Siapa Bilang Menjadi Entrepreneur itu Gampang?

Seorang teman datang dengan muka gembira sembari mengatakan bahwa dia sudah menemukan passion-nya yang selama ini dicari. Sebut Parjo, dia bekerja di sebuah perusahaan multinasional dengan posisi yang lumayan tinggi yaitu Manager. Melihat cara kerja serta sikapnya yang sangat baik dan profesional dalam bekerja, tentu kenaikan prestasi (jabatan) akan dengan mudah diraihnya.

Belum sempat mulut saya terbuka untuk menanggapinya, dia sudah kembali mengatakan “Mas Kika, bayangkan, seandainya saja hal ini saya kerjakan sejak 10 tahun yang lalu, mungkin saja saya sudah jadi pengusaha besar”.

Kemudian dia menceritakan banyak hal tentang passion-nya untuk berbisnis kedai kopi serta pengolahan kopi dari daerah-daerah, membiarkan saya tetap tercekat tidak sempat mengucapkan apapun apalagi menanggapinya. Pada akhirnya saya hanya bisa manggut-manggut tersenyum, entah yakin entah kebingungan melihat perubahan teman dekat saya ini. Sampai kemudian dia pamit pulang sembari membayar tagihan kopi di kedai yang tanpa saya sadari sudah berubah tanpa rasa apapun.

Selang 2 tahun kemudian, Parjo mengirimkan sms dan mengajak menikmati kopi di kedai yang sama satu tahun lalu. Kehidupan yang berputar ini sungguh telah melahirkan banyak semangat dalam kehidupanku, ajakannya untuk kembali menikmati kopi di kedai sembari melepas sore yang sering terlihat lelah membuat saya bergembira, sembari berpikir “Parjo tentu sudah sukses!”, saya pun menyungging senyum.

Menjadi Pengusaha
Gambar diambil dari FB

“Ternyata tidak semudah yang dibayangkan Mas”, Parjo memulai obrolan dengan mulut dipaksanya untuk tersenyum. Saya kembali tercekat, kali ini tenggorokan benar-benar kering. Cangkir kopi yang sudah hampir masuk ke mulut berhenti ditengah jalan, kemudian reflek tanganku menyambar rokok yang sebenarnya sudah siap ditangan.

Parjo bercerita bagaimana dia jatuh bangun menyusun bisnisnya sesuai rencana. Uang tabungan yang dijadikannya modal bisnis perlahan ikut menguap bersama kedai kopinya yang tidak kunjung ramai. Selama 6 bulan pertama semangatnya tidak kendur meskipun harus mengeluarkan banyak uang dibandingkan pemasukannya. Semua rencana yang disusunnya sudah dikerjakan, berbagai tahapan sesuai arahan mentornya sudah dilakukan, ratusan buku motivasi bisnis serta tips bisnis telah dibacanya dan puluhan motivator serta coach sudah diikutinya. Namun kondisi tidak kunjung membaik. Ada beberapa temannya yang mendukung dengan sering datang ke kedainya, dan lebih banyak yang tidak.

Perlahan timbul masalah baru, istri yang sebelumnya mendukung perlahan gelisah karena tabungan serta kebutuhan yang semakin naik belum mampu terpenuhi. Pertengkaran kecil mulai terdengar hingga pada akhirnya tepat dua tahun setelah Parjo berhenti bekerja, dia kembali melamar pekerjaan di sebuah pekerjaan.

Parjo mengakui bahwa tidak semua orang bisa berwirausaha atau menjadi pengusaha (entrepreneur), entrepreneur memiliki ciri khas yaitu harus selalu berpikir kreatif, bekerja lebih keras dibanding lainnya dan tahan banting. Dia berhenti meyakinkan diri untuk terus berwirausaha atau menjadi pengusaha. Parjo menyadari bahwa dirinya adalah pribadi penyuka teks atau arahan yang kemudian mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi tempatnya bekerja. Dan itu yang dulu dilakukannya sehingga bisa mencapai level manajer kurang dari 10 tahun bekerja. Dan Parjo terlihat lebih bangga dengan masa lalunya itu.

Permasalahan menjadi wirausaha ini sering menjadi wacana bahwa menjadi wirausahawan atau entrepreneur ini jauh lebih baik dari pada karyawan. Padahal setiap orang memiliki karakter serta cara hidup yang berbeda, dan juga karena tidak ada satu pun pekerjaan halal yang hina di dunia ini.

“Tidak semua orang juga bisa menjadi karyawan apalagi karyawan yang baik”, akhirnya mulutku memunculkan kalimat dan entah mengapa kalimat itu yang muncul. Sejenak mataku mencari reaksi di wajahnya, tidak ada reaksi apapun selain pundaknya yang dinaik-turunkan dan kepala menggeleng.

Perjalanan hidup ini bukan masalah siapa paling hebat atau pun siapa paling mulia. Urusan kemuliaan ini tidak berada di dalam penilaian orang lain, ini urusan serta kerahasiaan Tuhan. Menjadi pengusaha tidak otomatis lebih mulia dari karyawan begitu juga sebaliknya. Sudah menjadi kehendak Tuhan menjadikan manusianya di dunia ada yang menjadi pemimpin, pengusaha, karyawan, politisi dan berbagai macamnya. Memperdebatkan siapa paling mulia diantaranya, sama dengan meminta Tuhan untuk mempertontonkan diri dan mengangkat tangan orang yang dianggap mulia.

Menjadi pengusaha harus bersedia untuk bekerja lebih keras dibandingkan karyawannya, berpikir lebih cerdas dibanding karyawannya dan semua keberhasilan itu akan ditangguk nanti setelah semua usahanya berjalan dengan baik. Sebelum itu tercapai, jatuh bangun dan banting tulang lebih keras akan terus dirasakan berulang dan berulang.

Passion bukanlah alasan untuk menjadi pengusaha. Karena passion akan dengan mudah membelokkan arah bisnis yang sebenarnya sudah baku yaitu keuntungan. Bila hanya passion yang dijadikan dasar berbisnis maka harus rela bisnisnya akan berkembang sangat lambat, karena tidak peduli pendapatan yang masuk bahkan meskipun jumlahnya sedikit jauh dari modal.

Menjadi pengusaha merupakan masalah pilihan. Sebuah pilihan yang mau tidak mau harus dilakoni terus hingga berhasil. Tidak mudah berhenti ditengah jalan dan sanggup mengeliminasi berbagai macam halangan serta hambatannya. Menjadi karyawan juga sebuah pilihan. Semua pilihan ini tentunya akan membentuk karakter pribadinya di masa depan. Maka, mari berhenti mengatakan bahwa menjadi pengusaha tentu lebih mulia dibandingkan jadi karyawan. Bila semua jadi pengusaha, siapakah orang yang akan bekerja bagi pengusaha dan begitu juga sebaliknya.

Dan kesalahan di banyak orang adalah hanya belajar dari kesuksesan orang lain, seringkali memulai karena tergiur keberhasilan orang lain yang menjadi milyarder dan sukses jalan-jalan, bisa banyak waktu bersama anak tanpa perlu bekerja lagi. Sudah sepatutnya mulai untuk belajar dari kegagalan banyak orang. Belajar dari hambatan-halangan yang dialami oleh orang lain serta kemampuannya bertahan. Jangan pernah sekalipun kita biarkan diri kita tergiur oleh kesuksesan orang lain tanpa melihat jerih payahnya dalam membangun keberhasilannya.

Saya tidak berani mengingatkan kepadanya bahwa saya butuh 10 tahun lebih untuk memiliki mental pengusaha yang kuat dan mapan. Dan Parjo pun pamit.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.