AmaranthineFashion

Yellow Tshirt Case, Thailand Television Came to Interview Amaranthine

Some bloggers from Mashable, online forums and twitter, mentioned Amaranthine Fashion online store that related with Thailand Bomber suspect, looks like the news turned out to be highlight. We know about this after yesterday, journalist from a Thailand Television that called Thapanee Ietsrichai came to our store at Mega Kuningan, Jakarta.

They say that the case of the yellow tshirt being warm and constant concern to Thailand society, especially Bangkok. Yellow tshirt profile’s so similar, it is brought into line as if a real relationship.

Inevitably, we are as manager of Amaranthine Fashion take disadvantage because of it. For two days after the news, our Amaranthine Fashion website was down due to a flood of visitors with the amount immeasurably and beyond the usual. Amaranthine web visitors on average per day 2000-3000, but when the news that happens, the web was visited by more than 200rb visitors at the same time.

Back to interviews conducted by Television Thapanee Ietsrichai of Thailand. They ask something that is still associated with the yellow tshirt, start from asking about when we imported the tshirt and if there ever a buyer from Thailand.

Very fortuitous, we’ve never caught a customer from Thailand, from here it is clear that between us and the bomber is no relationship at all. Moreover, products like the yellow tshirt is certainly not a few were sold. And also bomber’s profile are a Men and yellow tshirt sold in Amaranthine Fashion are specifically for women.

Basically, the products that Amaranthine Fashion’s import are for additional part. Amaranthine Fashion  produce our own product that are derived from local brand called Amaranthine. Products manufactured itself is actually displayed much more in the catalog of our online store.

Interviews running warm and pleasant, hopefully the case can get soon discovered. See our article before, for more knowledge,

thailandbombing

—-|

Indonesian Version

Penyebutan nama toko online Amaranthine Fashion oleh beberapa blogger melalui Mashable dan juga melalui beberapa forum online serta twitter, tentang hubungannya dengan Kasus Bom di Thailand, ternyata menjadi pemberitaan yang sangat ramai di Thailand. Ini kami ketahui setelah kemarin hari datang jurnalis dari Televisi Thapanee Ietsrichai Thailand ke toko kami dibilangan Mega Kuningan, Jakarta.

Mereka mengatakan bahwa kasus kaus kuning ini sedang hangat dan terus menerus jadi perhatian masyarakat Thailand, terutama Bangkok. Profil kaus kuning yang begitu mirip, memang membawa garis hubungan yang menjadi seakan nyata.

Tidak bisa dipungkiri, kami pengelola Amaranthine Fashion mendapatkan kerugian juga karenanya. Sebab 2 hari setelah pemberitaan itu, web Amaranthine Fashion sempat down karena membanjirnya pengunjung dengan jumlah tak terkira dan diluar biasanya. Pengunjung di web Amaranthine rata-rata per hari 2000-3000, namun saat pemberitaan itu terjadi, web dikunjungi lebih dari 200rb pengunjung dalam waktu yang bersamaan.

Kembali ke wawancara yang dilakukan oleh Televisi Thapanee Ietsrichai dari Thailand. Mereka menanyakan sesuatu yang masih berhubungan dengan kaus kuning, mulai darimana belanja tshirtnya hingga apakah pernah ada pembeli/customer dari Thailand.

Sangat kebetulan, kami belum pernah kedapatan customer dari Thailand, dari sini saja sudah jelas bahwa antara kami dan pengebom tidak ada hubungan sama sekali. Lagi pula, produk kaus kuning seperti ini tentunya tidak sedikit yang menjualnya. Dan juga Pengebom berjenis kelamin Laki-laki dan kaus kuning yang dijual di Amaranthine Fashion, khusus perempuan.

Pada dasarnya, produk impor yang dijual di Amaranthine Fashion hanya merupakan bagian tambahan. Karena Amaranthine Fashion memproduksi sendiri beberapa produk yang memang berasal dari lokal dengan brand Amaranthine. Produk yang diproduksi sendiri ini justru lebih banyak dalam katalog yang terpampang di toko online.

Wawancara berjalan hangat dan menyenangkan, semoga segera ditemukan pelaku pengeboman di Thailand. Baca tulisan sebelumnya untuk lebih memahami kasusnya.

—–||

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *