Kekalahan Ahok dan Kewaspadaan Atas Intoleransi

Pilkada DKI

Sejak terjadinya putaran kedua pemilihan Gubernur DKI, dengan urutan kemenangan Basuki – Djarot disusul Anies – Sandi dan terakhir Agus – Silvy, saya sudah menduga bahwa Basuki – Djarot akan mengalami kekalahan. Saya tidak bisa menyebutkan lebih spesifik apa sebabnya, hanya saja perasaan yang kuat mengatakan itu. Syukur alhamdulillah dari perjalanan kampanye putaran kedua yang sudah berakhir serta memunculkan kemenangan Anies – Sandi yang tidak disertai kerusuhan seperti prediksi banyak orang. 

Semenjak kampanye putaran kedua, kedua timses gencar melakukan pergerakan kampanye ke berbagai penjuru melalui berbagai media baik media sosial online maupun offline. Pertarungan yang sangat melelahkan, tidak hanya bagi timses dan pendukungnya, namun juga bagi orang-orang khususnya di DKI yang terkena imbas kampanye langsung maupun tidak langsung.

Pelajaran besar bagi Basuki (Ahok) untuk belajar mengatur kata-kata, sebaik apapun hasil pekerjaan masih harus tertelan oleh ketidaksantunan kata-kata. Fakta obyektif masih bisa dengan mudah tertutupi oleh sentimen sopan santun yang masih kental di Indonesia. Kebenaran secara hukum atas tindakan gusur kampung – kampung kumuh untuk menghilangkan titik banjir belum bisa mengalahkan sentimen perasaan ketidakadilan akibat penggusuran. Pelajaran lain yang perlu di mengerti bahwa musuh utama dalam sebuah pelayanan pemerintahan adalah justru dari organ birokrasinya sendiri yaitu PNS yang ada didalamnya. Terjadi pergolakan penolakan atas kepemimpinan Basuki – Djarot dikarenakan jadwal pekerjaan yang ketat, disiplin serta sulit untuk korupsi. 8 dari 10 PNS yang saya temui sangat tidak menyukai bekerja di bawah kepemimpinan Basuki – Djarot. Dan berbagai hal lainnya, selain tentu saja didalamnya keberhasilan tim sukses dari Anies – Sandi dalam mengakomodir kampanye untuk meraih suara.

Selamat untuk Anies – Sandi sebagai Gubernur terpilih secara demokratis 2017 hingga 2022 nanti. Sebagai warga Jakarta, tentu saja saya sangat berharap apa yang sudah bagus semasa Basuki – Djarot tetap dipertahankan dan ditambahi pelayanannya. Program – program yang pro rakyat terus dijalankan dan bangun program lain yang melayani warga Jakarta secara kesuluruhan.

Harapan terbesar saya atas kemenangan Anies – Sandi ini tetaplah tidak memberikan ruang bagi ormas yang sudah terbukti banyak melakukan tindakan intoleransi terhadap kelompok maupun aliran beda keyakinan. Di belakang Anies – Sandi ada dukungan dari FPI dan FUI yang sudah berkali-kali melakukan intimidasi terhadap banyak orang seperti penutupan paksa atau razia warung saat ramadhan, dan sejenisnya. Belum lagi, ujaran kebencian serta SARA yang banyak dilakukan oleh pendukung Anies – Sandi baik di sosial media online maupun offline. Seperti ujaran kebencian yang pernah menimpa anakku.

Organisasi Masyarakat seperti FPI yang dalam 2 – 3 tahun terakhir tidak berhasil meresahkan warga Jakarta, bisa jadi menemukan momentum untuk mengambil kembali jalur “kekuasaan” dengan menunggangi kemenangan Anies – Sandi. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa banyak majelis atau masjid yang mengatasnamakan yayasan agama banyak mendapatkan sokongan dana dengan berbagai judul bantuan dari pemerintahan DKI hingga akhirnya berhenti semasa Jokowi – Basuki dan Basuki – Djarot. Sudah terlalu banyak catatan kelam FPI, semoga dengan kemenangan Anies – Sandi ini, mereka bisa lebih dewasa dalam bersikap.

Ketakutan lain, kekuatan radikal yang ada di belakang Anies – Sandi juga menemukan waktu untuk terus membangun struktur jaringannya dengan memanfaatkan kekuasaan baru dari dukungannya. Mereka ini yang sebenarnya tidak peduli siapapun Gubernur DKI, karena hal terpenting bagi mereka adalah bisa menyerap dana dari pemerintahan daerah yang mau memberi mereka jalan untuk menambah amunisi utamanya dalam hal pendanaan.

Perilaku intoleran bukanlah perilaku agamis meskipun menggunakan nama agama, oleh karenanya penting bagi Anies – Sandi sanggup menghentikan semua ini. Mulai menggandeng berbagai kelompok terutama kelompok muslim untuk tidak inferior dengan berbagai hal terkait ekonomi. Mulai untuk mengajak mandiri, menghidupi diri sendiri sehingga tidak mudah dipermainkan oleh pihak – pihak lain yang ingin meraih keuntungan dari air keruh.

Penting bagi Gubernur dan Wakil Gubernur baru untuk mewaspadai (perilaku) intoleransi terutama yang memang bersemayam di belakangnya dan selama ini ikut membantunya kampanye.

Terima kasih kepada Basuki – Djarot atas kepemimpinannya selama ini hingga oktober 2017. Dan selamat datang Anies – Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur baru Jakarta. Anda berdua tentu sadar bahwa Anda adalah Pemerintah untuk semua warga, tidak hanya yang menjadi pendukung.

Salam.

You may also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *