Menumbuhkan Bahagia dan Membangun Kebahagiaan

Menumbuhkan Bahagia dan Membangun Kebahagiaan

Jutaan orang hingga detik ini mungkin belum bahagia, atau mungkin lebih tepatnya belum tahu bagaimana menumbuhkan bahagia dan membangun kebahagiaan didalamnya. Bahagia dalam hidup serta membangun kebahagiaan bersama munculnya bahagia masih menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah ditemukan. Tidak banyak orang memahami bahwa bahagia dan kebahagiaan berawal dari diri sendiri.

Contoh-contoh banyaknya ketidakbahagiaan dalam sebuah kehidupan seseorang bisa dengan mudah ditemukan, apalagi di jaman sosial media yang begitu gamblang membuat seseorang mempublikasikan masalah-masalahnya; ada masalah rumah tangga, pertemanan, masalah suami atau istri hingga masalah keluarga. Kita bisa dengan mudah menemukan tulisan di status sosial media yang bercerita tentang berbagai masalah umum hingga masalah pribadi tanpa saringan.

Bahagia bukanlah sesuatu yang muncul dari orang lain, kebahagiaan merupakan sesuatu yang dibangun dan diperjuangkan dari dalam diri sendiri. Ada beberapa kesalahan yang sering dijadikan patokan orang untuk menemukan bahagia dan kebahagiaan.

Bergantung pada orang lain

Seseorang sering menganggap bahwa bahagia akan datang apabila datang orang lain mengisi ruang hampa dalam dirinya. Sebuah kesimpulan yang keliru. Contoh: seorang pemuda berpikir bahwa bila dia bisa menikahi gadis idamannya maka dia akan bahagia dan bisa mengarungi kebahagiaan bersamanya.

Orang sering merasa bahwa bahagia itu bisa bersama dengan kekasihnya, bahwa bahagia itu bila suami atau istrinya menuruti kemauannya, bahwa bahagia itu akan muncul bila keinginannya bisa dituruti. Kesimpulan-kesimpulan seperti ini menipu. Karena bahagia itu datang dari dalam diri sendiri dan melalui perjuangan yang tidak mudah.

Menuntut orang lain

Apakah bahagia berasal dari kolektivitas banyak hal? Betul. Namun semua itu berawal dari mulainya diri kita bergerak membangun bahagia yang dituju. Dalam sebuah organisasi, kita tidak bisa menuntut orang lain harus begini atau begitu sesuai kemauan agar kita bahagia karenanya. Rumah tangga merupakan sebuah organisasi kecil yang harus dibangun dengan kesadaran diri masing-masing pelakunya.

Masih sering saya temui seorang suami atau istri bercerita bahwa pasangannya tidak bisa begini begitu sesuai kemauannya. Mereka lupa bahwa bukan pasangannya yang bermasalah, justru mereka sendirilah yang bermasalah. Buktinya? Buktinya mereka menunjuk orang lain untuk dipersalahkan. Karena orang yang menunjuk orang lain untuk disalahkan merupakan sebuah bentuk masalah dalam dirinya sendiri.

Solusi:

Tumbuhkan kepercayaan diri untuk merasakan bahagia, dengan begitu kita bisa berhenti menggantungkan segala hal pada orang lain. Mulailah membangun bahagia dari dalam diri sendiri. Dengan berhenti menggantungkan segala hal pada orang lain, maka kita akan bisa mencapai sendiri kebahagiaan yang kita cari. Kemudian mulailah berpikir untuk membahagiakan orang lain setelahnya.

Mulailah memberi pada orang lain atau pasangan kita. Berikan kebahagiaan untuk mereka. Dari situ semua hal akan bergulir, orang lain akan banyak hadir membantu kita atau pasangan kita akan terus berada disamping kita bila mereka sudah merasakan betul “pemberian” kita.

Menuntut serta bergantung pada orang lain hanya akan membuat kaki dan tangan kita tidak bergerak menggapai kebahagiaan kita sendiri. Sementara bahagia hanya bisa diraih dengan membangunnya, mendirikannya hingga tinggi dan kokoh. Bila diri kita sudah bisa bahagia, maka pasangan maupun orang lain disekitar kita juga akan bisa dibuat bahagia. Terus tumbuhkan motivasi diri untuk menuju kebahagiaan kita, tidak berhenti hanya dikarenakan satu dua hal buruk yang kita jumpai.

Sangat penting untuk menjaga pikiran positif, karena pikiran positif sangat berhubungan erat dengan bahagia. Hindari bacaan-bacaan yang meningkatkan emosi negatif serta menumbuhkan pikiran negatif berkelanjutan. Masa kecil hingga menjelang dewasa adalah masa dimana kita mencari dan menemukan bahagia sehingga saat mulai berhubungan dengan banyak orang, akan bisa dengan mudah berbagi kebahagiaan termasuk dalam hal pernikahan. Menikah bukanlah tempat untuk menuntut kebahagiaan, namun tempat untuk membangun kebahagiaan bersama dengan cara saling membahagiakan.

Salam Bahagia

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.