Membangun Bisnis Digital yang Sukses

Membangun Bisnis Digital

Peter Drucker yang terkenal pernah mengatakan bahwa bisnis hanya memiliki dua hal: Pemasaran dan Inovasi. Apa yang dimaksud adalah bahwa bisnis yang bisa mencapai sukses sanggup menciptakan produk yang hebat dengan penjualan yang efektif.  Ornamen atau sesuatu yang lain adalah fitur pelengkap.

Namun hari ini, baik pemasaran maupun inovasi sudah mulai didorong oleh teknologi digital. Sangat sulit untuk memikirkan produk tanpa komponen digital dewasa ini, dan pemasaran telah menjadi begitu terfokus melalui digital dimana kemungkinan besar seorang berposisi sebagai Chief Marketing Officer (CMO) akan lebih banyak menghabiskan waktunya pada teknologi dibandingkan Chief Technical Officer itu sendiri.

Setiap bisnis saat ini adalah bisnis digital dan teknologi, tidak lagi terbatas pada departemen Teknologi Informasi, ini adalah tugas semua orang. Sayangnya, banyak diantara perusahaan yang memiliki inisiatif dan mulai beradaptasi dengan teknologi digital ini gagal. Masalah utama dalam membangun bisnis digital bukan kurangnya investasi atau bahkan kurangnya komitmen, tetapi keengganan untuk beradaptasi praktek bisnis inti ke dunia digital.

Mewaspadai Siklus 5 Tahun

Teknologi memiliki kecepatan perubahan yang sangat cepat. Melebihi perkembangan kedewasaan orang per orang. Bila perusahaan atau seseorang tidak mewaspadai berapa jauh atau banyak effort waktu yang dibutuhkan, bisa bisa teknologi yang dibuat menjadi kadaluarsa saat diluncurkan.

Dalam siklus 5 tahun, teknologi digital bisa berubah dengan banyak hal baru. Maka akan lebih baik bila membangun inovasi maupun produk menyesuaikan kebutuhan seiring perjalanan waktu ini sendiri. Bisnis digital adalah tentang persiapan, tidak berencana, realitas bukan lagi roadmap. Sementara menciptakan inisiatif utama untuk mengubah bisnis mungkin merasa seperti hal yang benar untuk dilakukan, di dunia digital ini tidak semua yang sudah dilakukan akan menjadi benar selain hasil akhir dari pendapatan.

Mulai dari Kecil dan Kembangkan

Seorang teman mengatakan bahwa dia sedang mengembangkan proyek digital dengan asumsi bisa digunakan untuk kebutuhan banyak orang. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah konsep digital dengan fitur detail mencapai 1-2 tahun. Dan teman saya mengatakan bahwa itu akan terbayar manakala produk digital tersebut bisa launch dan dipakai banyak orang.

Teman saya ini lupa dengan waktu, trend serta perilaku pasar. Benarkah dalam 1-2 tahun pasar masih akan menerima produk digital tersebut? Benarkah waktu akan sebanding nilainya dengan hasil yang muncul nantinya?. Ini terlihat seperti memaksakan diri. Sementara semua hal adalah tidak pasti, kecuali perubahan itu sendiri.

Akan lebih baik bila segala sesuatu dibangun mulai dari yang kecil sebagai sarana tes pasar, sembari dilakukan perubahan dan pengembangan menyesuaikan dengan kondisi pasar yang terus berubah. Kekayaan fitur seringkali menghabiskan waktu dan pengelolaan yang menjadi lambat.

Lupakan Fitur, Fokus Pada Pengalaman

Semua orang ingin mengalahkan kompetisi. Jadi pengembangan produk sering menjadi kompetisi demi memuaskan lebih banyak pelanggan. Lupakanlah fitur pelengkap yang membuang waktu. Berorientasilah pada pengalaman pelanggan yang menginginkan sesuatu sesuai dengan kemauan mereka.

Dalam dunia digital kita tidak memiliki undang-undang yang membatasi kita secara fisik. Jadi menambahkan fitur bisa dilakukan ke depan, buat semudah seperti kopi paste sebuah baris kode. Pada tahun 1993, Microsoft MSFT memiliki 4,5 juta baris kode, dan sepuluh tahun kemudian menjadi 50 juta baris kode.

Siapa pun yang pernah menggunakan remote control TV tahu bahwa kompleksitas memiliki biaya riil. Tambahan fitur dapat membingungkan dan menghasilkan lebih banyak gangguan dan bug. Memberi leih banyak pada  konsumen belum tentu menjadi jawaban yang tepat.

—|

Dalam dekade terakhir, kita telah melihat sebuah revolusi dalam teknologi digital. Sebuah Komputer yang digunakan harus dirancang untuk efisiensi. Bisa melakukan sejumlah besar operasi hafalan, sangat cepat dengan sedikit kesalahan. Namun sekarang mesin-mesin telah dapat mengenali pola dan belajar. Mereka menjadi cerdas, adaptif dan scalable.

Jadi untuk benar-benar bersaing di era digital kita perlu rewire perangkat lunak dalam organisasi kita. Kita tidak lagi bisa berpikir hanya dalam hal efisiensi, tapi bagaimana kita bisa bekerja sama dengan mesin menjadi lebih lincah dan memastikan bahwa organisasi kita dapat beradaptasi dan belajar.

Dan itulah ironi bisnis digital. Dalam rangka untuk berhasil, organisasi harus menjadi tidak hanya lebih teknologi, tetapi lebih manusiawi. Kita tidak dapat merencanakan untuk itu, kita hanya dapat mempersiapkan.

You may also like

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *