Pak Jokowi, Tolong Carikan Pak Amien Rais Mainan

Pak Jokowi, Tolong Carikan Pak Amien Rais Mainan

Sebagai generasi yang baru tumbuh melek tentang situasi negara pada saat tahun 1998-99, nama Amien Rais tentu ikut menghiasi ruang imajinasi. Waktu itu tiada hari tanpa berita serta cerita heroik seorang Pak Amien Rais. Wajah serta gerak-gerik berikut pernyataan-pernyataannya terus menerus muncul di media-media yang beredar dari Jakarta hingga seantero Nusantara, tak terkecuali di kampungku.

Sosok Pak Amien beserta glorifikasi kemenangan kaum reformasi berhasil menumbangkan orde baru yang ditandai dengan turunnya Soeharto dari jabatan presiden saat itu sungguh tergambar sebagai sosok yang sangat hebat, intelektual tinggi, cendekiawan dan pintar agama. Pokoknya segala kehebatan tersemat untuk Pak Amien Rais ini.

Kemudian berlangsung drama pemilihan presiden setelah melewati sekitar 1,5 tahun pemerintahan Presiden BJ Habibie. Saat itu PDIP menang telak dalam pemilihan umum, diikuti oleh PKB, Golkar dan partai lainnya. Namun sebagian politisi terutama politisi islam yang digalang oleh Amien Rais menolak Presiden perempuan yakni Megawati Soekarnoputri. Melalui Poros Tengah, Pak Amien yang terpilih jadi Ketua MPR dan kawan-kawan berhasil menjegal Megawati menjadi presiden, kemudian kursi presiden jatuh ke Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sosok yang dianggap paling bisa menengahi dan menjadi penengah diantara konflik para politisi. Politik saat itu masih didominasi juga muka-muka lama dan orang penting di masa orde baru.

Masa pemerintahan Gus Dur berjalan sangat singkat, hanya 2,5 tahun kemudian beliau sudah dijatuhkan oleh orang-orang yang mengangkatnya menjadi presiden, dan lagi-lagi digawangi oleh Pak Amien Rais ketua MPR waktu itu. Awal dulu, isu yang santer dalam internal NU adalah karena tidak ada pembagian “angpau” kepada kelompok lain. Dengan mengatasnamakan Brunei Gate, kasus bantuan yang selanjutnya tak pernah terbukti dikorupsi oleh Gus Dur itu, Pak Amien Rais bersedia menelan ludahnya sendiri yang mengatakan bahwa dalam islam perempuan tidak bisa jadi imam, dengan membuat Megawati menjadi presiden.¬†Selanjutnya pemerintahan Megawati pun berjalan meneruskan perjuangan Gus Dur.

Semasa pemeritahan Megawati, Pak Amien Rais pun terus menerus vokal mengkritisi jalannya pemerintahan Megawati. Hampir tiada waktu luang selain mengkritik kebijakan pemerintah waktu itu. Perlahan, saya mulai bosan melihat pergerakan dari Pak Amien ini. Hampir tidak ada yang baik di matanya, kebiasaan mengkritiknya kebablasan karena hampir tak ada solusi dari setiap kritikannya. Bahkan mulai terlihat ketidaksantunannya sebagai tokoh pada saat mengkritik.

Tiba-tiba saja semua kritikan, kalimat pedas dan kabar berita Pak Amien mulai sedikit, bahkan boleh dibilang menghilang, ini terjadi pada saat Presiden dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hampir tidak ada berita yang menuliskan Pak Amien Rais mengkritik kebijakan SBY dalam memerintah maupun program-programnya. Padahal di jaman SBY, hutang untuk subsidi non produktif sangatlah besar. Kita bisa lihat ada BLT, Subsidi BBM murah hingga pembangunan – pembangunan infrastruktur dan sarana lain banyak mangkrak. Namun hebatnya, beliau tak ada suaranya.

Kabarnya, SBY telah berhasil memberi sebuah “mainan” yang mengasyikkan buat Pak Amien. Mainan itu kabarnya ada di Papua, sebuah mainan yang gemerlap dilapisi emas 24 karat. Diluar mainan lain untuk kelompok atau organisasi termasuk Partai Amanah Nasional bentukannya yang masuk ke dalam koalisi pemerintah.

Disini bisa disimpulkan:

Jaman Gus Dur > Amien Rais dan kelompoknya tidak dapat mainan > Gus Dur diturunkan

Jaman Megawati > Amien Rais dan kelompoknya tidak dapat mainan > Megawati terus dikritik keras

Jaman SBY > Amien Rais dan kelompoknya dapat mainan > aman selama 10 tahun

Jaman Jokowi > Amien Rais dan kelompoknya tidak dapat mainan > Jokowi digoyang terus menerus

Belakangan muncul banyak berita bahwa Pak Amien ingin bertemu dengan Jokowi namun syaratnya Presiden harus datang ke rumahnya, ada juga berita yang menuliskan bahwa Presiden Jokowi sudah pernah mengundangnya di Istana namun ditolaknya karena tidak memenuhi syarat. Dan simpang siur berita lainnya, yang saya lihat lebih seperti Pak Amien kehilangan mainannya, sehingga merajuk kesana kemari.

Sebagai mantan penggemarnya, saya hanya bisa bilang; “Pak Jokowi, tolong carikan Pak Amien Rais mainan biar beliau duduk tenang dirumah dan beribadah untuk hari tuanya. Tentu saja setelah Pak Amien bersedia berjalan kaki dari Jogjakarta ke Jakarta“.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.