warga-nahdliyin

Otokritik Untuk Nahdliyin Muda

Perkembangan sosial media belakangan ini semakin memudahkan bagi setiap orang untuk berbagi informasi mengenai pandangan dan pikiran setiap orang. Masalah Tauhid dan Syariat menjadi topik paling laku bertebaran di internet. Perbedaan pun semakin nampak dari tiap pemikiran kelompok masing-masing.

Internet memang merupakan sarana kampanye yang sangat efektif dewasa ini, penyebaran yang cepat dikarenakan akses yang mudah telah memberi kemewahan untuk itu. Informasi pun cepat sampai.

Saking banyaknya informasi, hingga sulit untuk diketahui dari mana asal mula sumber tulisan bahkan untuk mengetahui siapa yang menuliskan saja terkadang sulit. Informasi di daur ulang setiap saat, ditambahi dan dikurangi semaunya sendiri sesuai kebutuhan kelompok. Satu kelompok melempar wacana, kelompok lain menyerang. Kelompok lainnya lagi menghujat, kelompok lain membela.

Perlahan kelompok yang sebenarnya dikenal moderat pun tidak bisa lagi dibedakan warnanya. Perlahan-lahan semuanya memiliki warna yang sama, sama-sama keras. Emosi yang terus dipupuk dalam perbincangan-perbincangan tanpa sadar telah mengubah mereka memiliki benci, titik-titik benci pun perlahan-lahan menjelma menjadi sebuah kebencian. Ironisnya, semua mengatasnamakan Agama.

Agama yang indah, damai dan beradab hilang seketika saat membicarakan tulisan maupun pemikiran kelompok lain. Dan ini saya alami dikalangan Nahdliyin terutama kalangan muda. Kelompok yang seharusnya bisa menentramkan juga mendamaikan semua pihak. Saya memahami, ibarat bertarung sendirian dikeroyok banyak orang tentu akhirnya tidak bisa berpikir tenang juga. Namun ini bukanlah pertarungan fisik, ini semua adalah pertarungan dalam ranah pemikiran. Hanya orang-orang yang berpikir tenang yang akan memenangkan pertarungan pemikiran ini.

Banyak ditemukan tulisan-tulisan maupun artikel yang berasal dari situs-situs pengelolaan nahdliyin muda mulai memancarkan amarah, kebencian bahkan hasut. Sedih. Kyai Hasyim membangun NU bukan untuk menjadi penyebar kebencian. Mbah Hasyim merangkul semua orang bahkan preman untuk dijadikan orang-orang yang beragama dan beradab.

Bisakah mempengaruhi orang dengan cara meneriakinya? Tidak bisa!.

Merangkul dengan damai merupakan dakwah paling benar, yang sejak dulu dicontohkan oleh para nabi juga walisongo. Teladan-teladan ulama masa lalu dengan kebesarannya seharusnya tetap menjadi contoh bukan terus memperturutkan emosi.

Mari kembali ke ajaran kyai, ingatlah apa kata Gus Dur. Selisihi kayakinannya, terima manusianya. Tetap harus damai dengan semuanya, hindari mempertebal perbedaan dan jurang pemisah. Terjadinya benturan karena ada dua pihak yang tidak mau mengalah. “Kalau mengalah nanti orang-orang terhasut oleh mereka, gimana dong?”. Mengalah itu bukan berarti diam. Tetap berjuang dengan koridor Nahdliyin yang santun, menerima perbedaan, penuh adab dan senyum, bukan garang.

Kalau bisa menerima perbedaan dengan orang muhammadiyah, kenapa tidak bisa menerima orang syiah dan ahmadiyah? Kalau bisa menerima perbedaan dengan orang LDII, kenapa tidak bisa menerima orang wahabi? Dan seterusnya.

Berdirinya NU setelah komite hijaz memang untuk menolak ajaran Wahabi yang ingin menghancurkan makam rasulullah di tanah arab. Saya pun tetap tidak menyepakati wahabi, namun saya akan tetap menerima orang-orang yang mempercayainya. Tidak perlu ada benci dalam menyikapi perbedaan. Bukankah perbedaan merupakan rahmat?. Tanpa perbedaan tidak akan ada contoh yang bisa dijadikan pembelajaran lebih baik lagi ke depan. Pasti ada rahasia kenapa Allah menciptakan banyak golongan.

Mari, jangan jadikan diri kita sama buruknya dengan yang kita benci. Mari jadikan diri kita terhindar dari kebencian. Hidup hanya sekali, berbuat baiklah. Dan jangan sampai merasa berbuat baik namun ternyata menyakiti banyak orang. Siapa yang tahu hati orang lain?

*Kritikan ini ditujukan terutama untuk saya sendiri dan saudara-saudara nahdliyin muda.

Wallahu a’lam.

2 thoughts on “Otokritik Untuk Nahdliyin Muda”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *