Nasionalisme Film Hasduk Berpola

Film Hasduk Berpola

Gara-gara sidang paripurna DPR/MPR yang lupa untuk memperdengarkan dan melantunkan lagu Indonesia Raya, seorang penulis terpicu untuk menulis sebuah cerpen tentang betapa mudahnya orang Indonesia ini melupakan sejarah, bahkan dengan lagu kebangsaan bangsa sendiri. Dimana kebanggaan? Begitu pikirnya. Akhirnya terciptalah Film Hasduk Berpola.

Bagas Dwi Bawono, kemudian mengemasnya menjadi sebuah cerita pendek yang apik, yang berlanjut menjadi sebuah film dengan judul yang sama “Hasduk Berpola”. Sila baca cerita pendek Film Hasduk Berpola dibawah ini, kemudian saksikan thrillernya di Youtube, maka Anda akan yakin untuk membawa anak-anak Anda menontonnya bersama-sama;

——->

Cerpen Hasduk Berpola, oleh: Bagas D. Bawono

Suara sepatu kuda bersahutan dengan dentang lonceng dokar yang dibunyikan Sukidi, kusir setengah baya berperawakan ceking itu. Suara khasnya berpadu harmonis dengan irama langkah kaki si Bejo, kuda coklathitam kesayangan Sukidi; seperti sebuah orkestra musik genta diiringi sederet perkusi. Sejenak kemudian tali kekang ditarik, dokar mendadak berhenti.  Bukan saja karena si Bejo diminta menghentikan ketipak langkahnya, tapi memang roda dokar terperosok ke dalam lubang selebar bahu di jalan berbatu, tepat di depan rumah Masnun. Kepala si Bejo masih mendongak ke atas tertarik tali kekang, saat Masnun turun dari dokar.

Ditepuknya pundak Sukidi, kusir kurus setengah baya yang tak pernah mau dibayar ongkos oleh Masnun,
“Maturnuwun ya mas Kidi…,” Masnun tersenyum ke arah Sukidi, nampak jelas ekspresi sungkan di wajah Masnun.
“ Nggih mbah…,” Sukidi spontan menjawab, tanpa menoleh ke arah Masnun.
Ia sibuk memutar dokarnya. Masnun berjalan gontai memasuki rumah. Sebuah rumah tua berdinding papan-papan kayu jati dan beratap genteng plentong. Lantainya terbuat dari plasteran semen ala kadarnya dengan lubang menganga di beberapa tempat. Sudah 4 bulan ia tinggal di rumah ini, sejak kepindahannya dari Surabaya. Ia menempati rumah ini bersama Rahayu, anak semata wayangnya, seorang janda beranak 2.
“ Sebaiknya kita pindah ke Bojonegoro, nduk..,” saat itu Masnun membuka pem-bicaraan dengan Rahayu, di rumah kontrakan sempit di salah satu gang di dekat pasar Genteng, Surabaya.
“ Kenapa pak…?”
“ Bulikmu kan sudah meninggal. Rumah peninggalan mbahmu di Bojonegoro ndak ada yang merawat. Lagipula, kalau tinggal di rumah warisan itu, kan kita ndak perlu mengeluarkan biaya kontrak rumah di Surabaya ini. Uangnya bisa ditabung untuk persiapan Budi masuk SMP. Dua tahun lagi kan dia sudah masuk SMP.”
Rahayu terdiam, ia tak berkata sepatahpun. Banyak hal berkecamuk di dadanya. Ia memikirkan pekerjaan apa yang nanti akan bisa dilakukan di Bojonegoro. Sementara sebagai penjahit, di Surabaya ini dia sudah mempunyai beberapa pelanggan. Berarti dia harus merintis dari awal lagi.

Rahayu juga memikirkan pemindahan sekolah anak-anaknya, Budi dan Bening. Tentunya tidak akan semudah yang dibayangkan, sebab salah satu wasiat almarhum suaminya adalah menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya, di sekolah yang sebaik-baiknya dia mampu. Belum lagi Rahayu memikirkan bahwa dia akan jauh dari makam suaminya tercinta. Sudah terbayang, dia tak akan bisa lagi setiap bulan berziarah ke makam suaminya itu. Sementara ini Rahayu belum bisa membayangkan kehidupan macam apa yang akan dijalani di Bojonegoro. Tapi melihat optimisme yang terpancar dari mata ayahnya, ia berangsur yakin, tentunya semuanya akan menjadi lebih baik di sana. Tidak seperti sekarang, meski Masnun adalah seorang veteran yang sangat disegani. Bahkan tak jarang kawan-kawan dan orang-orang sekitar menyebut Masnun sebagai salah satu pahlawan peristiwa 10 Nopember di Surabaya yang masih hidup.

Namun kegalauan masih saja bersarang di pikiran Rahayu, meski ayahnya adalah pelaku peristiwa bersejarah penyobekan bendera di Hotel Yamato, dan salah satu veteran yang dielu-elukan sebagai pahlawan, justru ia hidup sangat berkekurangan di kota Pahlawan. Sangat ironis.
“Jadi, kamu siap-siap ya nduk, bulan depan kita pindah,” suara Masnun mengagetkan lamunan Rahayu.
“Besok Bapak mau ke Bojonegoro, mencarikan sekolah untuk anak-anakmu. Kebetulan Bapak ada kawan yang bisa dimintai bantuan. Dulu dia bekerja di Dinas Pendidikan.”
“Gak usah pak.., biar saya saja yang ke sana, Bapak disini sama anak-anak.., nanti bapak malah kecapekan..,”
Rahayu mencoba bernegosiasi.
Masnun memandang lekat ke mata Rahayu,
“Nduk, kamu di Surabaya saja ngurusin rumah dan anak-anakmu. Lagipula Bapakmu ini kan lebih menguasai daerah Bojonegoro daripada kamu. Bapak sudah biasa berjuang, ndak usah kuatir kamu..,” masih kental nada tegas Masnun, keras dan berkesan memerintah.

“Assalamu’alaikum..!!”
Suara Masnun membuyarkan lamunan Rahayu, ia sedikit membungkuk ketika melewati pintu rumah.
“Wa’alaikum salam…,” Bening dan Rahayu serempak menjawab.
Bening selintas memandang kakeknya memasuki rumah. Rahayu menghampiri Masnun, dan menyambut tas plastik yang ditenteng Masnun. Tas hitam lecek berisi baju ganti. Budi yang duduk di hadapan Bening, asyik melanjutkan PR-nya, sama sekali tak terpengaruh kedatangan kakeknya itu. Masnun menuju kamar mandi, tangannya mengelus kepala Budi sebentar. Di luar sudah mulai gelap, langit semburat indah melukis berkasberkas jingga di atas kanvas biru tua.

Tangan keriput Masnun mengelap perlahan biola tua peninggalan almarhum ayahnya, pak Karto Piul. Kata Piul ditambahkan di belakang nama pak Karto karena memang ayah Masnun ini sangat terkenal sebagai pemain biola. Biola dalam bahasa Jawa sehari-hari biasa disebut ‘piul’ atau ‘fiul’, sebuah adaptasi bebas dari bahasa Belanda, viool. Pada jaman kejayaannya, pak Karto Piul sering diundang untuk bermain biola pada jamuan-jamuan resmi Bapak Bupati Bojonegoro. Baik bermain solo, maupun bersama-sama dengan orkes keroncong ‘Soeara Madjoe’ yang dipimpinnya. Bila bermain Solo, biasanya ia membawakan lagu-lagu klasik. Karya Chopin adalah favoritnya. Sebagai musisi terkenal, pak Karto mendapatkan kesempatan menyekolahkan Masnun, anak semata wayangnya hingga MULO, jenjang pendidikan dengan bahasa Belanda sebagai pengantar. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs berarti “Pendidikan Dasar Lebih Luas”) adalah setara dengan Sekolah Menengah yang jarang dinikmati anak pribumi.

“Biola kok dielus-elus aja Nun.., hayo, dimainkan…,” suara Parlan mengagetkan Masnun yang duduk melipat kaki di amben bambu, satu-satunya perabot di teras depan rumah Masnun.
“Eh..Lan.., darimana kamu..,” Masnun melirik sahabatnya itu, “Ngapain kamu bawa-bawa trumpet bututmu
itu..”
Masnun meletakkan biolanya, sambil menyeruput kopi, tangannya menyalakan radio transistor di sebelahnya. Lalu ia meraih sisa rokok klobot yang tinggal separo di asbak. Disulutnya klobot itu, segumpal asap tak diijinkannya mengepul, sebab buru-buru disedotnya dalam-dalam.
“Nuuun…Nun…., mbok ya kamu itu berhenti merokok…,”Parlan geleng-geleng.
“Wong kesenangan cuman satu ini aja kok kamu larang Lan…!”
Tangan Masnun meraih tombol volume, dibesarkannya suara berita malam di radionya. Mimiknya yang tadi santai, tiba-tiba berubah serius. Pandangannya tegang menatap radio. Parlan jadi ikutan menyimak.“… nampaknya bangsa ini sedang mengalami krisis nasionalisme yang sangat parah. Terbukti dengan kejadian yang sangat memalukan ini. Mereka, para wakil rakyat, yang seharusnya menjadi teladan bagi seluruh rakyat Indonesia, telah berbuat khilaf …”

Jemari Masnun kembali menyentuh tombol radio, volume dibesarkannya lagi. Parlan mendekatkan kepalanya ke arah radio. Rahayu yang mengamati perilaku kedua orang kakek ini dari tadi, hanya tersenyum, lalu ia melirik Budi. Rupanya anak ini juga menyimak berita di radio.
“ … dan, kekhilafan ini bisa dikatakan sangat fatal. Para Wakil Rakyat ini lupa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya pada Sidang Paripurna menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat, 14 Agustus yang lalu…, maka…. “

Klik!

Radio dimatikan Masnun. Parlan masih melongo.
“Ndak menghargai perjuangan sama sekali. Mau jadi apa negara ini. Dipikirnya bangsa ini merdeka begitu saja, dapat hadiah dari langit, tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan. Para penggede itu kan harusnya ngerti, apa arti lagu kebangsaan, apa arti bendera…. itu kan atribut kebangsaan kita Lan..!”
“Iya ya…, kebangeten.., masak acara kenegaraan kok sampai lupa menyanyikan Indonesia Raya….,” Parlan bersungut-sungut.
“Udah ah…, aku pamit dulu.., tadi itu aku cuman mau ngingetin, besok berangkat ke tempat kerja agak pagian. Mau ada pengarahan dari Dinas.”
“Oh iya Lan…, aku mau ngomong…,” Masnun buru-buru menyela sebelum Parlan beranjak.
“Ngomong apa Nun..”
“Emm… aku kayaknya mau berhenti saja kerja Lan. Aku ndak kuat kerja di penambangan. Badanku udah ndak bisa Lan.. ndak bisa dipaksain.”
“Lho.., memangnya gaji veteranmu sudah turun Nun..?”
“Belum Lan… ternyata ndak mudah mindahin gajian dari Surabaya ke Bojonegoro. Lama…,”suara Masnun
melemah.
“Terus…? Kamu mau makan apa Nun…?”
“Rahayu sudah diterima kerja di warung rawon bu haji, sambil mulai cari-cari pelanggan jahitan disini. Lumayan, dia suka bawa masakan sisa buat kita Lan…”
“..hmm….,” Parlan menelan ludah, perasaannya berkecamuk, antara haru, sedih dan khawatir.
“Apa cukup, Nun…?”
“Alhamdulillah dicukup-cukupkan Lan…, lagian mulai minggu depan aku buka lapak tambal ban saja Lan, kebetulan peralatan montir sepeda milik almarhum Parjo masih disimpan rapi oleh almarhum Sinah, adikku. Masih lengkap lagi. Kemarin aku ndak sengaja nemu di gudang belakang.”

BYUUUR!!

Budi mengayuh tangannya sekuat mungkin. Ia berada 1 meter di depan Kemal. Sesekali ia menoleh ke belakang, mengukur jarak dengan rivalnya itu. Faisal, Harun, Arman dan Arga berteriak menyemangati Budi. Sementara Dadik, Taruna, Arum dan Lita meneriaki Kemal agar mengayuh lengan dan kakinya lebih cepat. Beberapa menit yang lalu, dua kubu yang selalu berseteru ini saling menantang dan adu mulut. Budi, Arga, Harun, Faisal dan Arman adalah sekumpulan anak-anak bandel yang sering bikin ulah di sekolah. Sedangkan Kemal, terkenal sebagai anak pintar. Ia selalu berganti-ganti ranking pertama dan kedua dengan Arum, seolah mereka telah sepakat untuk bergiliran menjadi juara kelas. Kemal adalah ketua kelas, wakilnya Dadik. Kemal, Arum, Dadik, Lita dan Taruna seringkali belajar kelompok bersama. Mereka aktif hampir di semua kegiatan yang diadakan oleh sekolah.

Budi yang bandel dan pemberani selalu mengambil kesempatan untuk mengalahkan Kemal. Ia merasa tak mungkin bisa mengalahkan Kemal di bidang pelajaran, sebab ia tahu, Kemal sangatlah pintar. Maka di bidangbidang lain ia selalu mencoba menantang. Sore ini, saat Budi beradu renang dengan Faisal di tepian Bengawan Solo, kebetulan Kemal dan kawan-kawannya melintas. Mereka berseragam Pramuka lengkap.
Faisal yang baru saja dikalahkan Budi, rupanya iseng dan menjajal kehebatan Budi dengan menantang Kemal. Kemal semula tak mau meladeni, sebab ia telah berpakaian rapi. “Ayo Mal.., mosok berenang sama Budi aja gak berani. Katanya pelajar teladan..,” Harun meledek Kemal.
Kemal bergeming, terus berjalan.
“Mal.., ladeni aja.. daripada kamu dilecehkan,” Dadik berbisik di telinga Kemal.
Kemal melirik selintas, “…males!”
“Jangan pura-pura budeg Mal, bilang saja kalau gak berani…,” Arman menimpali.
“Dadik, Taruna…, kasih tahu temenmu itu… jangan seperti banci..!” Budi berteriak.
Kemal berhenti, mukanya memerah. Ia paling benci dikatakan banci.
“Ngapain kamu..!? Marah ya…? Hayo turun sini, adu berenang kalau berani…, kita buktikan kalau kamu bukan
banci..!!”
“Ok…, kita buktikan siapa yang banci..!!” Kemal bergegas membuka baju seragamnya. Taruno sibuk membantu mengemasi.

BYUUUR!!

Budi berlari kencang, di belakangnya terdengar jelas suara tawa teman-temannya. Terbahak-bahak. Kemal yang baru saja memenangkan adu renang cuma tersenyum saja melihat Budi berlari pulang menanggung malu. Langit memerah di cakrawala. Biasnya memantul berkilau-kilau di permukaan Bengawan Solo yang sedang surut. Air Bengawan di musim kemarau seperti ini sangat bersahabat. Tapi jangan ditanya di musim hujan, permukaan sungai terpanjang di pulau Jawa ini bisa meluap hingga 5 meter di atas permukaannya saat ini. Budi berlari melewati surau. Bening yang sedang mengaji menatap kakaknya itu lekat-lekat. Sebentar kemudian Bening dan kawan-kawannya bersiap pulang, karena maghrib segera datang.

Budi berbaring membisu. Ia menatap bagian atas kamarnya. Bilah-bilah bambu yang menopang genteng berjajar rapi. Dihiasi sisa-sisa rumah laba-laba lusuh bercampur debu. Abu-abu kusam. Ia dengan leluasa bisa mengamati itu semua sebab rumah tua ini tak dilengkapi langit-langit. Jika pagi datang, kamarnya akan dihiasi dengan sorotan cahaya matahari yang menelisip disela-sela genteng. Budi membayangkan kamarnya seperti panggung megah dengan belasan lampu sorot. Lalu matanya menatap beberapa layang-layang bergambar wayang di dinding kamarnya. Layang-layang kebanggaannya, buatan tangan almarhum ayahnya.
“Bud…, makan dulu le….,” Rahayu melongok di pintu kamar, membuyarkan lamunan Budi.
“Habis itu belajar ya…”
Budi berjalan keluar kamar, sandalnya diseret, malas.
“Paling-paling makan kuah rawon sisa lagi…,” Budi menggerutu, nyaris tak terdengar.
“Mas…!” Bening melotot setengah berbisik.
Rahayu pura-pura tidak mendengar.
“Pak, sekalian makan bareng yuk..,” ia menawari Masnun bergabung.
Masnun bergeming, ia malah mengangkat biolanya dan mulai menjepit diantara bahu kiri dan dagunya. Digeseknya perlahan, mengalun lagu Di Timur Matahari karya W.R. Supratman. Rahayu tertegun mendengarkan alunannya. Ayahnya memang sangat piawai memainkan biola. Ia mewarisi kepiawaian almarhum kakeknya, pak Karto Piul. Wajah Masnun sangat serius. Matanya memejam, sehingga tidak gampang mencerna ekspresinya, apalagi menebak apa yang sedang bergemuruh di dadanya.

Budi mengendap-endap diantara rerimbunan rumpun bambu. Faisal membungkuk di belakangnya. Disusul Harun dan Arman. Arga yang berbadan tambun memilih untuk mengawasi kawan-kawannya dari seberang jalan. Mereka sekarang jongkok tepat disamping pagar tembok rumah Kemal.
“Sssst, hati-hati Run, kepalamu jangan mendongak, nanti kelihatan dari dalam.”
“Kepalanya Arman tuh yang lebih gede, rambutnya aja jabrik, lebih tinggi dari tugu pahlawan. Kik..kik..kik…,”Harun tertawa tertahan.
“Kwekekeke…., menantang langit….,” Faisal menambahkan.
“Sssst….!,” Budi mulai marah, “Berisikkk…!!”
Faisal memberi isyarat tangan, meminta teman-temannya mendekat. Ia telah berada di posisi yang nyaris tak terlihat dari halaman rumah Kemal. Rumah berdinding bata itu memang nampak paling mewah diantara tetangga-tetangganya. Di halaman samping parkir sebuah mobil Kijang berwarna hitam. Disekelilingnya dil-indungi pagar tembok setinggi 1,5 meter. Khusus di halaman belakang dan samping, pagar ini mempunyai tinggi hampir 2 meter.
“Lihat, itu benang gelasan layang-layang Kemal. Sedang di jemur di halaman belakang. Kita cari tahu, kenapa dia selalu menang adu layangan,” Budi penasaran.
“Sssst..diam! Mereka datang..!”
Kemal keluar dari pintu samping rumahnya. Diikuti Dadik dan Taruna.
“Gelasan kamu memang gak ada tandingannya Mal,” Taruna memuji kawannya itu.
“Ah, ini bukan karena aku yang ahli Na, tapi semuanya karena kak Indra. Sejak kita dibimbing kak Indra, kita banyak kemajuan kan. Tidak hanya ketangkasan dan pengetahuan kepramukaan kita bertambah, tapi hal-hal lain juga diajarkan.”
“Iya ya, sampai bikin benang gelasan layang-layang aja diajarkan Kak Indra,” Dadik menimpali, “Cara mengayuh kaki dan lengan saat berenangpun dia ajarkan…”
“Belum lagi teknik-teknik beladiri,” Taruna menerawang, “Dia kan pernah mewakili Jawa Timur di PON.., dia pesilat tangguh!”
“Dia juga Pembina Pramuka Teladan Jawa Timur lho…”
Budi dan kawan-kawan yang sedari tadi nguping melongo menyaksikan percakapan Kemal, Dadik dan Taruna. Berbeda dengan kawan-kawannya yang mendengarkan dari telinga kiri dan keluar telinga kanan, Budi memutar otak. Ia menyimpulkan. Ia sadar kini, kenapa Kemal begitu tangguh, begitu cekatan dan lihai. Belum pernah ia sanggup mengalahkan Kemal, baik pelajaran sekolah, hingga permainan layang-layang dan adu berenang, Budi selalu kalah. Kini ia faham, ternyata Kemal hebat, karena ia ikut Pramuka!

“Arum.., Lita.., yang namanya kak Indra yang mana ya…?” Budi mendekati dua temannya itu dengan canggung.
“Kamu mau ngapain cari kak Indra..?”
“Aku mau ikut Pramuka..”
Kemal dan Dadik mengamati percakapan mereka dari jauh. Tak lama kemudian Budi berjalan mengikuti kedua kawannya itu ke ruang guru, menemui kak Indra.
“Jadi, atributnya harus lengkap ya kak…?” Budi agak terbata.
“Iya Bud.., tapi ya gak perlu sekaligus… semampumu aja dulu..,” kak Indra seperti sudah memahami apa yang
sedang Budi pikirkan.

“Kita ngamen aja Bud…,” Harun mulai nyerocos, “ Paling-paling kita ngamen seminggu sudah dapat uang untuk beli semua atribut Pramuka itu..”
“Iya Bud, kakaknya Harun kan punya ukulele.. biar Harun yang main, nanti aku pegang icik-icik, Arman yang tepuk-tepuk tangan. Kamu nyanyi Bud, Arga yang nagih duitnya, kan badannya paling gede tuh…sambil
nakut-nakutin, hahaha……,” Faisal terkekeh.
“Emoh..!,” Budi bersungut-sungut, “Aku gak mau ngamen..!”
“Ngamen tuh kerjaannya orang gak kreatif, aku mau cari uang sendiri!”
Keempat temannya melongo, saling berpandangan.

“Wah, lapakmu sudah mulai buka ya…?,” Parlan menarik bangku kayu di lapak Masnun.
Masnun melirik sekilas, ia sedang sibuk menambal ban belakang sebuah sepeda milik seorang anak.
“Sepedamu bagus…, kamu sekolah dimana le..?,” Parlan menyapa anak lelaki itu. Seorang anak berbadan bongsor.
“Di SD Kadipaten 2 mbah…,” jawab anak itu.
“Belajar yang rajin le.., biar besok gede jadi pengusaha sukses. Jangan kayak mbah Masnun ini, sudah berjuang membela negara bertaruh nyawa, masa tuanya jadi tukang tambal ban…hehe,” Parlan terkekeh, menyindir Masnun tanpa menoleh.
Meski Masnun ikut tertawa, namun ia menahan matanya yang mulai berkabut, hatinya kecut.
Masnun menatap tajam ke arah Parlan, lalu ia tersenyum sinis dan mulai membalas,
“Iya le.., sama dengan mbah Parlan itu… sudah capek-capek bergerilya, ujung-ujungnya cuma jadi buruh penambangan. Gajinya buat makan saja pas-pasan, makanya bajunya ndak pernah ganti…, baunya seperti kubangan…”
“Tapi saya kan bukan pahlawan le.., kalo mbah Masnun ini kan pahlawan terkenal. Saksi sejarah. Salah satu pejuang yang terlibat peristiwa penyobekan bendera tanggal 10 Nopember 1945 di Surabaya. Yang sekarang masih hidup, ….. meski hidupnya terlunta-lunta…,” Parlan terus saja menyindir Masnun.
“Dia itu terkenal lho le, siapa veteran di Surabaya yang ga kenal mbah Masnun. Pahlawan yang disegani. Tapi sayangnya, sang pahlawan ini harus terusir dari kota pahlawan, dan terdampar di kota kecil ini, Bojonegoro, kembali ke habitatnya…hehe…”
“Ndak lucu blass..!,” Masnun mulai marah.
“Ya memang ga lucu Nun…, ga ada yang lucu, tapi ironis..!”
Masnun mengencangkan baut as roda belakang setelah selesai menambal. Lengan tuanya berkontraksi saat ia
memompa ban itu, nafasnya sedikit ngos-ngosan.
“Berapa mbah..?”
“Tujuh ribu le..”
“Wah saya cuma bawa lima ribu mbah..,” anak itu menjawab ragu.
“Ya sudah…, ndak papa…”
Parlan terkekeh, ia pandangi Masnun yang memasukkan lima ribuan itu ke saku celananya.
“Pahlawan sejati, di negeri merdeka, memeras keringat, cuman dihargai lima ribu perak…!”

Budi menyeka peluh di keningnya. Setengah berlari, ia mengangkut karung-karung kecil berisi bawang merah di pundaknya. Ia menurunkannya dari truk dan diantarkannya ke beberapa kios di dalam pasar. Sudah dua hari ini ia membantu mas Kiman mengantar bawang. Ia tak tahu, berapa mas Kiman terima upah dari sopir truk itu. Yang jelas kemarin ia menerima 5.000 rupiah dari mas Kiman. Ia sudah membayangkan, besok akan terkumpul 15.000 rupiah, cukup untuk membeli hasduk. Hasduk, demikian orang Surabaya biasa menyebut dasi pramuka berwarna merah putih itu. Sebenarnya hasduk adalah berasal dari bahasa Belanda, ‘halsdoek’ (hals=leher, doek=kain) yang berarti syal. Lidah Jawa lebih gampang menyebutnya sebagai hasduk. Esoknya, setelah menerima upah dari mas Kiman, Budi bergegas ke Toko Nasional, sebuah toko perlengkapan Pramuka di Jl. Sudirman. Ia berjalan kaki menyusuri trotoar, sambil menggenggam uang 15.000 rupiah. Di pertigaan dekat pasar, ia melihat kerumunan orang. Budi mendekat, ingin tahu apa yang terjadi. Rupanya telah terjadi kecelakaan, seorang anak digotong ke becak. Budi melihat sebuah ukulele hancur berantakan. Darahnya terkesiap.
Ia menghambur menembus kerumunan, ia merangsek maju dan berusaha melihat siapa yang jadi korban.
“Tabrak lari…,” beberapa orang menggumam.
Budi sudah di samping becak dan melongokkan kepalanya.
“Ya Tuhan…, mas Hari..!!” Budi tertegun melihat kakak Harun itu tergeletak tak sadarkan diri.
“Ayo cepat bawa ke rumah sakit..!” seorang bapak tua yang menggendong Hari berteriak ke arah tukang becak. Budi spontan berlari mengikuti dari belakang. Pikirannya berkecamuk, apa yang harus ia katakan pada Harun nanti. Ia melirik genggamannya, gulungan uang itu. Ia ragu, ditatapnya uang 15 ribunya itu sambil terus berjalan cepat. Namun sekejap ada tenaga kuat yang mendorong tangannya menyelipkan uang itu di saku celana Hari. Becak melaju meninggalkan Budi dengan segumpal perasaannya.

Tangan Budi bergetar saat ia menyerahkan layang-layang bergambar wayang itu kepada Iwan. 4 buah layanglayang indah buatan almarhum ayahnya itu laku Rp. 17.500,- Tadinya sih ditawarkan 20 ribu, tapi Iwan tidak mau. Budi nekat menjualnya karena kemarin kak Indra menegaskan, bahwa sebelum mengikuti Jambore di Malang, para calon peserta Jambore harus ikut Persami (Perkemahan Sabtu Minggu), sebagai ajang latihan sekaligus seleksi peserta. Pada acara Persami tersebut, semua peserta diwajibkan mengenakan atribut lengkap. Kini uang sudah di tangan. Budi bergegas menuju toko Nasioanal. Di pertigaan Jalan Sudirman dan Jalan Dr. Sutomo, Budi menatap seorang penjual asesoris yang duduk terkantuk-kantuk di bawah pohon angsana. Postur dan wajahnya mirip sekali dengan Masnun. Budi tersentuh. Lalu ia mendekat, kakek tua itu duduk di tepi trotoar diantara pikulan bambu yang memuat banyak asesoris anak perempuan yang dibungkus plastik kecil-kecil. Ada sisir, pita, jepit rambut hingga cermin. Ada yang bermotif bunga, tweety, angry bird, dll. Mata Budi terpaku pada jepit rambut berwarna merah muda dengan gambar Barbie di ujungnya.
“Berapa ini mbah…?”
“Dua ribu limaratus nak…”

“Cik…, beli hasduk..,” Budi mengagetkan penjual peralatan Pramuka.
Wanita setengah baya itu menyodorkan hasduk tanpa melihat Budi sedikitpun, matanya terus menatap acara sinetron di televisi.
“Nih..!”
“Ini uangnya..,” Budi menyorongkan segumpal uang.
Penjual hasduk mulai menghitung.
“Berapa ini..?!”
“Limabelas ribu kan…?”
“Udah naik, sekarang 17.500!!”
Budi berjalan lemas memasuki kamarnya, ia berhenti sejenak di samping Bening yang sedang mengerjakan PR. Ditaruhnya pelan, jepit rambut Barbie yang masih dibungkus plastik, tepat di samping buku Bening. Bening menatap bergantian, jepit itu.., dan wajah murung kakaknya.

Kak Nuri, pembina Pramuka yang manis berambut pendek, mendekati Budi.
“Bud, besok latihan terakhir sebelum Persami ya. Kakak lihat kamu masih juga belum memakai hasduk..”
“Iyy..iyya…kak..,” Budi tergagap.
Tiba-tiba Kak Nuri mengeluarkan sebuah hasduk kecil dari tas ransel hijau tua.
“Ini Bud…, kamu pakai aja.., adikku sudah gak memakainya lagi, kekecilan..”
Budi menatap Nuri tak berkedip. Segampang inikah akhir pencarian hasduknya, Budi berpikir. Diam-diam ia bersyukur, dan semakin mengagumi kakak pembina favoritnya ini. Sore itu, selepas latihan, Budi berlari girang. Hasduk dikibar-kibarkannya sepanjang trotoar. Pada setiap orang yang ditemui, ia melambaikan kain segitiga berwarna merah putih itu.
Ia mengibas-ngibaskan hasduk basah. Perlahan ia letakkan hasduk yang baru dicuci itu di atas meja beralaskan selimut tebal. Budi menggesek setrika panas. Asap mengepul dari kain yang masih lembab itu. Sejenak matanya menyipit, mengelak dari asap panas, sebelum suara keras itu mengagetkannya.
PRANGG..!!
“Wah…, gelas kopi mbah pecah…!!” Budi refleks, melompat ke teras depan. Seekor kucing belang berlari menyelinap ke balik belukar. Budi mulai memunguti satu-persatu pecahan gelas.
“Mas Budiiiiiiiiiiii…..!!!! Hasdukmu terbakaaaarrr….!!!!!!” suara Bening menggelegar seperti sambaran halilintar.

Bening mengintip perlahan, kakaknya terlelap, matanya sembab. Beberapa bagian hasduk basah karena airmata. Dengan sangat hati-hati ia tarik hasduk Budi. Bening faham, hasduk ini sangat berarti buat kakaknya. Ia lalu mulai mengaduk-aduk isi lemari. Ditemukannya selembar kain belacu kusam, selimut mereka ketika bayi. Dijiplaknya hasduk itu di atas selimut. Lalu mulai diguntingnya. Sejenak kemudian Bening mengaduk-aduk kain-kain perca sisa jahitan ibunya. Tapi ia tak menemukan kain berwarna merah. Bening tepekur. Ketika ia hampir menyerah, tak sengaja matanya tertuju pada selembar seprei warna merah marun penuh dengan pola-pola bunga kuning kecil dan gambar kepala Barbie. Ya, seprei Barbie kesayangannya itu berwarna merah. Tangan kiri Bening mengelus perlahan seprei berwarna merah marun itu. Tak kuasa ia menahan linangan airmatanya. Ekspresinya kosong. Tak mudah menduga apa yang dirasakan Bening ketika tangan kanannya mulai
menggunting. Hasduk gosong milik Budi telah terjiplak di seprei Bening. Pandangannya buram ketika ia mulai
menjahit Hasduk Berpola itu dengan tangannya yang mungil.

“Kurang 4 kali lagi…!!” kak Indra berteriak pada Budi yang berlari mengelilingi lapangan. Nafasnya ngosngosan, bagian punggung seragam Pramukanya telah basah kuyub.
“Setelah lari keliling lapangan 20 kali, kamu membersihkan WC sekolah ya..!!”
Masih terngiang di telinga Budi, bagaimana kak Indra marah, karena ia datang berlatih Pramuka dengan memakai Hasduk Berpola, sebuah hasduk jahitan tangan Bening yang bagian merahnya berwarna merah marun dengan pola bunga-bunga dan kepala Barbie, dan bagian putihnya kain belacu kusam.
“Kamu menghina merah putih Bud…, masak bendera kita itu ada gambarnya Barbie…!!” Budi menunduk dalam, “…putihnya lagi…, masak belacu kumal sepeti ini…!”
“Kamu tidak menghargai bangsa kita, kamu tidak menghargai pahlawan-pahlawan yang dulu telah menyabung
nyawa demi merah putih, demi bebasnya negeri ini..!!”
Disepanjang jalan pulang, Budi hanya menunduk. Seakan ia berusaha menahan agar lava pijar yang mendekam di dadanya tidak sampai meledak dan memuntahkan awan-awan panas. Ia lampiaskan energinya dengan berlari, berkejaran dengan bayangan panjang tubuhnya ditingkah sinar lembayung matahari senja.

Hasduk berpola dilempar sekenanya. Terpuruk ia tepat di kaki Rahayu yang baru saja beranjak keluar dari kamarnya. Alis Rahayu mengkerut, bibir sedikit ditarik pertanda kecemasannya.
“… ada apa Bud …., kenapa hasdukmu dibuang…?”
Budi membisu. Rahayu meraih lengan ceking Budi. Lalu mereka berdua duduk di tepi ranjang, di kamar Budi yang berhadap-hadapan dengan kamar Bening.
“ … kamu tahu nak, hasduk ini mewakili sang merah putih. Dan jangan pernah kamu melihat sang merah putih dari fisiknya, tapi kamu harus membaca jiwanya. Sebab merah putih adalah jiwa bangsa kita, kehormatan kita.”
Budi menatap kedua mata teduh ibunya itu. Rahayu mengulum sedikit senyum. Dielusnya kepala Budi, lalu ia memeluk pundak kurus anak laki-lakinya.
“ Kamu seharusnya tahu, Bud …, merahnya hasduk ini, meski berpola-pola kepala Barbie dan bunga-bunga kecil begini, ia mewakili pengorbanan adikmu.”
Rahayu menunjuk seprei Bening yang berlubang segitiga menganga.
“Tiga tahun Bening menabung untuk bisa membeli seprei itu, tapi ia korbankan demi kamu Bud…”
Budi tercekat, ia terharu.
“Lalu…, kamu tahu ini apa..?”
Rahayu menunjukkan bagian warna putih di hasduk berpola itu.
“Meski ini terbuat dari belacu kumal…., tahukah kamu, bahwa ini digunting oleh Bening dari selimut kalian
ketika masih bayi. Dulu, ketika kamu lahir…, almarhum ayahmu tak mampu membeli selimut. Jadi, beliau membuatnya dari karung terigu, dan dijahitnya sendiri dengan tangan.”
Mata Budi berkaca-kaca, ia kangen sekali dengan almarhum ayahnya.
“Maka…, putihnya hasduk ini, mewakili cinta kasih ayahmu, nak. Padamu, pada Bening…dan pada ibumu
ini…,” Rahayu mulai meneteskan airmata.
“Sebenarnya…., hasdukmu ini setara kemuliannya dengan bendera sobek yang ada di peti kakekmu…”
“Bendera apa Bu…?”
“Bendera saksi sejarah itu…, saksi peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya, Bud….”
Budi menatap lekat peti usang milik Masnun. Teronggok berdebu di bawah tempat tidur kakeknya itu.

Budi membuka perlahan peti tua. Terlihat olehnya sebuah bendera lapuk berwarna merah kusam dan putih kecoklatan. Digesernya peci veteran lusuh berwarna jingga pudar yang terletak di atas lipatan bendera. Ia meraihnya, lalu membentangkannya. Segera saja matanya menangkap dua lubang bekas peluru yang terletak tepat di perbatasan merah dan putih.
Masnun mendekat. Ia duduk di tepi tempat tidur, tepat di atas posisi Budi yang jongkok menghadap peti. Meski tak bicara, mata Masnun bergetar, berkaca-kaca. Tatapannya sayu. Sebuah genangan menggulirkan sebutir air bening menerabas pipi keriputnya. Jatuh begitu saja menimpa peci jingga. Budi mendongak, memandang lekat kakeknya.

“ Budi bangga sama mbah….”Masnun terguguk.
“Mbah adalah pahlawan bangsa, pahlawan keluarga, pahlawan Budi dan Bening…”
Mulut Masnun membuka perlahan, seakan ingin berucap namun tertahan.
“Budi ingin seperti mbah….”
Tiba-tiba Masnun berdiri dan memeluk Budi. Tak kuasa ia menahan perasaannya.
“Mbahmu ini bukan pahlawan Bud…, mbahmu ini pengecut… pecundang…”
Budi menarik wajahnya dari pelukan Masnun, ia berusaha menatap mata kakeknya.
“Pecundang mbah….?”
“Iya le…”
“Bendera inilah saksinya…, saksi bahwa mbahmu ini pecundang, bukan pahlawan…”
“Bukannya mbah ada di Hotel Yamato saat itu…? Bukannya mbah terlibat peristiwa itu…?
“Iya Bud, mbahmu memang ada di sana, tapi mbahmu ini sama sekali bukanlah pahlawan…, tapi mbahmu ini pecundang…”
“Pecundang mbah….???”
“Saat itu.., mbah dan teman-teman pejuang akan memasang bendera ini di atap Hotel Yamato, menggantikan bendera merah-putih-biru yang dipasang Belanda. Namun di tengah pertempuran sengit, cak Ali, yang seharusnya memasang bendera ini ke atas atap, tertembak. Dua peluru menembus dadanya…”
Tangan Masnun mengusap kedua lubang di bendera.
“Sebelum meninggal cak Ali berpesan… pasang bendera ini ke atas atap Nun.., janji ya..!?” lalu ia wafat.
“Mbahmu ini mengiyakan dan berjanji memasang bendera ini ke atas atap hotel Yamato. Sekarang hotel itu
bernama Hotel Majapahit.”
“Lalu…?” Budi menyela.
“Saat mbah membawa bendera ini mendekati hotel, mbah diberondong peluru, dan mbahmu ini ngumpet di selokan. Kawan-kawan mbah yang lain mencari-cari mbah dan bendera ini, tapi ndak ketemu. Akhirnya, karena ndak sabar, mereka langsung naik ke atap hotel dan menyobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga tinggallah sang dwi-warna : merah putih..!!”
“Hingga kini bendera ini masih disini.., saksi kepengecutan mbahmu ini. Mungkin sampai mbahmu ini matipun amanah ini tak akan pernah dijalankan…”
Masnun kembali menangis terguguk. Perasaan Budi berkecamuk. Sebagai anggota Pramuka, rasa kebangsaannya tergugah. Semangat juangnya terbangkitkan. Rasa kecintaanya kepada bangsa dan negara berdentum-dentum sepeti genderang. Ia menggenggam erat ujung bendera. Meremasnya hingga serat-serat kain itu menghangat menembus kulit jangat. Terus
mengalir deras, menuju jantung, pusat semangatnya.
“Aku yang akan memasangnya…
Aku yang akan mengembalikan martabatmu mbah…,
Aku yang akan menjalankan amanahmu…,
Dan aku yang akan memasang janji kebangsaan itu….!”

—————|

Thriller Film “Hasduk Berpola

 

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.