Teori Otak Tua Manusia (The Old Brain: Three Brains, One Decision Maker)

Teori Otak Tua Manusia (The Old Brain: Three Brains, One Decision Maker)

Konsep Triune Brain adalah konsep penyederhanaan tentang otak menjadi 3 bagian, yang ditemukan oleh Neuroscientist Paul D. MacLean, dan dipopulerkan oleh Carl Sagan. Model pemahaman otak yang berlandaskan pada teori evolusi sejak 450 juta tahun yang lalu. Evolusi otak manusia dimulai dengan adanya Otak Tua, atau Reptilian Brain dan berkembang menjadi Mamalian Brain dan terus sampai pada Neo Cortex.

Ketiga otak kita mempunyai fungsi yang berbeda: Paling luar, yang hanya dimiliki oleh manusia saja, adalah “Otak Baru” kita, The New Brain, Neo Cortex, berpikir dan menganalisa keadaan, menghitung untung rugi dan berinovasi. Otak inilah yang dipakai untuk memahami bahasa, berhitung, angka, huruf. Dan disinilah kita membagi otak kita menjadi otak kanan dan kiri. Otak tentang seni, dan angka.

Mari berlanjut ke dalam teori otak tua manusia. Masuk lebih dalam adalah “Otak Tengah” kita, The Middle Brain, Lymbic, merasakan dan menggunakan intuisi. Inilah otak emosi kita, yang ada pada mamal, disebut juga mamalian brain. Otak ini yang mengatur emosi kita, kasihan, sedih, senang, dan otak ini memberi instruksi untuk membuat dada kita merasa nyaman saat kita berbahagia. Otak ini yang mengingat wajah teman kita, tapi Neo Cortex yang mengingat namanya. Otak tengah lebih mampu mengingat dari otak baru kita, oleh sebab itu kita ingat wajah teman kita tapi lupa namanya pada saat reuni.

Yang paling dalam adalah “Otak Tua” kita, The Old Brain, atau Reptilian brain. Inilah otak pengambil keputusan berdasarkan masukan dari kedua otak yang lain, atau langsung dari sensori yang diterimanya. Otak ini adalah otak paling primitif yang juga mengatur pernafasan, kesadaran, dan bergeraknya fungsi2 organ tubuh kita. Inilah otak yang telah ada pada jaman dinosaurus, pada reptil, burung dan binatang kuno lainnya. Otak ini secara cepat mengambil keputusan dalam bisnis dan kehidupan kita.

Burung takut pada “orang2an” disawah ketika melihatnya. Kitapun terkejut melihat “patung polisi” dijalan. Melihat cicak ataupun tikus mainan pun kita menjerit terkejut langsung melemparkannya. Kita mendadak menangis mendengar lagu kenangan putus cinta kita. Kelima sensori kita bisa langsung menembus ke otak tua kita tanpa sadar dan tanpa melalui pemikiran lebih dulu. Dan kita tidak mampu menghentikan “Otak Tua” kita walau kita memerintahkannya.

Kalau kita lapar dan berbelanja di super market, kita akan membeli lebih dari yang dibutuhkan. Kalau kita bertemu orang langsung merasa suka atau tidak. Ada teman lama tidak pernah kontak tau2 menelpon dengan ramah, kita langsung tau ada maunya dan segera kita menjaga diri. Kita suka wajah cantik, rasa manis dan anak yang lucu. Semua keputusan itu diambil otak tua kita bahkan sebelum kita sempat memikirkannya. Bahkan pada anjing, kucing pun terjadi hal yang sama, analisa tidak sadarnya akan gaya kita, bau tubuh kita, gerak gerik kita dianalisa dan langsung anjing atau kucing itu memutuskan untuk berteman atau tidak dengan anda.

Dengan konsep tiga otak ini, akan mudah dipahami tentang “Thinking, Feeling, and Willing” (Berfikir, Perasaan dan Kemauan); ataupun “Head, Heart, and Gut” (Kepala, Hati, Nyali). Otak berpikir kita, kita anggap sebagai “kepala”, dan otak tengah kita “hati” atau emosi atau perasaan, sedangkan otak tua kita adalah “nyali”, keberanian, pengambilan keputusan.

Dalam kehidupan sehari hari, biasanya kita berpikir secara logis untung rugi sesuatu, lalu mulai mempertimbangkan suka atau tidak, baru memutuskan untuk mau atau tidak. Jadi dari otak baru, tengah, tua. Tetapi pada saat tertentu kita dapat memulai dari emosi, langsung mengambil keputusan, baru mencocokkan dengan data yang ada.

Kita berjanji hanya akan minum segelas, ternyata akhirnya mabuk juga. Kita mau bangun pagi jam enam untuk olah raga, tertunda juga. Kita ingin membersihkan kamar kerja kita, belum juga sempat. Kita belanja dengan kartu kredit, selalu berlebihan. Makanpun sering kekenyangan.

Emosi selalu lebih kuat dalam membuat kita mengambil keputusan, otak tengah kita lebih mudah mempengaruhi otak tua kita. Emosi tertentu akan lebih kuat dalam membuat kita mengambil keputusan. Keputusan bisnis dan keputusan kehidupan kita, selalu kita anggap sudah sangat “rasional”, tetapi sebenarnya sangatlah emotional dan sering terjadi bias. Stimuli tertentu akan membuat kita lebih mudah terpengaruh, karena otak tua kita lebih tersentuh dan keputusan terjadi disana, sementara otak rasional kita sering hanya membenarkan apa yang sudah kita pilih saja.

Kemampuan kita memahami peran ketiga otak ini akan bermanfaat untuk dapat membuat kita lebih memfokuskan diri pada “The Old Brain” ini untuk mempengaruhi orang lain, untuk memimpin anak buah, dan untuk menjual produk.

Salam Kreatif.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.