Mengenali Berita Sampah? Begini Caranya!

Mengenali Berita Sampah? Begini Caranya!

Media internet berkembang dengan cepat, sebagian orang yang tanggap dengan berbagai keuntungannya menggunakan internet pun langsung menjadikannya area perburuan dollar bagi kantongnya. Berbekal ilmu internet marketing yang dimiliki, mereka mengolah berita-berita yang sebenarnya biasa saja, menjadi seakan-akan tampak heboh. Mereka pandai mengolah judul, sehingga orang-orang yang terbiasa hanya membaca judul langsung tertarik untuk membagikannya. Bahkan tidak hanya itu, orang yang terbiasa bersosial media pun belum tentu mengenali berita sampah dan bisa terbawa judul berita yang mereka bangun.

Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana berita sampah beredar, berbagai media informasi melalui internet baik itu mengatasnamakan web media maupun blog pribadi yang berkeliaran tidak jelas. Semua itu menggiring opini, memelintir berita, hoax (sampah) hingga memfitnah terang-terangan. Penting bagi kita untuk mengenali berita sampah.

Langkah mengenali berita sampah

Masyarakat Indonesia yang belum melek akan literasi digital serta belum mampu mengenali berita sampah, menjadi gagap dan gugup menerimanya, kemudian menjadi kaget dan terbawa arus emosi yang sengaja diciptakan oleh para internet marketing bangsat ini. Dengan emosi yang sudah terbentuk, pembacanya akan terus berlangganan akhirnya menjadi captive market tersendiri dan menghasilkan dollar yang tidak sedikit.

Sudah banyak sekali kalimat bijak yang mengajak untuk berpikir ulang sebelum membagikan apa yang dibacanya, sebelum menganggap apa yang dibaca itu benar dan sebelum memasukkan diri ke dalam perangkap pikiran hitam putih. Menjaga nalar memang sulit, namun sangat layak untuk dimulai. Dengarkan peringatan yang ada dalam pikiran, karena setiap orang punya “mesin pengingat” untuk tetap berpikir positif dan seimbang manakala mendapatkan sesuatu.

Untuk menuju dan menjaga pikiran positif serta seimbang tetap diperlukan pengetahuan untuk memahami setiap bentuk berita, gambar maupun video. Sebenarnya hal seperti ini sudah pernah saya tulis di artikel Waspadai Media-media Pengguna Teknik Memelintir Berita namun tidak ada salahnya saya ingatkan kembali. Mengingat semakin parahnya provokasi di sosial media dari berbagai pihak.

1. Perhatikan Judul

Apakah judulnya mengundang emosi atau mungkin berlebihan dan bombastis? Apakah disertai kata-kata provokatif? Apakah penulisan judulnya masuk akal?

Pahami judul sebagai langkah awal untuk mencegah diri terjebak dalam berita buruk, beberapa contoh judul berita sampah ini pernah diulas oleh Kafil Yamin seperti berikut:

Tamparan keras untuk Aa Gym dan Arifin Ilham. Atau Ucapan keras Rais Syuriah NU bungkam Aa Gym dan Arifin Ilham.

Kata-kata ‘tamparan keras’ dan ‘ucapan keras’ serta ‘bungkam’ itu karangan si editor yang ingin beritanya mengundang perhatian, dengan cara tidak halal. Maka sudah pasti beritanya tak menarik.

Judul yang bener: Rais Syuriah PBNU menyatakan NU tidak dalam posisi mendukung atau menghalangi non-Muslim jadi pemimpin.

Di isi berita, dan dalam seluruh pernyataannya, Rois Syuriah sama sekali tak menyebut-sebut nama Aa Gym dan Arifin Ilham. Tapi si penyunting ingin berita tengil jadi menarik, maka ditempelkanlah nama Aa Gym dan Arifin Ilham, pakai kata ‘tamparan keras’ dan ‘bungkam’.

Katakanlah Saya bertemu seorang kenalan di jalan, dan kenalan itu menyapa saya: “Hey! Apakabar?” Dan saya jawab: “Alhamdulilah. Saya baik-baik saja.” Bila pertemuan dan dialog singkat ini diliput media sejenis di atas, mereka akan kasih judul: Inilah jawaban dahsyat Kafil Yamin yang membungkam seorang penanya — kalau media itu menyukai saya. Dan sebaliknya.

Ada lagi pola gaya pembuatan judul yang dimulai dengan Wow! atau Menakjubkan! Luar biasa! Mantap. Kalau berita negatif, kata serunya Parah! Astaghfirullah! Saya jamin deh, setelah dibaca, boro-boro menakjubkan. Justru membosankan. Garing. (KY)

Segera tinggalkan bila menemukan ini, boleh dibaca namun kuatkan emosi untuk tidak terpancing membagikannya karena itulah tujuan mereka sebenarnya, berita mereka dibagikan oleh siapapun baik pro mau pun kontra. Dengan terbawa membagikannya, maka akan semakin banyak yang membaca dan itu artinya dollar mereka bertambah.

Contoh:

Sebuah situs mengaku media dan anti pemerintahan, memberikan judul-judul yang memancing emosi orang untuk menyalahkan pemerintah bahkan mengagitasi pembaca seakan-akan kondisi sedang “perang”.

judul berita situs anti pemerintahKemudian bisa kita lihat lagi, situs yang mengaku media yang pro pemerintah, juga memberikan judul dengan motif yang sama, memancing emosi. Seakan-akan semua orang yang tidak menyukai pemerintah itu berperilaku buruk. Ini tuduhan, karena juga belum terbukti siapa yang rusuh.

mengenali berita sampah

Kedua situs ini dan situs-situs sejenis lainnya, sama buruknya. Sangat buruk kalau tidak boleh saya katakan bangsat. Mereka semua paham bahwa masyarakat Indonesia masih seperti kayu kering, sekali siram bensin dan percikan api maka terbakarlah emosinya.

Saat emosi muncul inilah, semua orang akan beropini baik mengiyakan maupun menolaknya dengan cara membagikannya ke akun-akun sosial media mereka tanpa mikir dampaknya. Inilah tujuan sebenarnya, VIRAL!. Dengan viralnya sebuah berita maka dollar semakin banyak diterima.

2. Subyektif tidak Cover Both Side

Baca sedikit, temukan apakah didalamnya ada kutipan atau rujukan yang menyertainya? Bila tidak ada, bisa dipastikan bahwa berita itu berisikan pikiran subyektif dari penulisnya. Berita seperti ini layak diabaikan. Tidak perlu dibaca lebih lanjut, tinggalkan saja.

Bahkan yang cover both side namun memiliki tendensi tertentu dan mengarahkan pembaca sesuai keinginan penulisnya juga banyak. Maka kita yang perlu lebih hati-hati. Karena ini ciri dari bentuk-bentuk berita pelintiran.

Semakin kuat diri kita untuk mengabaikan hal-hal yang seperti ini, akan semakin baik. Karena itu artinya kita tidak terjebak dalam kondisi membagikan atau mengabarkan sesuatu yang buruk, sehingga kita terhindar dari efek sosial yang mengakibatkan masyarakat sakit pikir.

3. Berbentuk Serangan

Terasa sekali kalimat demi kalimat memancarkan serangan kepada pihak tertentu, tanpa memberikan kesempatan pada pembaca untuk memahaminya lebih jauh, dengan mengaitkan pemberitaan kepada emosi segmentasi pembaca tertentu.

Contoh:

Tiba-tiba muncul berita keburukan masa lalu seseorang atau pemerintahHal ini tiba-tiba saja menyeruak kembali. Ini bentuk serangan personal, sebuah bentuk reaksi atas perilaku. Ini bukan berita, maka yang seperti ini tidak layak dibaca apalagi dibagikan.

Pahami dengan baik konteks berita didalamnya, temukan alur yang dibangun oleh penulis beritanya. Bila terasa seperti serangan kepada pihak tertentu, itu merupakan berbentuk reaksi atas kejadian tertentu segeralah ragukan keabsahan informasinya.

Tinggalkan dan jangan dibagikan berita sampah ini. Ingat, yang diburu oleh para pemburu dollar ini adalah tulisan atau situs mereka semakin banyak dibagikan. Karena itu artinya akan banyak yang mengunjungi situsnya dan iklan didalamnya pun akan banyak yang mengekliknya.

—||

Sebenarnya masih banyak contoh lagi yang bisa dijadikan hati-hati dalam bersosial media. Jangan sampai kita hanya jadi Clicking Monkeys. Sudah waktunya untuk lebih berhati-hati menerima berita, karena begitu banyak ujaran kebencian dan fitnah beredar luas di sosial media saat ini dan cuekin saja kampanye negatif yang ada.

Tentu saja, kita tidak mau membiarkan diri kita menjadi ladang penyebaran fitnah, ujaran kebencian, kampanye negatif dan keburukan lain bukan? Karenanya sangat penting bagi kita untuk bisa mengenali berita sampah.

Disadur dari berbagai kejadian dan tulisan.

Salam kreatif.

2 comments found

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.