Menakar Daya Beli Produk Indonesia

Beli Produk IndonesiaTentu maksud dari tiga kata itu adalah untuk beli produk Indonesia. Yang jadi pertanyaan, “Benarkah konsumen kita terus saja beli merek asing?” Saya rasa tidak. Toh, data dari Kementrian Perdagangan RI mencatat ada 175 merek asli Indonesia. Itu tahun 2010, di mana Marie Elka Pangestu juga menargetkan adanya 200 merek baru. Taruhlah dari target itu terealisasi 30%. Artinya ada 235 merek asli Indonesia!

Yang dirilis Kemendag itu bukan isapan jempol belaka. Sebagai bukti, cobalah iseng-iseng Anda lihat produk yang ada di rumah Anda. Catat mereknya. Dari mulai toiletries sampai apparel yang Anda pakai sekarang. Saya berani bilang 50% lebih itu merek asli Indonesia.

Ya, sangat mungkin tebakan saya salah. Namun yang pasti saya tidak asal tebak. Faktanya, dari detergent, ada SoKlin dan Daia. Lalu, shampoo ada Natur dan Emeron. Pembalut sudah pasti Softex atau Hers Protex. Kalau Anda pakai parfum Casablanca atau Eskulin, itu juga buatan Indonesia.

Apa lagi? Handuk? Celana dalam? Tisu? Sepatu? Baju? Celana? Sepatu? Sport apparel? Gadget? Furniture? Sarung? Niscahya Anda akan menyebut merek yang asli Indonesia. Jangan tanya soal merek makanan-minuman, karena Anda pun akan capek sendiri menghitung mereknya.

Majalah SWA pernah merilis 250 merek asli Indonesia. Yang tentunya melalui seleksi ketat. Artinya masih banyak merek asli Indonesia yang tidak masuk dalam direktori SWA teresbut! Hasil survei SWA selama beberapa tahun terakhir bertajuk Indonesia Best Brand Award (IBBA) dan Indonesia Customers Satisfaction Award (ICSA), merek-merek asli Indonesia pasti masuk jajaran lima besar. Di ajang IBBA, merek lokal menguasai 64%. Sementara ICSA, merek lokal meraup 55%.

Memang pasar sudah berkembang sedemikian pesat. Merek global banyak yang masuk ke Indonesia. Bahkan tak jarang merajai di kategorinya. Dan, tak sedikit pula merek asli Indonesia yang berkibar di Indonesia bahkan regional atau global. Sebut saja, Kokita, SoKlin, atau Kopiko dan masih banyak lagi.

Saya cuma kepengin bilang, bahwa sebenarnya, konsumen kita sudah menggunakan produk Indonesia. Data yang dipaparkan di atas menunjukkan betapa merek Indonesia telah menjadi tuan di bumi pertiwi. Lantas, ke manakah gerangan arah Beli (Produk) Indonesia?

Kita tidak perlu “mempropaganda” konsumen dengan slogan-slogan. Misalnya, “100% Cinta Produk Indonesia” atau “Bangga Gunakan Produk Indonesia”. Sebab toh nyatanya tidak jelas keberhasilannya.  Semoga “Beli (Produk) Indonesia” tidak bernasib seperti itu.

Hemat saya, yang perlu digodok adalah tataran produsen. Bagaimana misalnya produsen dapat berinovasi untuk melahirkan produk dan merek asli Indonesia? Riset apa saja yang mereka perlu lakukan?

Tidak berhenti sampai di situ saja. Tak kalah penting adalah bagaimana cara merebut atau bahkan menciptakan pasar? Kita tahu, karakter orang kita gemar yang berbau luar negeri. Maka jangan heran kalau Edward Forer, Pakalolo, Hammer, Makarizo, Nexian, Axioo dan sejenisnya tidak menggunakan nama lokal. Bukan tidak lucu jika mereka menamai produknya dengan brand, misalnya Paijo, Sugeng, Sitorus, Dayat dan sebagainya.

Itu merupakan salah satu branding strategy dalam merebut market. Brand dipersepsikan sebagai brand luar negeri.

Tentu masih banyak lagi strategi lainnya. Karenanya, menurut saya, akan lebih baik bila dilakukan seminar tentang bagaimana strategi merebut pasar. Temanya bisa macam-macam. Misalnya, marketing strategy, distribution strategy, product strategy, dan sebagainya. Dalam seminar bisa dihadirkan expert, entrepreneur, dan juga pemerintahan.

Bicara Beli Produk Indonesia juga tidak bisa hanya berhenti dari produksi saja. Sebagai negara agraris, pertanian Indonesia nyaris tenggelam. Anomali cuaca sering dituding sebagai sebab. Tapi, kita tak dapat memungkiri misalnya keputusan pemerintah membebaskan biaya impor gandum ke Indonesia.

Padahal, gandum bukanlah makanan pokok orang kita. Ironisnya, gandum tidak tumbuh di tanah Indonesia. Bukankah kita punya beras, ubi, kentang dan lainnya? Nah, melalui Beli (Produk) Indonesia kita patut carikan solusi untuk ini. Bagaimana petani dapat berkolaborasi dengan produsen untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional?

Sebagai puncaknya, bazaar Produk Indonesia. Kita seleksi produk-produk (merek) asli dari Indonesia. Asli dalam artian dari bahan baku sampai menjadi produk jadi dikembangkan oleh orang Indonesia dan lahir dari Indonesia. Kemudian beli produk Indonesia pun berkembang.

(Sigit A Nugroho – Reporter Majalah SWA)

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.