Orang Sukses itu Sombong

Suatu hari, saya pernah bertanya pada Goenawan Mohammad sebagai orang satu kampung. “Pakde, kenapa tidak pulang ke kampung dan bangun kampung kita?”. Jawabannya, “Sebuah kesulitan ketika pulang Kampung adalah sulitnya mendapatkan teman bicara yang frekuensinya sama”.

Dengan mimik tidak puas, saya tinggalkan GM dan teman-teman lain yang sedang berdiskusi. Saya berpikir, GM memang sombong persis seperti yang dikatakan oleh orang-orang di kampung sana. GM tidak pernah lagi mau pulang apalagi membangun kota kecil, dalam batinku “mungkin karena dia sudah sibuk sama bisnisnya yang milyaran”. 

Hingga saat pulang ke rumah kosong yang menjadi hunian bersama teman dekat, saya berkali-kali membicarakan GM dengan hati dengki dan mungkin wajah bersungut-sungut saking tidak bisa menerima jawabannya.

Sekilas perbincanganku dengan GM itu terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Saat saya masih harus mengamen dari Kereta ke Kereta. Saat itu saya berpikir, ngapain juga mikirin orang yang sudah tidak memiliki keinginan membangun daerah kelahirannya. Karena saya yakin tidak hanya GM yang berpikir begitu, yang sudah sukses lainnya juga pasti begitu.

Seiring perjalanan waktu, saya berhasil menggapai beberapa hal yang menjadi impian. Berhasil belajar banyak dari membaca buku, dari pertemanan hingga dari contoh yang ada di jalanan. Perlahan dan pasti saya juga berhasil menjejakkan kaki di Negeri orang dan keliling Indonesia.

Dalam rentang waktu tersebut, saya lebih sering mendekam di rumah kakak atau hotel tempat menginap dibanding bersilaturami ke teman-teman manakala sedang di kampung halaman. Bila keluar dari Hotel, mobil saya tinggal dan menggantinya dengan jalan kaki atau naik becak. Pikiranku waktu itu, saya ingin menjadi orang yang tidak menonjol dihadapan banyak orang.

Hingga saat libur lebaran, ada undangan untuk acara Reuni SMP. Tentunya, karena sudah lebih dari 20 tahun tidak bertemu dengan mereka, saya antusias menyambutnya. Bahkan dengan senang hati ikut mendonasi diluar iuran pokok.

Saat acara berlangsung, pada awalnya perasaan senang tidak bisa ditutupi, bahagia rasanya melihat teman-teman tertawa ceria dan saya masih bisa menemui mereka. Hingga pelan-pelan rasa keterasingan muncul saat sedang dalam perbincangan bersama teman-teman.

Beberapa kali candaan dan bicaranya teman-teman mulai membingungkan. Saya yang sudah lama tidak pulang kampung dan berinteraksi dengan mereka, tentu tidak bisa dengan mudah “blending” atas candaan dan pembicaraan mereka. Dan saya masih yakin bahwa ini hanya karena saya lama tidak bercanda dengan mereka.

Rasa bahagia bertemu lagi dengan mereka masih membuat saya ingin sekali bisa berbagi pengalaman dengan mereka. Dengan harapan teman-temanku bisa memetik hikmah dan serta merta bisa menerapkan perilaku untuk lebih maju. Bukan bermaksud untuk menggurui pula. Namun Tuhan sendiri sudah meminta kepada manusiaNya untuk terus maju dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Saya pun menjadwalkan untuk bertemu kembali dengan beberapa diantara mereka. Harapan besar bisa membagi pengalaman sebagai sesama teman, memberi semangat untuk segera bertemu dengan mereka.

Namun apa lacur, saat pertemuan baru dimulai. Semuanya menjadi berantakan. Rasanya tidak sempat berbagi hal yang penting bagi mereka. Saya sadar, saya tidak punya hak menghakimi atau menge-cap buruk mereka. Namun tidak ada diskusi penting yang terjadi. Yang ada sedikit pembicaraan dan akhirnya hura-hura.

Teman-temanku sama sekali tidak tertarik untuk berdikusi yang bermanfaat di masa depan. Mereka hanya tertarik dengan Makan-makan dan Bernyanyi menghabiskan waktu. Mereka ingin merasakan “senang” atas hasil yang sudah saya capai sehingga tak perlu lagi bagi mereka untuk bersusah-payah menghasilkan seperti apa yang sudah saya hasilkan.

Saya kembali teringat bahwa saya pernah mengalami hal yang relatif sama dengan kejadian ini. Dengan sebuah kelompok di komunitas yang mengatasnamakan pengusaha mulia. Saat itu saya berpikir, mungkin saya yang salah karena tidak mengikuti kemauan mereka.

Namun sekarang saya tahu, bahwa seseorang atau sekelompok orang yang berharap dengan tuntutan lebih terhadap diri, itu karena mereka takut untuk menjalani sendiri segala kesulitannya sendiri dan berharap saya ikut merasakan bahkan “membantu” agar mereka terhindar dari susah payah. Bukan karena terinspirasi atau termotivasi.

Akhirnya, betapa bedanya cara pandangku dengan teman-teman lama di kampung. Saat itulah saya teringat akan perbincangan singkat dengan GM. Dan saya memahami apa yang disiratkannya. Orang-orang yang berharap “lebih” akan memberi cap pada diri kita dengan kata “Sombong” dan segala ungkapan jelek lainnya.

Sebenarnya, tidak ada yang “Sombong atau Bodoh” dalam hal ini. Ini terjadi hanya karena cara berpikir yang beda, atau dalam kata GM adalah Frekuensi yang tidak sama. Jadi saat kita sudah beda cara pandang, hendaknya tetaplah saling menghormati.

Salam Sukses

10 thoughts on “Orang Sukses itu Sombong”

  1. Oh, mungkin ini juga yang sedang terjadi dengan saya. Saya juga mengalami keterasingan jika mudik. Meskipun rumah masih tergolong DIY juga dan Jogja-rumah hanya berjarak 1 jam perjalanan. Sering saya dibilang ‘asik didunianya sendiri’ bahkan oleh saudara sendiri.

    Tidak adakah solusinya? Misalnya kayak Dahlan Iskan yang katanya ‘merakyat’. Meskipun sudah masuk bilangan sukses, tapi tetap bisa ‘ngemong wong cilik’ atau memahami yang kecil dengan menyelesaikan masalah mereka. Ataukah dia cuman dilihat dari sisi ‘menyelesaikan-masalah’-nya thok? Lalu setelah itu selesai, kemudian tetep diasingkan juga?

    Terkadang gak enak sendiri terasing dalam dunia yang demikian ramai.

    1. Mungkin untuk interaksi sosialnya, bisa menyesuaikan Mas. Yang jadi permasalahan, seringkali adalah saat membicarakan sesuatu yang serius.

      Regards

  2. Hmmm,
    Sepertinya memang seperti itu mas. Saya juga merasakan terhadap diri saya, teman-teman saya yang udah sukses, dan teman-teman saya yang masih bertahan di kampung halaman.

  3. menarik ulasannya mas kika, biasanya mereka yg mengatakan sombong, tidak pernah mau mencoba mencari tahu keadaan yg dibicarakan, lalu menduga2, hingga berprasangka buruk. Seperti cerita diatas, karena kurang berkomunikasi, menduga seseorang telah menyombongkan diri, padahal belum tentu 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *