• Aku menulis karena lidahku menahan rindu

Jangan Merasa Paling Benar, Singkirkan Drama

Merasa Diri Paling Benar

Merasa paling benar, kemudian diiringi drama menyalahkan kiri kanan hingga menuntut orang lain harus sepakat dengan pikiran diri sendiri, ini adalah perilaku buruk. Bahkan mungkin salah satu yang terburuk.

Sayangnya, orang yang merasa paling benar ini biasanya butuh waktu lama untuk menyadari kekeliruannya. Karena hal ini sangat terpengaruh kedewasaan dalam berpikir serta kecerdasan emosional.

Untuk belajar berpikir positif saja membutuhkan latihan, bahkan bukan hanya latihan sebentar. Butuh waktu panjang melalui berbagai kontemplasi agar bisa menelaah dan memilih cara pandang hingga pikiran positif.

Selalu berpikir bahwa dirinya paling benar, ini biasanya seirama (meski berbanding terbalik) dengan pikiran selalu merasa paling menderita. Ketika terjadi satu kejadian yang tidak disukainya, maka langsung akan memunculkan drama betapa menderita dirinya.

Begitu juga dengan merasa paling benar, semua orang akan dianggapnya salah ketika berpendapat. Seketika dirinya akan merasa menjadi orang paling paham di dunia atas sebuah masalah. Ini biasanya ada beberapa alasannya.

Berikut ini alasan-alasan mengapa orang merasa paling benar:

Merasa Lebih Baik dan Egois

Karena sudah melakukan “sesuatu” dan berhasil memberi manfaat kepada banyak orang, maka kemudian merasa berhak mendapatkan kredit dengan menempatkan bahwa dirinya paling benar ketika melakukan sesuatu yang lainnya.

Sikap ini biasanya muncul dikarenakan ada pandangan dalam dirinya atau sebuah stereotip yang sudah terlanjur mengakar, yaitu menganggap dirinya lebih superior dari pada orang lain. Sebuah ego yang muncul dan menutup kemungkinan kebaikan lain.

Menolak Menghargai Orang Lain

Ketidakmampuan untuk menolak pengaruh buruk juga bisa menjadi salah satu penyebab mudah merasa paling benar. Manakala masuk sebuah informasi, atau data yang mengatakan sesuatu selanjutnya menimbulkan rasa iri, dengki dan sakit hati.

Sikap ini kemudian menjadi dasar penolakan dalam menghargai kemampuan atau pun kinerja orang lain. Dalam pandangannya, semua orang tidak ada yang patut dihargai, karena dirinyalah yang paling utama untuk dihargai.

Tokoh Kagetan

Seketika merasa bahwa dirinya adalah seorang tokoh. Banyak pengikut di sosial media, serasa dunia akan mendengarkan apapun pendapat dan komentarnya. Penyakit ini banyak muncul dewasa ini melalui kemunculan beragam platform sosial media.

Kondisi ini memunculkan sikap merasa paling benar sendiri dihadapain orang lain. Bahkan karena hal ini, seringkali tidak lagi bisa menempatkan diri untuk menghargai orang lain sesuai porsi dan sesuai kondisi. Hingga lupa bahwa dirinya bukanlah seorang maha ahli.

Prasangka Negatif

Terlanjur memiliki prasangka negatif terhadap seseorang atau sesuatu. Meski itu kecil porsinya, namun karena prasangka negatif tersebut dikembangkan terus menerus, biasanya juga lingkungan sekitarnya akan ikut membawanya sesuai prasangka negatif tersebut.

Sikap prasangka ini memiliki bentuk kaku, sulit mendengarkan masukan atau pun informasi tambahan dari pihak lain. Karena sudah menerapkan bahwa semua orang atau kelompok lain atau sesuatu tidaklah benar.

Tulisan lain Merasa Paling Benar Sendiri, bisa dilihat di Intisari Online.

—|

Penting bagi kita untuk terus belajar agar menjadi pribadi yang baik di masa depan.

Ketika kamu sedang merasa (paling) benar, saat itulah kamu sedang salah.

* Kika Syafii *

2 Responses

Leave a Reply

Terkait

Ini Nyambung Loh..

Silaturahmi sangat Berharga - Terima kasih

© 2020 All Rights Reserved