Mengenali Pembuatan Game

Anda suka main game? Jangan sok jaim lah menjawab ndak, siapa yang tak suka main game? 😀 Di abad 21 sekarang semua orang pernah main game. Bahkan di kampung-kampung rental PS acapkali menjamur. Nah, pernah tidak terpikir bagaimana cara membuatnya? Bagaimana bisa lawan kita di game catur begitu cerdas sehingga seringkali kita kalah…? Bagaimana pula membuat grafis 3D luar biasa indah dan nyata seperti Crysis? Jika penasaran ikuti terus artikel ini. Artikel ini adalah seri pertama dari rangkaian artikel tentang pembuatan game. Di awalan ini kita kenal-kenalan saja dulu. Ke depannya insya Allah akan saya terbitkan dengan topik-topik yang semakin advance, so stay tune in my blog…

Game, suatu kata yang mangalami pergeseran makna. Sebenarnya secara etimologi game berarti permainan. Conglak, petak umpet dan main benteng juga game. Namun zaman sekarang apabila kita berkata game maka pikiran orang pasti tertuju pada video game. Hal ini membuktikan betapa popularitas video game sangat mendominasi permainan di abad 21 ini. Tahun 2009 saja terdata ada 6 juta online gamers di Indonesia , seperempat dari pengguna internet Indonesia. Itu yang online, yang offline pastilah berlipat-lipat dari itu dan sulit mendapat angka pastinya. Di Amerika industri video game sendiri bernilai 12 milyar USD.

Pembuatan game juga mengalami pergeseran. Di masa awal game komersil, tahun 1970an, game biasanya dibuat oleh seorang programmer, hanya butuh beberapa minggu dan nyaris tanpa dana. Hal ini karena game pada masa itu tidak kompleks. Seiring meningkatnya performa prosesor dan teknologi komputer serta meningkatnya ekspektasi konsumen, sebuah game komersil saat ini dibuat oleh puluhan hingga seratusan developer, memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Biaya pembuatannya juga meningkat dari rata-rata 1-4 juta USD di tahun 2000, 5 juta di tahun 2006 dan lebih dari 20 juta di tahun 2010  untuk sebuah game.

Sang pembuat game bisa berupa perorangan, komunitas independen (yang populer dengan istilah Indie Developer), atau perusahaan besar. Indie Developer bergantung pada sokongan dana dari Game Publisher, seperti Nintendo, Electronic Arts dan lain-lain. Sering kali mereka harus membuat konsep atau prototipe terlebih dahulu sebelum mendapatkan pendanaan eksternal. Lalu mereka membuat proposal untuk perusahaan-perusahaan game publisher yang tertarik membiayai proyek mereka. Game publisher biasanya juga punya studio development internal. Umumnya, game publisher lah yang memiliki hak cipta produk game.

Di Indonesia, industri game belum seraksasa di Amerika Serikat atau Jepang. Studio game lokal masih berjumlah belasan perusahaan, sebagian besar freelance atau merangkap studio animasi. Namun ada juga yang sudah berupa perusahaan yang fokus. Sampai saat ini hampir semua game online adalah hasil franchise dari luar, contoh: Ragnarok, Getamped, Seal Onlne, RF-Online, Idol Street, Perfect World dan terbaru Crazy Cart.

Tahun 1980an, era awal komputer desktop dan konsol video game, seorang developer mengurus hampir semua aspek pembuatan game: programming, desain grafis, sound effects, dsb. Hanya butuh sekitar 6 minggu baginya untuk menyelesaikan semua itu . Namun, saat ini sebuah game adalah sebuah proyek besar sehingga pembagian tugas sudah menjadi hal yang lumrah. Berikut 3 pihak umum pada sebuah proyek game:
1.    Producer
Producer biasa juga dikenal dengan istilah project manager atau director. Tugasnya terbagi menjadi dua: internal dan eksternal. Secara internal produser memanajemen tim kerja, mengatur jadwal, progress report, mempekerjakan staf dsb. Secara eksternal produser berurusan dengan pihak eksternal, negosiasi kontrak, dan sebagainya.
2.    Publisher
Biasanya tim yang membuat berbeda dengan yang mem-publish. Publisher bertugas memperkenalkan, menjual dan mengoptimasi pendapatan dari game tersebut.
3.    Tim Kerja Teknis
Tim kerja teknis adalah orang-orang yang langsung terlibat membuat produk game, sekretaris memang dibutuhkan tapi bukan termasuk di bagian ini 😀 Biasanya tim ini terdiri dari designer, visual artist, programmer, level designer, sound engineer, tester. Karena bagian ini panjang sendiri, dan pastinya seru mengetahui apa yang mereka lakukan, akan saya bahas di seri selanjutnya 😉

Bersambung.

Salam kreatif.

3 comments found

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.