini akan terus berkembang dalam berbagai bentuknya.

  • Turut prihatin mas.
    Anak saya 7th jg mengalami hal dmkan disekolahya.Tapi krn anak saya termasuk berani, biarpun jd minoritas atas pilihan, anak saya selalu berani meng-counter ejekan2 temannya.
    Sempat saya diskusikan dgn guru mslh kebencian atas perbedaan tsb (maklum,sekolah anak saya sbgian besar adlh kader partai dakwah). Dan ternyata kebencian anak2 tsb datang dr ortu2 anak..menyedihkan dan prihatin buat saya,anak2 udah dipupuk rasa kebencian thdp perbedaan.
    Tugas kita sbg orang tua utk selalu mendampingi dan berusaha meredam virus kebencian ini yg memang “suka ga suka” sudah jamak mulai mengalir di sekolah2 tingkat dasar.

Leave A Comment

Your email address will not be published.