Menikmati Keindahan dan Memaknai Kehidupan

Menikmati Keindahan dan Memaknai Kehidupan

Libur, kata ajaib yang seketika membuat banyak orang bersemangat. Bersemangat yang berlebihan, hingga seakan selama sekian hari bekerja, libur merupakan pelepasan beban serta lelah yang tidak diinginkan. Yang kemudian, bekerja menjadi sebuah kalimat yang tidak menyenangkan, membebani pikiran serta membuat diri berat menjalani hidup.

Disana ada Air dan Api. Air yang menyejukkan mampu mengguyur Api yang membara membakar banyak hal. Air mewakili ketenangan berpikir, senyuman yang sejuk hingga kebahagiaan. Sementara Api mewakili semangat yang besar, gairah untuk tetap hidup serta keceriaan yang berpendar. Keseimbangan. Kita semua membutuhkan keseimbangan.

Bila kita terlalu berat memaknai “bekerja” sebagai suatu beban, menjadi sesuatu yang tidak menarik dan sejenisnya, maka kita menjadikan diri layaknya Air yang terlalu banyak, air bah bahkan badai. Bila kita terlalu berat menerapkan “bekerja” sebagai sebuah hal yang harus terus dikerjakan, tidak bisa ditinggalkan barang sejenak dan sejenisnya, maka kita sedang menjadikan diri layaknya Api yang terlalu besar, membakar semua yang disentuhnya. Dan ketidakseimbangan pun terjadi.

Pagi ini, matahari yang malu-malu untuk memunculkan diri, sementara cicak diatas langit-langit berlarian bercanda dengan pasangannya serta daun yang berhembus seakan ingin mengatakan “lihatlah, saat matahari belum beranjak, ada begitu banyak gelak tawa dan bahagia tersaji, nikmatilah kehidupanmu apa adanya”.

Seringkali kita lupa untuk mensyukuri diri sendiri, lupa untuk mensyukuri apa yang dimiliki, terlalu sibuk melihat orang lain dan terlalu sibuk untuk menilai apa yang orang lain miliki. Sehingga keindahan kecil nan sederhana tidak mampu membuat pikiran terhibur. Kita menjadi penuntut, terlalu menuntut diri sendiri maupun orang sekitar. Tidak ada lagi keindahan yang bisa tercipta dari hal-hal kecil disekeliling kita. Kekasih maupun pasangan hidup, bisa seketika tiada nilainya hanya karena ketidakmampuan kita menikmati keindahan sederhana yang selalu terselip dalam banyak hal.

Keunikan wajah suami saat pulang kerja yang cemberut, seharusnya menjadi gairah untuk tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Kelucuan perilaku istri yang mencak-mencak karena gagal belanja, seharusnya menjadi pendorong semangat untuk memeluknya dengan memberitahunya bahwa “belanja yang terkutuk” tak perlu menjadi alasan untuk tidak tertawa.

Menikmati keindahan dengan mencoba memahami nilai-nilai kecil dan sederhana yang terselip disetiap pandangan mata, mencernai filosofi keindahan yang selalu ada dari semua kejadian bahkan benda. Sehingga tidak ada lagi hal berlebihan dalam menempatkan pikiran. Cara berpikir yang sederhana justru akan mampu membuat kita memaknai kehidupan lebih dalam.

Sudah menjadi hak bagi jiwa dan tubuh kita untuk menjalani keseimbangan. Keseimbangan dalam berpikir, keseimbangan dalam gaya hidup, keseimbangan dalam bersikap dan berperilaku. Ada waktu untuk berteriak dan ada waktu untuk menangis. Ada waktu untuk meratap namun juga ada waktu untuk menatap. Menatap kehidupan yang lebih baik, seimbang berwarna-warni.

Salam keindahan

1 comment found

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.