Semangat, Optimisme dan Positif

berpikir-positif

Semangat, Optimisme dan Positif

Karena semangat merupakan hal baik yang bisa mendorong otak kita memacu syaraf motorik untuk bergerak. Segala bentuk semangat baik untuk kehidupan sosial kita dan tentunya juga bisnis. Perputaran hidup tentu saja berlaku untuk setiap orang, tiada seorang pun yang bisa mencegah jatuhnya nasib buruk bahkan musibah.

Masih sering dan banyak terjadi perilaku tidak semangat yang ada di sekitar kita. Ketika seseorang usahanya bangkrut, seringkali akan semakin bangkrut. Kenapa? Karena ketiadaan semangat untuk kembali bangkit. Seringkali orang yang sedang jatuh semakin memperdalam kejatuhannya sendiri karena membangun perilaku negatif dalam pikiran dan sikap. Disini hukum pesimisme berlaku.

Mungkin banyak orang belum tahu bagaimana kekuatan pikiran [nantikan di artikel selanjutnya tentang kekuatan pikiran] bisa membangun dan memberi kehidupan bagi dirinya sendiri. Perilaku tidak semangat biasanya muncul dari pikiran terdalam dalam diri sendiri, yang sejenis dengan gerak reflek.

Kembangkan optimis dan positif dengan baik.

Semangat dan optimisme mempunyai perbedaan, semangat merupakan pendorong bagi kita untuk bisa mengembangkan optimisme. Optimis merupakan bentuk perkawinan semangat dengan keyakinan akan sesuatu, entah itu berbentuk keberhasilan atau pun kegagalan.

Secara lahiriah setiap manusia sudah membawa optimisme dalam kehidupannya, hinggap banyak sekali optimis dalam kehidupannya. Ketika ada orang yang bertanya akan bisnis anda, “Apakah bisnis anda akan lebih baik tahun depan”, maka akan banyak yang menjawab dengan optimisme akan usahanya.

Bahwa tahun depan semua pasti akan lebih baik dari tahun sekarang. Dan disinilah pentingnya Optimisme, karena dengan meyakini bisnisnya akan lebih baik, maka kita akan terus berusaha untuk lebih baik dan lebih baik ke depan.

Optimisme bisa berkembang dan berkembang. Karena memang sebagian dari optimisme sudah lahir bersama munculnya tubuh kita di dunia, sebagian lagi terkait erat dengan lingkungan dan sebagian lagi dari pelatihan diri secara terus menerus dan fokus. Semua bisa dipelajari dan diperoleh oleh siapa saja makna dari optimisme ini serta terus di pupuk dan di benahi.

Orang yang optimis akan selalu menjadikan suatu keadaan seburuk apapun sebagai bentuk yang masih mampu dirubah, dengan begitu tidak akan mempengaruhi pikiran dalam dirinya. Selalu akan mengatakan pada diri sendiri bahwa Tabrakan mobil yang terjadi hanya ketidaksengajaan dan pasti akan bisa diperbaiki, atau dagangan yang tiba-tiba laku keras maka dia akan mengatakan bahwa “selalu ada rejeki dimana saja”.  Namun orang pesimis akan selalu mencari alasan atau pembenaran untuk [tidak] menerima segala sesuatu yang terjadi terhadapnya.

Dari argumen diatas, seringkali terjadi internal dialog dalam pikiran kita. Semua itu saling mempengaruhi satu sama lainnya. Terutama saat sebuah kejadian menimpa kehidupan kita. Ada tiga hal yang bisa diperhatikan untuk mempelajari dialog internal terkait hal ini. Agar bisa memaksimalkan optimisme dan mengembangkannya lebih lanjut. Yaitu :

1. “Permanence”: apakah kejadian itu kita anggap temporary atau permanen, selalu atau hanya kali ini saja dalam hidup kita.
2. “Pervasiveness”,: specific atau universal, apakah hal ini saja atau kah keberuntungan kita berlaku untuk semua kehidupan kita.
3. “Personalisation”,: internal atau external factor, apakah kejadian ini terjadi karena saya atau karena faktor luar.

“3P” diatas, bisa kita pergunakan untuk terus menerus mengembangkan pikiran Optimisme dalam diri kita. Dalam internal dialog tersebut kita perlu melatih dan memperbaikinya. Kalau ada kejadian yang buruk misalnya, gagal dalam sebuah tender bisnis, katakan dalam diskusi dengan diri sendiri: Ini kan kanya kali ini saja, lain kali akan bisa berhasil. Kegagalan ini hanya pada satu bidang kecil kehidupan saya, saya akan sukses banyak dalam bidang lain (keluarga bahagia, anak pintar, badan sehat). Dan inikan karena mungkin mereka ada permainan bisnis dibelakang layar. Tentu kita tetap harus mawas diri dan memperbaiki bisnis kita.

Sebaliknya, bila sebuah kejadian yang positif baik terjadi, misalkan bisnis toko kita bulan ini keuntungan naik drastis, biasakan untuk menganggap:

1. Memang seperti inilah rejeki (permanen) terjadi pada kehidupan saya dan siapa saja.
2. Hoki saya selalu ada dimana mana (universal), lihat buktinya ini sukses, padahal orang lain tidak bisa, harus saya kerjakan dengan lebih baik lagi.
3. Sukses ini terjadi karena saya mengembangkan lagi ilmu dan kemampuan saya, terus menerus.
4. Kebaikan tetangga, teman dan saudara-saudara juga doa mereka, adalah kontribusi perjalanan sukses ini. (Agar kita tidak menjadi sombong)

Setiap pelatihan butuh waktu dan kemauan untuk melakukannya secara rutin, percakapan dengan diri sendiri yang benar akan membuat kita menjadi lebih semangat, optimis dan positip dalam kehidupan kita.

Salam sukses untuk anda.

Konsep 3P dari buku Martin Seligman, “Learned Optimism.”

2 thoughts on “Semangat, Optimisme dan Positif”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *