Melarung Usia dan Melintasi Zona Kepala Empat

Melarung Usia dan Melintasi Zona Kepala Empat

Hari ini, 17 juli 2018. Hari dimana aku terlahir ke dunia karena buah cinta kedua orang tuaku, diiringi doa serta harapan dari orang tua, saudara hingga sanak tetangga yang turut berbahagia menyambut kelahiranku. Selanjutnya aku pun di asuh oleh para tetangga bergantian dari satu rumah ke rumah lain di sekitar rumah orang tuaku. Di jaman dahulu, anak atau cucu kyai, akan di asuh oleh tetangga atau saudara yang berkhidmat kepada kakek atau bapak anak tersebut.

“Dan tidak ada satu pun daun yang tidak bernyanyi melihat kelahiranku”, begitu kata pengasuhku. Karena aku menjadi satu-satunya cucu yang memiliki wajah persis seperti Kakekku, seorang kyai terpandang di desa, sebuah desa kecil bernama Menguning atau Menguneng, sebuah nama yang berasal dari suburnya tanaman padi yang ditanam disana, dan selalu memberi warna kuning.

Tanggal kelahiranku yang juga unik secara hitungan Masehi, semakin menambah suasana atau perasaan spesial atas arti dan tujuan lahirku di dunia. Tanggal 17, bulan 7, tahun 77 di hari 7 dan mendekati jam 7 pagi.

Tapi itu tidak mencerminkan perjalanan hidup yang indah seperti keindahan burung yang terbang melintasi matahari sore hari. Ibu yang meninggal karena sakit saat usiaku 4 tahun, mulai membuka lebar perjalanan penuh tantangan, terutama untuk Bapak dan tentu saja berimbas kepada kehidupanku, tak lupa juga kehidupan kakak-kakak dan adikku. Singkat kata, perjalanan hidup pun mencapai pada batas usia 20 tahun dan Tuhan mulai mengirimku untuk mengenali dunia-dunia lain diluar kotaku.

Perjalanan nan berat aku jalani saat mulai menginjak dan menganggap tanah betawi sebagai ladang jalan kaki setiap hari. Hingga perlahan aku tersentak sadar, bahwa sudah ada anak-anak yang cantik dan ganteng menjadi replika fisik dan suaraku. Dan sudah ada istri yang selalu setia menunggu serta mendoakanku. Pencapaian demi pencapaian aku rengkuh, yang tanpa adanya istriku, belum tentu aku berhasil melewatinya.

Sekarang, usiaku mulai melintasi kepala empat. Aku pun sudah melarung usia kepala tiga ke lautan agar menemukan kedamaian untuk kemudian mengirimkan sinyal-sinyalnya ke usiaku yang sekarang.

Sekali lagi, sudah ada dua makhluk cantik serta satu makhluk ganteng yang menjadi replika fisikku. Semakin aku pandangi mereka, aku semakin takut. Mereka harus menjadi generasi yang lebih baik dari aku, dari sisi agama maupun dunia. Makhluk-makhluk titipan dari Tuhan ini seperti menjadi penanda bahwa waktunya bagiku untuk berhenti, berhenti menjadi manusia yang biasa-biasa saja.

Aku harus bisa membangun anak-anakku, mendidik istriku dan berdiri tegak sebagai penyangga mereka dari waktu ke waktu. Sebagai bukti cintaku padaMu dan kedua orang tuaku hingga kakek nenek dan buyutku. :X

Tuhan, sungguh aku tidak tahu
Apa yang Engkau bicarakan dengan orang tuaku
Hingga akhirnya aku berdarah daging atasnya
Titip salam sayangku kepada mereka..

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.