Tak Ada Akar Tuhan pun Jadi

Tak Ada Akar, Tuhan pun Jadi

Kehidupan, ya kehidupan. Entah apa yang dipikirkan oleh Adam dan Hawa hingga akhirnya harus beranak pinak di bumi kemudian memenuhinya seantero penjuru. Setiap anak-cucunya, entah sejak kapan mulai membentuk rasnya sendiri, kemudian menjadi etnis hingga terbentuk suku, ada yang beragama dan ada yang hanya “percaya” kepada Tuhan.

Aku pun begitu. Masih sering jadi pertanyaan dibenakku, kenapa aku tidak terlahir sebagai bagian dari kaum aria, atau mungkin mongoloid. Bapakku jawa, ibuku separoh jawa. Yang pasti sejak kecil, ajaran yang selalu aku terima adalah bahwa semua manusia itu sama. Hanya usaha keras yang menentukan keberhasilannya di dunia, atau belajar ketakwaannya yang akan menentukan keberhasilan di akhirat nanti.

Bahkan seseorang pernah berkata, kenapa dia tidak menjadi anak presiden saja sehingga punya keistimewaan dalam segala hal?.

Sulit sekali menjelaskan satu hal yang bagiku sendiri sulit mencernanya, aku tak sudi juga lebih jauh membiarkan pikiran-pikiran antik seperti itu. Karena aku bahagia sekali menjadi anak bapak dan ibuku. Meskipun belum bisa menjadi pribadi sesuai kemauan mereka berdua. Sekedar mengirim doa al fatihah setiap malam saja terus menerus lupa.

Sekarang, aku sudah menjadi anak kampoong yang banyak aktivitasnya. Memiliki beragam usaha hingga aktivitas kesenangan lainnya di daerah metropolitan, daerah kejam pada setiap pribadi yang juga kejam kepada orang lain.

Eh, aku ini siapa? Ya aku, kamu dan kalian.

Setiap orang memiliki kesulitannya sendiri-sendiri, tidak ada yang tahu. Tidak ada pula kesulitan yang lebih sulit dari satu pribadi dengan pribadi lainnya. Itulah kenapa ukuran sepatu berbeda-beda. Dalam bahasa jawa, terkenal sebuah kalimat “sawang sinawang”, artinya semua ini hanya saling melihat saja.

Bila kesulitan membuatmu harus marah ya marahlah, namun bila masih merasa bahwa diri kita ini adalah makhluk paling menderita dan mengiba kemana-mana kepada siapapun, maka tak layak pula mengaku sebagai anak-cucu Adam dan Hawa.

Aku pernah bertanya kepada alam.

“Kenapa semua harus kembali kepada Tuhan?”, tanyaku

“Karena hanya Tuhan yang tak punya masalah nak”, jawab bisik alam malam itu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: