Tanda Kebohongan-kebohongan Gus Nur alias Sugi Nur Raharja

Tanda Kebohongan-kebohongan Gus Nur alias Sugi Nur Raharja

Sugi Nur Raharja, yang sering mengklaim diri sendiri sebagai Gus Nur ini lahir di Tri Renggo – Bantul, putra dari seorang jago debus, berilmu hitam dan juga (katanya) preman Malioboro. Sejak kemunculan awalnya di Yutub, dia mengakui dirinya sebagai seorang “Gus”, sebuah jabatan turunan bagi anak-anak kyai yang berilmu tinggi. Mungkin saja, Sugi Nur Raharja ini ingin memberi pernyataan bahwa bapaknya juga Kyai, hanya saja berilmu hitam.

Sebagai putra raja jalanan, maka Sugi Nur ini pun mewarisi kesaktian ilmu hitam dari ayahnya sejak kecil. Semenjak selesai sekolah kelas 5 ibtidaiyah, ia pun kemudian bersekolah di jalanan hingga besar. Sugi Nur mengaku memiliki keberanian dan mental besar, oleh karenanya dia pun berani bahkan selalu berani menghina Banser dan menantang Banser di setiap kesempatan yang didapatnya. Saya lihat sampai detik ini, Sugi Nur ini belum dianggap apa-apa oleh Banser, jadi ya dilewatin saja.

Saya hanya tergelitik mencermati kebohongan dan kebohongan yang terus dipupuk oleh Sugi Nur, dan juga jahatnya orang-orang yang mendorongnya untuk menjadi seperti ini.

Mengaku Lagu Ciptaannya Berharga 25 juta

Sesuatu banget, mengapa begitu? Saya termasuk sering berkeliling dan berteman dengan banyak seniman pencipta lagu, namun belum pernah mendengar kalau Sugi Nur ini sering menciptakan lagu hingga memiliki harga 25 juta perlagu. Ini artinya sudah banyak karya yang beredar di pasaran musik dan tentu saja ngehit. Dan Sugi Nur ini sudah sekelas Dewiq atau Andra.

Atau mungkin saya yang kuper saat ini, sehingga tidak mengenali lagu-lagu di Indonesia tahun-tahun terakhir ini, dimana didalamnya terselip nama penciptanya Sugi Nur Raharja. Setelah melalui pencarian di gugel akhirnya saya menemukan lagu-lagu milik Sugi Nur ini, lagu-lagunya bagus, sayangnya saya tidak melihat satu pun yang bisa bernilai 25 juta.

Tidak Ditemukan Jejak Kesantrian

Sulit untuk menemukan jejak kesantrian atau rekam jejak dimana Cak Sugi Nur Raharja ini memperdalam agama serta ilmu agamanya. Ditambah sifat serta ucapannya yang mudah sekali melaknat orang lain, anti demokrasi dan misuh (mencaci-maki) orang lain. Sebuah indikasi bahwa Cak Nur ini tak pernah mengenyam pendidikan agama terutama adab beragama.

Agama islam sangat mengedepankan adabnya, bahkan dikalangan NU, akan dianggap percuma hafal Al Qur’an bila tidak memiliki adab kepada orang lain. Adab merupakan bentuk budi pekerti paling tinggi yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang mengaku paham agama, kenapa begitu? Karena semakin tinggi ilmu agamanya maka semakin menunduk.

Bukti lain bahwa dia tidak mengenyam pendidikan agama dengan baik adalah kemarahannya terhadap Banser. Hanya karena ada yang berkomentar “tidak pantas disebut Gus”.

Mau tidak mau, yang menentukan Gus atau bukan adalah posisi orang tuanya dan juga keilmuannya di masyarakat banyak. Cak Sugi Nur Raharja tidak memiliki silsilah itu. Ayahnya bernama Tomi Susanto bukanlah Kyai melainkan jagoan debus dan ilmu hitam.

Tidak Bisa Baca Kitab Kuning

Seorang anggota Banser pernah memberi komentar di halaman fesbuknya bahwa “Sugi Nur tidak bisa baca kitab kuning dan tidak punya pondok”.

Komentar anggota Banser ini tidak sepenuhnya salah, karena dia berusaha mengingatkan bahwa untuk menjadi seorang Gus, tidak sekedar hanya memiliki syarat utama yaitu anak kyai. Namun juga ada syarat tambahan yang tidak bisa dihilangkan, yaitu akhlak yang baik, paham ilmu syariat, pandai baca kitab baik Al Quran, Hadits maupun kitab lainnya termasuk kitab kuning. Gus ini “jabatan” yang berat, tidak semua anak atau keturunan kyai sanggup menanggungnya.

Meski begitu, seorang Gus tidak lantas bisa serta merta disebut kyai atau ulama atau bahkan sekedar ustad, apalagi bila Gus ini jadi-jadian alias Gus Memedi seperti Sugi Nur ini. Karena ada banyak syarat yang harus dimiliki untuk menjadi seorang ustad, ulama apalagi kyai. Salah satu syaratnya adalah: memahami Al Quran berikut asbabun nuzulnya, selain syarat-syarat lainnya yang seabrek. Silahkan baca syarat atau kriteria ulama di halaman NU Online.

Jahatnya Orang Dibelakangnya

Sungguh begitu jahat orang yang terus menerus mengorbitkan Sugi Nur, dia dipaksa untuk terus mengulang kebohongannya sehingga Sugi Nur Raharja sendiri kehilangan titik dimana ucapannya yang bohong dan dimana ucapannya yang nyata. Kebohongan – kebohongannya pun disukai oleh media – media tukang pelintir dan produsen kebencian.

Pendorong utama dibelakang Sugi Nur paham betul memanfaatkan sentimen anti pemerintah yang melanda banyak orang, sosok Sugi Nur dipersuasikan sebagai bagian representasi anti pemerintah serta agamawan yang vokal. Lebih jahat lagi, Sugi Nur di glorifikasi sebagai seorang ulama. Ini pembohongan publik yang sulit dimaafkan.

Sugi Nur ini bentuk contoh dari sebagian masyarakat yang haus akan agama namun menelannya terlalu kebanyakan. Semoga makin banyak yang sadar bahwa Sugi Nur Raharja bukanlah ulama, dan tidak layak dijadikan panutan meskipun orasi-orasinya sesuai dengan emosi pribadi. Karena ulama pasti akan menjaga ucapannya.

2 comments found

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.