Sosial adalah Pekerjaan

Sekoci Penyelamat
Gambar dari Google – Titanic lifeboat

Sekoci penyelamat.

Sebuah kapal raksasa karam ditengah lautan. Ribuan orang masuk ke laut. Puluhan kapal sekoci berisi penumpang dan bahan makanan sempat diluncurkan. Masih banyak yang tertinggal di laut, naik diatas papan marangkul barang seadanya. Banyak yang telah tewas.

Terjadi percakapan antara Ujang dan Bujang di atas sekoci :
“Untung kita sepuluh orang sudah naik sekoci dan membawa banyak perbekalan, saya kira kita akan selamat, perbekalan kita cukup untuk waktu lama”, Ucap Ujang.
“Eh, disana ada nenek kakek tua yang menggapai gapai, mari kita selamatkan”, Teriak Bujang tiba-tiba saja.
“Wah, nanti jadi beban, sekoci lebih susah bergerak dan mereka butuh makan, jatah kita akan berkurang.” Jawab Ujang disertai wajah sedikit merengut.
“Tapi kan mereka manusia juga. Harus kita tolong”, Bujang mencoba meyakinkan.
“Ah, kan ada sekoci lain, yang mungkin akan melihat mereka juga. Lagi pula, kita tidak tahu kita harus bertahan berapa lama. Kan sayang kalau makanan kita bagikan buat orang lain?”, Ujang masih kokoh dengan pendiriannya.

Quote :
Apakah nenek kakek itu harus kita selamatkan?

Mari merenung**
Pikirkan tentang hidup ini. Dibumi ini kita kecukupan dengan makanan dan kehidupan yang layak disertai kebahagiaan utuh sebagai manusia lengkap secara fisik, sementara diluar sana begitu banyak orang yang tidak bisa apa-apa dikarenakan hak yang terampas, lahir di rahim perempuan jalanan hingga kelaparan. Mari sedikit melihat keluar, dalam setiap harinya 16.000 anak mati kelaparan, hingga bisa diasumsikan kematian itu akan menjemput satu anak setiap lima detik dan 963 juta orang dalam posisi tidak cukup makan.

Resonansi**
Bayangkan saja Anda dan saya berada dalam sekoci itu. Dimana Bumi ini hampir karam sedangkan kita sendiri butuh untuk tetap bisa makan dan mempertahankan hidup kita. Seandainya kita menyalahkan orang yang tidak mau menolong kakek nenek itu, apa yang kiranya yang sudah kita perbuat untuk 16.000 anak yang mati kelaparan SETIAP HARI.

Essensi**
Kita menyadari sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam sehari-hari, namun kita juga perlu menyadari sepenuhnya bahwa diluar sana banyak yang mati karena kebutuhannya tidak tercukupi. Lakukanlah apa saja untuk membantu mereka dari mulai hal terkecil sekalipun. Berbuat kebaikan, entah dalam bentuk apapun, mulai dari membuat taman baca menciptakan pembelajaran, sampai dengan menolong bencana alam dan memerangi kemiskinan dan kelaparan adalah tugas setiap manusia. Ikuti kegiatan sosial dari mulai tetangga sebelah hingga tempat yang jauh terbelah dan masuklah dalam organisasi sosial (minimal bertindak sosial), boleh Rotary Club, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat atau organisasi sosial lainnya. Karena sosial adalah pekerjaan.

Salam Hormat.

(Re-post)

2 thoughts on “Sosial adalah Pekerjaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *