Musisi Entrepreneur tidak di Akui

“Ada sekitar 2,7 juta musisi tersebar di seantero pelosok Indonesia”

Data diatas hanya sekilas dengar dari sebuah lembaga penelitian di tahun 2010. Namun saya mempercayainya, bahkan saya percaya bahwa musisi lebih banyak lagi jumlahnya dari data tersebut. Di setiap 3 keluarga, hampir dipastikan memiliki satu atau dua orang yang terlahir sebagai seniman dan sebagian besar dari mereka adalah musisi. Meski mungkin mereka tidak terkenal, namun saya tetap anggap mereka musisi. Musisi adalah orang yang bergerak di bidang musik dan mampu mengolah musik menjadi sebuah karya (produk).

Pada dasarnya, musisi juga merupakan sebuah jenjang profesi yang tidak memiliki batas usia bahkan ekonomi. Mereka membuat sebuah karya lagu atau musik yang bisa juga disebut sebagai produk. Sama hukumnya dengan pengusaha (entrepreneur) yang memiliki sebuah produk usaha. Yang pada ujungnya, produk tersebut dibuat untuk dinikmati oleh banyak orang dengan segmentasi usia, status ekonomi sosial dan lain sebagainya.

Produk dari musisi pun diolah dengan matang, dengan perasaan dan dengan imajinasi kreatif. Didasari sebuah ide, kemudian mereka mengemasnya menjadi nada-nada enak serta nyaman ditelinga. Hingga akhirnya banyak pendengar yang mau membelinya. Proses-proses tersebut tak ubahnya sebuah usaha kecil memiliki produk kemudian membuatnya menjadi sesuatu yang memang ingin dibeli oleh masyarakat. Disinilah saya katakan bahwa musisi juga entrepreneur.

Hanya saja, sangat disayangkan. Negara kita belum menyadari potensi hasil usaha yang diciptakan oleh para musisi. Pengelolaan industri musik atau mungkin industri kreatif yang sifatnya kekayaan intelektual, belum masuk dalam skala prioritas di Indonesia. Sehingga musisi di Indonesia seperti tidak memiliki patron yang bagus dalam pemenuhan karya serta kebutuhan berkarya.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pernah mengatakan bahwa pajak hilang dari industri musik ini mencapai lebih dari 1,3 Trilyun pertahunnya. Ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi dari dunia musik tidaklah kecil. Bila menilik 2,7 juta musisi tersebar di Indonesia dan 10% dari mereka berhasil membuat karya bagus yang akhirnya dibeli oleh banyak orang. Tentu sektor ekonomi dari bidang industri kreatif ini menjadi bertambah.

Ironis, musik di Indonesia belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahkan musik-musik dalam negeri yang begitu banyak ragamnya, perlahan dan pasti menghilang seiring gempuran musik-musik dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Musik-musik luar negeri ini seperti memotong benang merah seni dan kebudayaan asli dari dalam negeri. Bila Anak usia 10 tahun saat ini lebih banyak mendengar musik-musik populis dari luar negeri, maka bisa dipastikan saat usia 20 tahun nanti, Anak ini sedikit atau bahkan tidak akan mengenal musik-musik dari dalam negeri.

Dan diperparah dengan kondisi, keberadaan musisi yang sebenarnya adalah juga entrepreneur belum diakui oleh pemerintah dan system yang beredar di masyarakat. Mereka belum bisa memiliki akses kemudahan untuk meminjam uang di Bank agar bisa membuat karya musiknya, mereka juga belum bisa dengan mudah mengatakan kepada orangtuanya bahwa mereka ingin menjadi entrepreneur di jalur musik. Semoga ke depan, pemerintah mulai lebih punya perhatian serta memiliki andil besar untuk memajukan musisi secara pribadi maupun industri musik secara umum.

Sehingga musisi entrepreneur yang tidak diakui ini menjadi elemen entrepreneur yang diakui dan memiliki perlakuan serta fasilitas yang sama dengan entrepreneur lainnya.

Salam Sukses.

 

1 comment found

  1. semoga mereka terus dapat berkembang, karena musik datang dan kembali dari hati mereka sendiri.
    lets pray for them 🙂

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.