Kika Syafii

Terus Merasa Bodoh dan Menolak Tua

Menghilangkan Jejak di Google, Kebutuhan Baru untuk Pencitraan

Awal tahun 2016 kemarin, berita kasus korupsi besar yang menimpa banyak tokoh publik serta pejabat baik BUMN dan Swasta seketika menyedot perhatian masyarakat. Pemberitaan yang gencar telah membuat beberapa pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi takut terkena imbas dalam hal pencitraan, apalagi bila namanya sudah disebut-sebut di media-media besar itu. 

Menutupi jejak apalagi hingga menghapus nama dalam sebuah pemberitaan atas kasus tertentu, sangatlah mudah namun tidak murah. Pada akhirnya bisa saja terjadi tawar menawar yang bisa melibatkan jurnalis hingga editornya. Praktek ini sudah lumrah dilakukan oleh para oknum politisi, pengusaha, pejabat dan perangkat birokrasi dalam menjaga citra di mata masyarakat banyak. Karena citra publik sama dengan kelanggengan posisi (tawar) di mata masyarakat.

Bukan rahasia lagi kalau media besar pun bisa “di beli” untuk pemberitaannya, meskipun kadang itu sebatas oknum. Pembelian ini tentu saja memakan biaya yang sangat tinggi. Bahkan tidak sedikit yang malah pada akhirnya membuat “pembeli” menjadi ATM berjalan bagi para penjahat berkedok media. Resiko ini menjadi sulit dihindari.

Perkembangan teknologi yang merambah di dunia berita, tentu saja berimbas pada bermunculannya berita-berita buruk dari para figur publik itu di sosial media internet. Maka pekerjaan rumah untuk membangun citra menjadi lebih tinggi lagi kebutuhannya, sebab ketika seorang figur publik tersandung sebuah kasus, maka beritanya tidak luput juga untuk muncul di media online. Oleh karenanya semua berita buruk yang bisa menurunkan penilaian publik pun harus bisa ditutupi.

Hal ini menjadi sebuah berkah tersendiri bagi para pelaku internet marketing, terutama yang memiliki fokus dalam memanipulasi data yang muncul di mesin pencarian, terutama mesin pencari yang besar. Mesin pencari merupakan “brangkas” data yang bisa di akses secara umum oleh orang umum, disanalah terdapat semua hal yang ingin dicari. Mudah bagi orang untuk berselancar di mesin pencarian dan menemukan berita-berita dari kasus – kasus yang melibatkan para figur publik tersebut.

Semua berita baik maupun berita buruk dengan mudah di akomodir oleh mesin pencari berdasarkan data yang muncul oleh media – media online, seperti surat kabar online, blog hingga sosial media. Mesin pencari menampung semua berita yang masuk dan terdeteksi melalui robot pengumpul data (crawler) untuk kemudian disajikan kepada pembaca yang mencarinya.

Pekerjaan menghilangkan jejak pemberitaan (terutama pemberitaan buruk) seorang figur publik juga sudah menjadi pekerjaan lain bagi saya, berpacu dengan algoritma mesin pencari agar berita – berita yang ingin disebarkan bisa mudah masuk ke dalam brangkasnya mesin pencari dan menemukan pembacanya. Seperti tahun lalu, saat berhasil menggeser berita buruk (citra buruk) dari seorang pejabat BUMN yang tersangkut kasus korupsi besar, menjadi sangat menyenangkan dan sangat menantang. Meskipun pada akhirnya pejabat BUMN tersebut tetap dipanggil oleh KPK, namun opini di masyarakat sudah berhasil tertanamkan hal yang lain.

Sebagai pembelajaran, kita harus tahu bahwa mesin pencari seperti Google, Facebook dan sejenisnya merupakan pisau bermata dua. Di sisi lain bisa meningkatkan penilaian baik di masyarakat dan disisi lain bisa sebaliknya. Citra yang ditujukan untuk menaikkan rating (penilaian) sebuah institusi maupun pribadi – pribadi dengan profil tertentu melalui sosial media dan mesin pencari, tentu saja tidaklah mudah. Ini pekerjaan yang menuntut logika tertentu agar bisa menanamkan sesuatu ke benak masyarakat umum.

Perkembangan internet dan sosial media menjadi alat kampanye semakin meningkat, serta keberadaannya menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan terutama dalam membangun branding maupun penilaian. Keberadaan aplikasi – aplikasi percakapan seperti Whatsapp, Messenger, Telegram, Line dan lain-lainnya juga menambah semarak pembangunan branding dan citra. Lihat saja, saat masa kampanye tiba, semua grup percakapan bisa saja berubah menjadi ajang kampanye untuk meningkatkan nilai tertentu dari berbagai arah melalui para tim suksesnya yang tersebar dimana-mana.

Kembali ke masalah google sebagai pusat awal pencitraan, berbagai cara dilakukan oleh ahli – ahli mesin pencarian untuk membuat para kliennya bisa menduduki peringkat tertentu dengan target kata kunci tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan pencarian di mesin google. Dengan memahami apa yang dicari oleh pengguna mesin pencari dan sosial media, maka sasaran bisa diraih sehingga pencitraan pun berjalan sesuai target.

Banyaknya kasus korupsi yang melibatkan orang tenar, tentu saja menjadi berkah bagi para pelaku optimasi mesin pencarian. Mungkin salah satunya saya :), hubungi saya untuk kebutuhan ini 😀

Salam kreatif.

Leave A Comment

Your email address will not be published.