Perjalanan Panjang Crowdfunding Musik BIP

Semenjak booming internet dan digital dengan berbagai macam jenis ide dan aplikasinya, dunia musik pun juga tidak luput dari sentuhan internet dan digital. Digitalisasi musik teraplikasi melalui berbagai macam ide serta bisnis model untuk meraih (meningkatkat) penjualan musik. Mulailah muncul aplikasi seperti SoundCloud, Reverbnation, Spotify, HeyBee dan lain-lain. Tak terkecuali juga aplikasi dan sistem crowdfunding.

Crowdfunding memiliki definisi sebagai praktek pendanaan proyek atau usaha dengan cara patungan / mengumpulkan sejumlah uang dari sejumlah orang. Pendanaan pun bisa dari investor, hingga rekan, keluarga atau siapa saja yang mendukung.

Crowdfunding / patungan dalam musik merupakan sebuah sistem alternatif yang muncul dengan berbagai alasan mendasarinya, salah satunya adalah pembajakan hasil karya lagu yang begitu mudah di internet. Berbagai musisi dibelahan dunia mulai menggunakan sistem ini untuk melindungi karya sekaligus juga sebagai cara pemasaran. Patungan ini memiliki obligasi mengembalikan uang patungan dengan hasil karya musisi / band ataupun merchandise ataupun pernak-pernik lain yang ditentukan oleh musisi itu sendiri.

Di Indonesia juga mulai marak sistem patungan ini, dalam pengamatan saya ada Endank Soekamti yang juga melakukannya meskipun tidak sepenuhnya patungan sekaligus dikemas sebagai sistem penjualannya sebagai Band Indie. Dan dulu pernah ada Efek Rumah Kaca dengan nama Pandai Besi (rev). [bila ada info baru akan di revisi].

Begitu juga dengan Band BIP yang melakukan sistem crowdfunding / patungan untuk album terakhirnya. Kondisi pasar dan kesiapan sistem dalam menjalankan perjalanan panjang sistem patungan ini sungguh sangat penting untuk diperhatikan. Bahkan kesiapan dari Grup Band itu sendiri dalam menjalankan sistem ini juga bagian krusial dan harus diperhatikan dalam manajerial.

BIP

Sasaran (pasar) dari sebuah grup musik tentu utamanya mengarah pada penggemar, maka segmentasi penggemar perlu untuk dipersiapkan dengan pengolahan data serta tingkat pemahaman penggemar terhadap sistem patungan ini. Juga perlu dipersiapkan bahwa sistem patungan ini memiliki kendala yaitu jarak dengan penggemar yang tersebar jauh diberbagai daerah.

Pengumpulan data penggemar atau persiapan pengolahan data juga diperlukan sebelum sistem crowdfunding ini berjalan. Bagaimana dengan data yang tidak tersusun rapi? Ini yang dialami banyak Band, tidak memiliki data yang tersusun rapi. Maka solusinya, menjadikan sistem patungan ini sebagai awal pendataan penggemar agar tersusun rapi.

Band BIP memiliki personil yang biasa disebut legend oleh banyak kalangan, dengan nama besar mereka tentu saja asumsinya akanlah mudah untuk membuat banyak orang memesan atau mengirim uang patungan pembuatan Album baru mereka. Namun, edukasi tentang sistem patungan ini belumlah menyentuh ke lapisan terpinggir komunitas penggemar. Juga fakta bahwa sistem ini belum menjadi tradisi dalam dunia musik indonesia maka edukasi menjadi lebih berat. Banyaknya penggemar yang juga lebih suka membeli setelah Album jelas ada, merupakan kendala tersendiri.

Dengan berbagai kesibukan personil BIP, akhirnya sistem patungan album baru mereka keluar dari waktu yang sudah ditentukan. Dan berbagai acara yang dipersiapkan pun terpaksa ada penyesuaian. Pihak manajemen BIPnation sebagai penanggung jawab sistem patungan ini juga turut memiliki kelalaian sehingga sistem tidak berjalan dengan sesuai.

BIPNation Logo

Akhirnya, Album dengan judul “Kata Jenderal” ini pun selesai setelah sekian lama waktu. “Kata Jenderal” dipersembahkan khusus untuk penggemar yang berani mendedikasikan diri dengan memesan atau ikut patungan tanpa takut serta percaya kepada BIP dan BIPnation. Salut untuk penggemar BIP (BIPers) yang bersabar dan berpikir positif hingga akhir.

Dengan pengalaman ini, saya berani mengatakan bahwa saya bisa membangun sistem patungan yang lebih baik di masa depan. Siapapun Bandnya.

Sebagai kata terakhir, saya dan Bongky perwakilan dari BIPnation menyampaikan permohonan maaf atas perjalanan yang tidak mengenakkan dan perjalanan bahagia selama ini.

“Memberi ilmu lebih berat dibanding membelikan nasi goreng”, kata Bongky.

Salam kreatif.

4 thoughts on “Perjalanan Panjang Crowdfunding Musik BIP”

  1. Sebelum Endank Soekamti, ada yang sudah mencoba crowdfunding dan sukses yaitu Efek Rumah Kaca dengan memakai nama Pandai Besi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *