Musik Entrepreneur

Sebenarnya, kemanakah ujung dari bisnis musik? Dan bagaimana musisi (seniman musik) bisa mendapatkan uang untuk tetap terus berkarya dan berkarya hingga menghasilkan karya yang hebat? Seperti apa Industri Musik mewadahi karya-karya hebat dari musisi?

Industri musik saat ini (di Indonesia) memiliki orientasi bisnis model mengikat. Karya musisi yang sudah masuk ke dalam perusahaan mayor label terikat dengan pendapatan jauh lebih sedikit dibanding pendapatan produsen (produser besar). Meskipun memang didalamnya masih terdapat perhitungan pendapatan dari lisensi hak cipta bagi pencipta karya tersebut. Perhitungan pendapatan bagi produser bisa mencapai lebih dari 50% dengan berbagai alasan seperti distribusi, produksi musik dan video klip hingga pemasaran.

Sebenarnya, bisnis model yang ditawarkan oleh perusahaan mayor label saat ini masihlah bagus. Apabila tidak terjadi pembajakan. Bahkan dengan munculnya pembajakan, banyak perusahaan mayor label yang jatuh dan hilang. Jadi, seperti apa lagi bisnis model yang bagus buat musisi ini? Bila tidak ada lagi jalan keluar dari keruwetan dalam bisnis ini, bagaimana nasib anak-anak muda yang begitu getol bermusik, juga seniman musik yang sudah muncul sebelumnya, atau musisi yang mulai turun namanya dan jadwal manggung pun perlahan menghilang? Sementara, distribusi pendapatan hak cipta di Indonesia sangatlah buruk, sangat buruk.

Kafe Musisi dot Com

Berbagai situs hadir untuk membuka jalan bagi para musisi untuk tetap bisa ada dan hadir serta mampu mengeksploitasi hasil karya musisi dengan lebih baik. Musisi bisa mengambil alih produksi, distribusi hingga pemasaran terhadap hasil karyanya sendiri. Contoh salah satunya adalah reverbnation, dan masih banyak lagi. Teknologi sudah sangat mempengaruhi kehidupan bermusik dalam setiap individu, apalagi dalam kehidupan musisi. Bila teknologi adalah salah satu faktor yang membuat seniman musik kehilangan pendapatannya, maka akan lebih baik bila seniman musik juga menggunakan teknologi untuk mengembalikan pendapatan dari hasil-hasil karyanya.

Teknologi pendukung pemasaran seperti iTunes, Soundcloud, dan Reverbnation sudah bisa dengan mudah untuk kita akses bahkan mengeksplornya. Gunakanlah kemudahan-kemudahan ini untuk memperbanyak promosi (tentunya dengan l0w budget) namun memiliki dampak yang bagus serta besar efeknya. Dalam berkarya di bidang musik, alam semesta memberitahu bahwa pada akhirnya para musisi akan mengambil alih jalan karirnya masing-masing. Berbagai faktor luar yang mendukung akan sangat berpengaruh atas jalan/tidaknya sebuah karya, tentu saja salah satu faktornya adalah uang.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah akun twitter @bipnation men-twit tentang bagaimana memulai menjadi musicpreneur atau musik entrepreneur. Sebuah twit yang mencerahkan terutama bagi musisi pemula yang ingin terus berkecimpung di bidang seni musik itu sendiri. Disitu ditwitkan bahwa salah satu cara adalah memaksimalkan teknologi untuk menghasilkan uang baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dan Kafe Musisi hadir dengan harapan bisa dan mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan musisi terutama dari sisi publikasi, promosi yang lebih efisien dan murah serta kebutuhan untuk tetap mendapatkan pendapatan bagi musisi itu sendiri. Karena Kafe Musisi ke depannya akan membuat – memetakan – mempublikasikan beberapa lagu (baik yang diproduksi oleh grup maupun solo) ke dalam Album Kompilasi yang dibiayai oleh Kafe Musisi.

Juga, Kafe Musisi akan membuat model bisnis yang sederhana namun bisa menghasilkan uang yang kemudian akan dikembalikan kepada para musisi yang ada dalam lingkungan kafemusisi.com. Sehingga musisi bisa tetap bersemangat dalam berkarya dan menggapai puncak tertinggi dalam karya tersebut. Salah satu contoh bisnis modelnya adalah menyambungkan lagu-lagu terbaik dari musisi di kafemusisi.com dengan provider telekomunikasi untuk dijadikan RBT. Dan masih banyak lagi. Sehingga musisi bisa jadi entrepreneur dengan karya-karya hebatnya.

David Byrne mengatakan, “sebuah realita dalam berkarya tidaklah menyenangkan dalam dunia bisnis, namun tidak manakala sudah berbuah”. Dan akhirnya, musisi tak lagi harus takut dengan pembajakan. Biarlah pembajakan terus berlangsung namun musisi tetap berevolusi dengan inovasi-inovasinya. Catatan penting dari sebuah diskusi penulis dengan seorang musisi senior; pembajakan berawal dari pelaku industri musik itu sendiri (perusahaan label).

Salam Musik Indonesia, sampai ketemu di kafemusisi.com

1 thought on “Musik Entrepreneur”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *