Malas Membaca, Buta dan Emosional Itulah Indonesia

Malas Membaca, Buta dan Emosional Itulah Indonesia

Seketika Indonesia demam Pokemon Go. Sebuah permainan daring yang sebenarnya tidak dirilis di Indonesia sampai dengan saat ini. Sebuah keunikan tersendiri, permainan daring Pokemon Go ini menurut lansir dari beberapa media dari luar negeri hanya diluncurkan di US, Australia dan Selandia Baru, namun Indonesia menjadi salah satu negara paling heboh menanggapi permainan ini. Para pemain pokemon go di Indonesia bisa mengunduh aplikasi Android melalui saluran tidak resmi yang menyediakannya, sementara untuk pengguna iOS bisa mengunduh dengan terlebih dahulu mengubah setting negaranya.

Entah sengaja atau tidak hal ini terjadi, bisa jadi karena ada sistem yang belum diperkirakan untuk mengantisipasi pengunduh tidak resmi di wilayah Asia Tenggara terutama Indonesia atau malah bisa jadi sengaja dilakukan karena paham bahwa orang Indonesia terkenal “suka curang” dengan mengunduh secara ilegal serta membangga-banggakannya di sosial media masing-masing.

Dan sepertinya (subyektifitas pribadi saya), pengelola Pokemon Go ini paham betul bahwa di Indonesia ada golongan sumbu pendek serta akal jongkok yang dengan segera akan memakan keberadaan permainan ini dan menghubungkannya dengan teori konspirasi. Teori konspirasi untuk menguasai Islam “menurut” kaum ini.

Ini seperti jadi marketing dan publikasi gratis bagi permainan daring ini. Kubu orientalis segera menuduh bahwa permainan daring Pokemon Go ini dikendalikan dan digunakan oleh Yahudi untuk menguasai masjid-masjid. Kemudian tidak berapa lama tentu akan keluar bantahannya. Makin besarlah tingkat ranking permainan ini.

Ini bukan soal permainan ini bagus atau tidak. Bukan pula soal permainan ini memiliki konspirasinya sendiri ataupun tidak. Namun ini lebih pada persoalan bahwa bangsa ini, bangsa Indonesia yang (selalu mengaku) besar masih mudah disibukkan dengan persoalan-persoalan remeh temeh. Meledaknya sebuah permainan daring bisa melebihi meledaknya bom di Sarinah. Terjadinya kudeta di Turki bisa menutupi kebutuhan seorang tetangga kampung yang kesulitan makan.

Malas Membaca, Buta dan Emosional

Bangsa ini seperti kehilangan jati diri. Kebanggaan serta kepedulian terhadap situasi dalam negeri masih terbatasi dengan keberadaan siapa pemerintah atau lebih tepatnya, siapa presidennya dan dari golongan mana. Tidak heran bila seorang teman mengatakan bahwa orang Indonesia memang comel alias comen melulu. Apapun tidak ada yang luput dari komentar. Ironisnya, para pengusung keramaian dunia sosial media ini rata-rata dari kubu-kubu yang berseberangan tersebut.

Pemahaman akan cinta tanah air belum bisa menghilangkan “ukuran” siapa presidennya. Cinta tanah air menjadi wajib karena presidennya adalah orang yang dipilihnya. Begitu pula sebaliknya, cinta tanah air menjadi tidak wajib karena presiden terpilih bukan orang pujaannya.

Rasanya, produk apapun yang diluncurkan di Indonesia terutama dari luar negeri akan bisa dipastikan laku, karena semua akan segera sibuk mengomentarinya yang pada akhirnya membuat banyak orang menjadi penasaran. Tahu sendiri kan kalau sudah penasaran?

Indonesia sungguh sudah dalam fase darurat sumber daya manusia. Beberapa hal yang saya tandai sebagai bagian terbentuknya darurat sumber daya manusia sebagai berikut:

1. Malas Membaca

Sungguh ironis, mayoritas penduduk Indonesia mengaku beragama Islam. Agama yang selalu diajarkan dan diajari untuk membaca, membaca dan membaca, melalui Iqra’nya. Padahal islam adalah agama yang mewajibkan baca, baik membaca secara tekstual maupun kontekstual.

Dilansir oleh Sindonews, minat baca orang Indonesia hanya sebesar 0,049%. Bayangkan, dari jumlah penduduk yang mencapai 250 juta jiwa lebih hanya 0,049% orang memiliki minat baca. Kemana sisanya? Mungkin sisa inilah yang mengisi hari-harinya dengan gosip dan komentar sana sini.

2. Pemahaman Buta

Mungkin dikarenakan kurangnya literatur membaca hingga banyak terbentuk pribadi-pribadi yang kurang bisa memahami sesuatu dengan baik. Tidak mampu pula memahami bentuk serta perilaku bagaimana mencintai sesuatu dengan baik, dan menyayangi berbagai hal sesuai porsinya.

Contoh: membuang sampah sembarangan. Ini bentuk cinta kebersihan terhadap diri sendiri namun tidak berhasil memahami cinta terhadap lingkungan. Saking cintanya sama kebersihan dirinya sendiri maka rela mengotori lingkungan atau tempat lain. Ini bisa diartikan, saking cintanya sama agama sendiri hingga rela merusak agama orang lain.

3. Rendahnya Kecerdasan Emosional

Saya masih kurang memahami kenapa bisa banyak sekali orang Indonesia rendah kecerdasan emosionalnya. Mudah sekali kita temukan orang yang memiliki intelektual tinggi bahkan bergelar profesor atau doktor membagikan berita yang isinya tidak jelas kebenarannya, lebih didasari atas kesesuaian berita tersebut dengan syak wasangkanya.

Mudahnya orang menampakkan emosi hanya karena ada pendapat yang tidak sesuai dengan pemahamannya, hingga berujung pada ketidakhormatan atas kepribadian masing-masing. Mudah juga kita temukan orang “merendahkan” orang lain hanya karena melihat keberhasilan orang lain tersebut. Mudah juga kita temukan status di sosial media yang isinya keluhan, amarah bahkan kebencian.

—||

Bangkit dan mulai mencintai diri sendiri berlandaskan cinta dan kasih sayang pada lingkungan, harus dimulai. Mulailah dari diri sendiri, jangan menuntut orang lain. Dan semua ini merupakan kritik yang dikhususkan pada diri saya sendiri dan siapapun yang merasa perlu mengkritik dirinya sendiri.

Salam Kreatif

2 comments found

  1. Setuju dengan isi posting sampeyan. Orang kita memang banyak malas membaca dan “bersumbu pendek.”
    Saya juga kadang malas membaca, tapi target membaca saya minimal satu buku satu bulan. Saya gak “bersumbu pendek.”

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.