Mencari Ilmu dengan Jalan Murah

Mencari Ilmu dengan Jalan Murah

Parjo terdiam, kemudian mencari bongkahan batu yang bisa digunakan untuk menempatkan pantatnya. Dia masih bingung, seminar “Membuat Desain Iklan dengan Photoshop” di kampus itu, begitu ingin diikutinya. Namun apa daya, uang sebesar 100rb sangatlah berharga buat makan sehari-harinya.

Sudah beberapa hari belakangan, Parjo bekerja keras dengan mengamen agar bisa menabung dan kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti seminar tentang bagaimana mendesain dengan software yang sangat digemarinya itu. Namun apa daya, hingga waktunya tiba, dia harus memilih. Memilih untuk menyelamatkan uang 100rb demi keamanan perutnya atau memilih untuk mengikuti seminar tersebut. Sebuah pilihan yang sulit.

Parjo memang sangat tertarik dengan belajar membuat desain menggunakan Photoshop. Ini berawal dari perkenalan tidak sengaja antara dia dengan seorang Boss perusahaan rekaman yang menawari job untuk membuatkan desain sebuah sampul kaset. Waktu itu, Parjo dengan sangat yakin menerima tantangan pekerjaan yang belum pernah dikerjakannya sama sekali. Bahkan komputer saja baru tahu bentuknya.

Berbekal dorongan yang sangat besar atas kebutuhan hidupnya, Parjo menerima pekerjaan itu dan segera berpikir keras untuk mengerjakannya dengan baik. Uang DP (down payment) dari Boss perusahaan rekaman yang sebesar 300rb langsung digunakannya untuk membeli buku cara-cara membuat desain grafis. Dipilihlah beberapa buku yang dianggapnya akan mendukung pekerjaan desain itu.

Sisa uangnya kemudian dia gunakan untuk membayar sewa warnet dan sebagai uang saku untuk mengerjakannya. Parjo menjalaninya dengan semangat, dia bahkan sampai merasa bahwa mendesain grafis sangatlah bisa dikerjakan olehnya. Kebetulan Parjo memang mempunyai bakat seni melukis. Dan selama dua minggu, Parjo bekerja keras untuk membuat satu desain sampul kaset CD yang bagus dan artistik. Tanpa lelah, tanpa putus asa.

Senin, setelah dua minggu tanpa lelah dan sedikit tidur. Parjo menyerahkan contoh pekerjaan desain sampul kaset itu kepada si Boss di Mangga Dua. Tanpa dinyana, si Boss senang dengan hasil pekerjaannya. Segeralah dia dipromosikan kepada teman-temannya bahwa Parjo bisa bikin desain sampul dengan baik. Dengan harapan dia makin banyak dapat pekerjaan.

Oleh karenanya, Parjo ingin sekali bisa mengasah keahliannya mendesain. Dia sangat paham bahwa dirinya masih jauh dari pandai apalagi ahli, maka dia terus memupuk semangat mengamen, kemudian mengunakan uang hasilnya untuk menyewa warnet semalam suntuk hingga pagi. Siang mulai jam 10.00 dia mengamen hingga jam 15.00, kemudian dia pulang ke kos untuk istirahat sembari menunggu jam 23.00 malam. Dan mulailah dia belajar mendesain di warnet tepat jam 00.00 wib hingga jam 8 pagi. Dan sesekali dia menyisihkan waktu untuk bermain ke beberapa teman.

Seminar “Membuat Desain Iklan dengan Photoshop” sudah di depan mata. Besok seminar itu akan berjalan dan besar kemungkinannya Parjo tidak bisa ikut. Dia sudah pasrah, untuk menghilangkan rasa kecewa yang sudah terlebih dahulu muncul, Parjo memilih untuk tidak mengamen, dia pergi ke lapangan kecil di depan komplek kos temannya dan bermain sepakbola dengan teman-temannya disana. Dan malamnya, dia mencoba tidur lebih cepat dari hari biasanya. “Semoga besok aku nemu caranya”, batin Parjo.

Pagi jam 08.00 wib dia sudah bangun dan segera berkemas untuk pergi ke kampus tempat terselenggaranya seminar itu. Dia pakai baju yang paling pantas dan paling bagus yang dia punya. Tak lupa dia juga bergaya yang mirip-mirip dengan Mahasiswa di Kampus itu. Segera dia lari ke stasiun dan naik kereta listrik ekonomi. Jarak Kampus tersebut dengan Stasiun tempatnya naik hanya berjarak 1 stasiun.

Sempat ragu manakala kakinya turun dari kereta dan mau menyeberang masuk ke halaman kampus tersebut. Namun dia tetapkan hati dan berteguh untuk bisa mendapatkan ilmu mendesain itu apapun caranya. Begitu masuk dihalaman, Parjo langsung dekati satpam dan bertanya dimana lokasi seminar itu. Setelah ditunjukkan, dia segera bergegas menuju tempatnya. Sesampainya di depan lokasi, dia bingung juga takut. Takut kalau di usir atau dilarang mendekat.

Namun keinginannya untuk memahami ilmu desain itu lebih besar daripada ketakutannya. Parjo meyakinkan diri bahwa takut malah akan membuat dirinya tidak bisa mendapatkan keinginannya. Dia terus berusaha berlagak persis seperti mahasiswa di Kampus itu. Duduk duduk di sekitar lokasi dengan sesekali sok akrab dengan penerima tamu seminar.

Begitu seminar dimulai, Parjo langsung mendekat ke pintu dan duduk tenang di dekat pintu ruang seminar. Dengan konsentrasi yang difokuskan lebih tinggi, dia mencoba mendengarkan suara pembicara yang ada di dalam ruangan. Meski tanpa bisa tahu apa saja gambar yang dibawakan oleh pembicara seminar, Parjo tetap berhasil mencatat hal-hal yang sangat penting untuk diterapkan di desain-desain nantinya. Hingga acara berakhir, Parjo berhasil mendapatkan banyak pengetahuan tambahan untuk pendalaman desain, walaupun menjadi sosok pusat perhatian yang mungkin aneh bagi para penerima tamu seminar itu.

Dan Parjo pulang dengan senyum mengembang.

——

Kisah yang menggambarkan bahwa mencari ilmu tidak selalu harus mahal. Menerapkan solusi adalah hal terbagus untuk dilakukan, bukan mengedepankan rasa kecewa, takut, ataupun mengeluh tanpa mencari jalan keluar. Dan seringkali, the power of kepepet bisa menjadi kunci keberhasilan.

Salam kreatif.

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.