Mengintip Poros Maritim yang Sudah 4 Tahun Dicetuskan

Sebagai seorang wiraswasta, saya sering berhubungan dengan investor dan investasinya. Mengapa butuh investor? Ya karena saya sendiri belum bisa berdiri dengan kekuatan (uang) sendiri. Contoh paling gampang adalah investasi dari Bank atau bahasa kerennya Hutang.

Begitupun dengan Indonesia, setelah 32 tahun digerogoti habis oleh tikus, kemudian terancam perpecahan dimana-mana, dan dengan lindungan Tuhan perlahan bisa tetap berdiri tegak meski harus dengan hutang alias investasi, sampai kemudian pada jaman Presiden Jokowi.

Presiden paham bahwa ekonomi Indonesia dalam kondisi carut marut, timbangan hutang yang besar harus tetap bisa diakali untuk menjalankan roda kehidupan negara Indonesia ini. Maka dimulailah gerakan-gerakan kemandirian, saling bekerja sama serta membuka diri kepada orang/pihak yang bersedia membantu (modal), dan tentu juga sekaligus menghidupkan sektor swasta.

Potensi Indonesia yang bisa diolah ada pada Sumber Daya Manusia dan juga keunikan negara yang berbentuk kepulauan. Oleh karenanya, dibuka kran investasi selebar-lebarnya dengan cara mengubah perijinan yang tadinya berbelit-belit menjadi lebih gampang dan cepat. Pemerintah memberi jalan kepada pihak manapun bahkan negara manapun untuk berinvestasi ke Indonesia.

Investasi bisa di berbagai sektor, di dunia teknologi atau biasa disebut startup digital, investasi dibuka lebar maka kemudian berdiri dengan cepat startup digital asli Indonesia yang menjadi besar, tidak sekedar unicorn bahkan diyakini bisa jadi decacorn. Kemudian juga sektor Maritim seperti pelabuhan dan laut yang perlahan dibenahi. Pelabuhan dibutuhkan agar terbangun kelancaran pengiriman barang dari satu pulau ke pulau lain atau dari Indonesia ke negara lain dan begitu pula sebaliknya.

Poros Maritim Indonesia

Saat pemerintahan Jokowi-JK memulai pemerintahan tahun 2014, salah satu yang dicetuskan adalah Poros Maritim. Sebuah ide yang sangat brilian karena memang Indonesia negara kepulauan, dan dikelilingi laut. Ide poros maritim ini salah satunya dengan membangun tol laut, dan untuk menunjang tol laut ini maka dibutuhkan pelabuhan yang baik serta teratur.

Cita-cita ini teragendakan dalam 5 pilar Poros Maritim Indonesia, yakni:

  1. Pilar pertama : pembangunan kembali budaya maritim Indonesia.
  2. Pilar kedua : Berkomitmen dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan fokus membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dengan menempatkan nelayan sebagai pilar utama.
  3. Pilar ketiga : Komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, dan industri perkapalan, serta pariwisata maritim.
  4. Pilar keempat : Diplomasi maritim yang mengajak semua mitra Indonesia untuk bekerja sama pada bidang kelautan
  5. Pilar kelima : Membangun kekuatan pertahanan maritim.
poros maritim

5 Pilar Poros Maritim

Satu pelabuhan yang diharapkan bisa dijadikan contoh mercusuar poros maritim adalah Pelabuhan Marunda yang terletak di Tanjung Priok, utara Jakarta.

Satu hal yang saya tahu, Pelabuhan Marunda ini pun dibangun sepenuhnya oleh Swasta yang bekerja sama dengan BUMN. Skema investasi sepenuhnya dibangun oleh Swasta dan BUMN nantinya akan menjadi share holder mengelola bersama dengan swasta yang sudah membangun.

Cita-cita Poros Maritim Indonesia yang diusung oleh Pemerintahan Jokowi ini menurut saya, berhasil membuka ketertarikan begitu banyak investor. Indonesia dengan kepulauannya memang bagaikan gadis cantik siap petik yang menunggu dipinang. Begitu banyak hal yang bisa dikerjakan di Indonesia.

Pemerintah sudah sangat benar dengan memberi pintu kepada banyak pihak untuk berinvestasi ke Indonesia, karena memang Indonesia belum mampu untuk membangun sendiri secara keuangan.

Sebagai seorang swasta, saya memahami betul skema yang dibangun oleh Pemerintah Jokowi ini. Ditambah keberhasilan Jokowi yang perlahan namun mengambil banyak sumber daya alam yang selama ini hanya memberi keuntungan secara sepihak kepada pihak tertentu.

Salam Indonesia Maju.

Leave a Reply

  1. Pingback: Pelabuhan Marunda, Poros Maritim yang Terhenti karena "Premanisme" | Kika Syafii