Banner-Panti

Panti.co, Berbagi dengan Membagi

Mungkin sekitar 3 tahun lebih yang lalu, seorang teman yang berasal dari seputaran Kebumen bercerita bahwa menjadi seorang penghuni tempat bernama Panti Asuhan itu seperti memanggul 10 ton keburukan kemana-mana. Saya kaget, apakah benar seperti itu? Dia menceritakan bahwa penghuni panti seringkali diasosiasikan dengan berbagai macam predikat keburukan. Stigma panggilan seperti hai anak panti, dasar anak yatim dll menjadi panggilan sehari-hari menurutnya.

Saya tidak pernah tahu seperti apa rasanya menjadi anak panti, namun saya berusaha memahami bagaimana dia mengatasi rasa kurang percaya dirinya, minder, merasa rendah dan sejenisnya. Berada dalam sebuah entitas yang sering dijadikan sasaran pandangan miring masyarakat, tentu saja tidak mengenakkan.

Tahun ini, bahkan bulan ini saya terperanjat dengan munculnya sekelompok anak muda berkeahlian teknologi, mewujudkan sebuah aplikasi Panti.co. Sebuah aplikasi yang berkonsentrasi pada pemerataan rejeki untuk panti-panti asuhan se-Indonesia. Bahkan anak-anak muda ini memiliki cita-cita tinggi untuk bisa berbagi hingga memberikan pengetahun usaha mandiri bagi panti serta anak-anak pantinya.

Anak-anak muda ini menyoroti banyaknya ketimpangan yang terjadi dalam dunia sosial anak-anak yatim, piatu dan marjinal ini. Terutama dalam hal manajemen serta penyaluran donasi yang dirasakan kurang bagus dan merata. Beberapa hal yang menjadi perhatian Panti.co seperti:

1. Donasi yang tidak merata

Sebagai contoh, Sebuah Panti asuhan A tidak ada masalah dengan pendanaan. Hampir setiap bulan panti ini mendapatkan donatur rutin yang jumlahnya tidak sedikit, bahkan seringkali mereka ‘mengendapkan’ dana bantuan di saldo rekening mereka.

Ironisnya, Disisi lain, Panti asuhan B masih sangat kekurangan donasi. Panti B dengan pontang panting berusaha mencari bantuan dana kesana kemari, bisa jadi dalam waktu dekat panti B dalam kondisi kolap.

Dengan berbagai macam alasan, kami masih seringkali menjumpai adanya ketimpangan dan tidak meratanya distribusi donasi ke masing masing panti.

2. Kurangnya Visibility

Pada sebagian besar panti, khususnya panti kecil yang baru saja berdiri, pengalaman marketing dari para pengelola masih sangat rendah. Mereka masih bertahan hidup dengan cara konvesional, door to door, mengandalkan skill otodidak untuk penggalangan dana. Sebagain besar dana operasional masih ditanggung oleh kantong cekak pengelola panti.

Padahal dengan kemajuan teknologi, sebuah marketing plan bisa di eksekusi dengan biaya yang jauh lebih murah dan efektif.

3. Kurangnya Bussiness Plan

Sebagian besar panti didirikan dengan semangat sosial untuk menaungi hajat hidup para anak yatim. Hal yang mulia, namun seringkali mereka melupakan apa yang disebut perencaan Bussiness Plan. Bukan tidak lazim untuk bekerja dengan Doa, niat mulai dan jiwa sosial, namun dengan penambahan perencanaan jangan pendek, menengah dan jangka panjang pastinya akan lebih menjamin eksistensi panti kemudian hari.

Sebagai contoh (point no 1) Panti C, tiba tiba mendapatkan hibah dengan nilai ratusan juta dari sebuah perusahaan. Karena tidak ada nya bisnis mapping yang jelas, dana ini akhirnya di alirkan ke hal hal yang sifatnya non-produktif, seperti membuat tempat parkir dkk.

Semestinya dana bisa dikonversi menjadi program program yang lebih produktif.

4. Jenis bantuan

Sudah menjadi tradisi dan mindset umum, bahwa menyumbang panti asuhan adalah dengan uang cash dan 100 NASI BUNGKUS/KOTAK.

Berdasarkan pengalaman, kami sering melihat, sebuah panti dengan hanya jumlah 50 orang, mendapatkan 300 nasi bungkus dalam sehari, khususnya di bulan ramadlhn. Bagaimana mungkin ratusan nasi bungkus dihabiskan dalam satu hari sekaligus !

5. Kurangnya SDM dan SKILL Pengelola

Jangan anda pikir membuat panti itu hal yang mudah, dengan ikhlas saja ternyata tidak bisa menghalangi masalah masalah(cobaan) di dalam panti itu sendiri

– Pengalaman, sebuah anak dari panti asuhan terlibat dengan dalam kasus pidana, pencurian. Pihak pengelola harus berurusan dengan pihak kepolisian. Banyak lagi masalah yang harus dihadapi oleh pengelola, mulai dari sosilisasi ke lingkungan sekitar, tuntutan hak asuk dll.

– Pengalaman, pengelola panti harus rela melepaskan anak asuhnya ke ‘jalanan’, gara gara si anak ngotot minta melanjutkan ke sekolah SMA favorit. Secara akademik si anak mampu, tapi karena kurangnya networking si pengelola dalam menggaet program2 beasiswa, anak dengan kemampuan akademik tinggi harus di lepas ke ‘jalanan’.

– Kurangnya program2 yang produktif dan bimbingan untuk masa depan sang anak. Pelatihan pelatihan akademik yang intensif, pelatihan IT, kursus bahasa, pelatihan kewirausahawan sejak dini.

Dalam impian mereka, suatu hari semua panti di Indonesia akan memiliki kemandirian dalam banyak hal. Terutama dalam menanggulangi kebutuhan operasional keseharian panti itu sendiri. Anak-anak muda ini memulai sebuah cita-cita mulia yang begitu panjang jalan pencapaiannya. Di dalam perjalanannya nanti, anak-anak lulusan panti asuhan tidak perlu lagi merasa minder, tidak percaya diri, rendah diri dan sebagainya. Karena tersebar disekelilingnya orang-orang yang mau berbagi, menganggap sama dan membantunya berdiri mandiri. Dan semua stigma buruk pun menghilang.

Tak ada sesuatu yang lebih mulia selain niat yang suci – KS

Kunjungi situsnya di www.panti.co

Salam Berbagi

1 thought on “Panti.co, Berbagi dengan Membagi”

  1. situs panti ndaq bisa dibukak Om. tapi, ini ulasannya MENARIQ bats, iya banget ini iya. *dan sedih liat artikel yg tentang anakmu. ku mau berbagi ini dan itu **halakh, ini itu hehehe. lamkenal Om, dari negara Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *