mentalmiskin

Minta Tolong Cariin Pekerjaan Tapi Malah Nawar

Suatu hari, dua teman lama bertemu setelah sekian waktu lamanya tidak bertemu. Yang satu bernama Paijo, sewaktu SMA dulu dikenal anak berandalan berantem kanan kiri. Tidak punya ijazah selain SD-SMP-SMA. Kini sudah mapan karena memiliki beberapa studio rekaman dan juga usaha IT. Sementara Parjo, anak baik-baik yang selalu mendapatkan ranking dikelasnya sehingga sanggup melanjutkan kuliahnya ke universitas terkenal.

Perbincangan sangat akrab diantara mereka karena hampir 20 tahun tidak ketemu. Parjo mengabarkan kalau dia sempat bekerja di sebuah perusahaan dan akhirnya terkena perampingan, dan Paijo mendengarkannya dengan seksama serta sesekali mencoba menimpalinya dengan kalimat bijak. Karena memang Paijo juga memahami kondisi ekonomi yang sedang terjadi saat ini, dan bermaksud untuk memberi semangat agar Parjo tidak larut dengan kondisinya. Hingga sampai pada percakapan berikut ini:

Parjo: Jo, gue butuh pekerjaan nih..
Paijo: Wah Jo, buat orang sekelas elu pekerjaan apa ya yang cocok?
Parjo: Apa saja deh yang penting pekerjaan halal..
Paijo: Hemm gitu yaa… (sembari mencari keyakinan di mata Parjo), kalau ditempat gue saat ini butuhnya sales marketing, gimana mau?
Parjo: Sales ya? Wah gue bosan jualan terus Jo.. Gue di studio elu saja deh, bantuin rekaman atau terima tamu studio gitu..

Akhirnya Paijo berdiplomasi akan menghubunginya suatu saat kalau memang studionya nanti membutuhkan orang. Dan percakapan pun berakhir setelah bertukar telepon.

Paijo heran sekaligus kecewa, seperti inikah mental teman-teman lamanya? Ataukah hanya sangat kebetulan Parjo saja yang seperti ini. Namun meskipun hanya Parjo, sungguh sangat disayangkan. Sikap mental Parjo yang menggebu-gebu meminta tolong untuk dicarikan pekerjaan namun saat disodorkan pekerjaan yang sudah jelas ada malah ditawar. Ini seperti menolak dengan kalimat “Terserah gue yang mau kerja dong, Jo”.

Bagaimana mau maju? Bagaimana akan bisa mendapatkan pekerjaan? Bagaimana bisa semudah itu membuang kesempatan yang disodorkan didepan mata?

Tampak sekali bahwa sebenarnya kesempatan untuk bekerja atau mengerjakan sesuatu sebenarnya selalu ada, ada dimana-mana. Semua bergantung pada kemauan untuk menerima dan mengukirnya lebih lanjut menjadi sebuah karir yang lebih bagus dan lebih bagus lagi.

Mental menawar, mental hanya mau bekerja sesuai kemauan saja atau lebih parah lagi mental mau kerja namun tidak mau susah hanya mau enaknya saja, inilah yang sesungguhnya banyak terjadi. Tidak ada satupun pekerjaan di dunia ini yang enak dan mudah, bahkan dibidang bisnis sekalipun. Bekerja sebagai apapun, sangat perlu untuk dirintis dari kecil kemudian dirawat hingga bisa memiliki jenjang karir yang kuat dan hebat, sehingga tidak mudah terkena perampingan ataupun PHK besar-besaran kecuali perusahaan tersebut memang bangkrut.

Entah Parjo lupa atau tidak mau tahu bahwa bisnis Paijo juga dibangun sejak dari nol hingga sekarang menjadi besar. Entah Parjo sengaja tidak mau belajar atau menutup mata bahwa Paijo dulu sangatlah jauh dari prediksi akan sukses di masa depan.

Yang pasti sikap mental seperti Parjo ini sudah sepatutnya tidak ada lagi. Apapun kesempatan itu, bila memang dibutuhkan maka terimalah terlebih dahulu dan bekerja keraslah. Bukan malah menawar cari enaknya saja. Ini sebuah bentuk lain dari mental miskin.

Salam kreatif.

3 thoughts on “Minta Tolong Cariin Pekerjaan Tapi Malah Nawar”

  1. Parjo temen Paijo itu dominan otak kiri, gan. Makanya dia akan menolak kalau pekerjaan tidak sesuai dengan pengalaman dan pendidikannya. Ndese emang cocok jadi karyawan, hehe…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *