Memberontak dari Lingkaran Kemiskinan

Lingkaran kemiskinan

“Emang elu siapa? Jangan sok jagoan sama gue lu!”

Seperti itulah kondisi masyarakat kita, setiap kali ada sesuatu masalah maka gede-gedean pengaruh atau beking selalu menjadi solusi. Hampir tidak ada masalah yang selesai karena memang seharusnya selesai.

Ini sebuah gambaran betapa orang yang dari lingkungan menengah ke atas, yang memiliki jaringan pejabat atau penguasa sebuah wilayah, semakin merajalela dari mulai perilaku hingga kekayaannya.

Dan semakin menyulitkan orang-orang dari kelas bawah dan pra sejahtera untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya. Karena dari mulai pendidikan hingga pergaulan, sulit untuk mendapatkan peningkatan.

Lingkaran Kemiskinan

Riset yang dilakukan SMERU Research memberi bukti “bahwa anak yang lahir dari keluarga miskin cenderung berpenghasilan lebih rendah ketika mereka dewasa“.

Ini menjawab pertanyaan saya sejak kecil hingga sekarang. Saya terlahir dari keluarga pra sejahtera yang jauh dari kata cukup, dan tumbuh berkembang serta hidup di lingkungan sekedar toilet saja tidak punya.

Saya merasakan bersekolah harus mengurus surat keterangan tidak mampu dari mulai RT, RW, Kelurahan hingga Kecamatan agar bisa mendapatkan biaya sekolah secara gratis.

Bila ingat saat itu, sakit hati rasanya. Seorang anak kecil dipaksa mengurus surat tanda miskin serta mengakui bahwa orang tua masuk dalam kategori golongan miskin.

Sejak dulu, saya sering menggumam, kenapa orang dari keluarga miskin jarang sekali menjadi lebih sejahtera pada masa dewasanya. Kenapa hanya segitu-gitu saja ketika mereka menjadi dewasa?

Ini pula yang mendasari saya bepergian merantau meninggalkan kampung halaman, dengan tekad besar harus bisa lebih baik dari sisi ekonomi dan kehidupan selanjutnya nanti.

Sampailah saya di kota metropolitan ini. Menggelandang, tidur serabutan, dan bekerja kesetanan mencari peluang di Kota yang kata orang, lebih kejam dari ibu tiri. Sakit hati? Setiap hari!.

Beratnya Melawan Sistem

Sistem sosial masyarakat di Indonesia sudah benar-benar mengakar, sebuah sistem yang boleh dibilang sulit memberi kesempatan kepada orang tak punya relasi, bukan dari kalangan tertentu dan seterusnya.

Saya sekolah hanya sampai pada titik SMA, sementara teman-teman SMA tidak ada yang berada disini. Tidak ada saudara dan membangun jaringan dari NOL besar.

Disini, saya menyaksikan orang yang berkuliah bisa dengan mudah mendapat kesempatan dari teman kuliah atau kakak kelas almameternya. Orang seperti saya, ya tidak boleh cemburu karena sudah dianggap wajar.

Saya memberontak dan terus meyakinkan diri melawan lingkaran kemiskinan yang membelenggu diri sendiri, semua saya tekadkan demi kehidupan generasi penerusku di masa depan.

Dihina orang, diusir orang, diabaikan hingga dipukuli orang demi mendapatkan uang untuk makan hari ini, saya jalani. Tak ada keluarga yang tahu, tak satu pun teman di kampung tahu kondisi ini.

Rentang tahun 2002 hingga 2004, hampir setiap hari hanya makan gorengan tempe dan tahu karena uangnya lebih banyak saya kumpulkan untuk membeli buku. Tentu saja buku pengetahuan terapan.

Saya terus menerus belajar meningkatkan pengetahuan serta membangun jaringan sebanyak mungkin semampunya. Sungguh sulit berhadapan dengan banyak orang yang menilai “emang elu siapa?” sejak awal.

Singkat cerita, saya berhasil memiliki usaha dan bahkan merasakan pencapaian besar hingga bisa menempatkan diri ke dalam lingkungan kelas menengah atas.

Buaian Motivasi dan Kerja Keras

Membaca tulisan Rendy A Diningrat di TheConversation.com sangat memberi pencerahan bagi saya, benar – benar memberi pencerahan. Tidak semua kesuksesan bisa dicapai melalui kerja keras semata.

Saya yang dulunya berpikir bahwa kesuksesan merupakan mutlak hasil kerja keras dan motivasi diri, mulai terbuka. Bahwa memang ada sebuah sistem yang berlangsung di masyarakat dan menyulitkan golongan bawah.

Rendy menegaskan dalam tulisannya: bahwa kesejahteraan sebuah keluarga sangat mendukung besarnya tingkat kemungkinan seseorang anak menjadi orang yang sejahtera.

Ini terkait dari beberapa hal seperti mudahnya mendapat pendidikan tambahan, mudahnya mendapatkan jaringan yang mapan hingga mudahnya mendapatkan bantuan usaha baik dari Bank atau apapun.

Kerja keras tidak serta merta menjadi patokan sebuah kesuksesan, dan motivasi penyemangat hanya akan menambah jurang serta mewajarkan ketimpangan ekonomi di masyarakat.

Kita bisa dengan mudah mengatakan “orang itu menjadi sukses karena kerja kerasnya”. Ini sama dengan mengatakan bahwa kamu menjadi miskin karena tidak punya motivasi kerja keras.

Penilaian yang tidak adil, karena tidak semua orang memiliki kekuatan bekerja sangat keras. Terkait dengan latar belakang pendidikan sekolah maupun pendidikan di rumahnya.

Kesuksesan sangat bergantung dengan berbagai hal, termasuk didalamnya sistem masyarakat yang melingkupinya. Saya bahkan pernah “kabur” dari lingkungan yang menyulitkan saya berkembang, waktu itu.

Sekarang saya tahu bahwa lingkungan-lingkungan yang selalu digambarkan buruk itu, bukan untuk ditinggalkan namun dipeluk dan bekerja bersama – sama membangun kehidupan lebih baik.

Ekonomi Perlu Lebih Merata

Perbedaan ekonomi orang tua, ini membentuk segegrasi di kehidupan sehari – hari anak. Orang tua miskin sulit sekali mendapatkan kemewahan lain atas berbagai hal bagi anaknya.

Saya mengalami semua itu, meski sulit sekali menjabarkannya lebih detil. Sulit juga untuk menggambarkan secara jelas apa saja hambatan itu. Namun saya yakin banyak orang merasakannya.

Kita yang harus bangkit agar bisa membangun ekonomi menjadi lebih merata, sembari terus mendoakan pemerintah agar bisa mengintervensi sistem sosial yang terlanjur terbangun.

Semoga saja pemerintah tidak memberikan kesempatan hanya kepada kelas tertentu, dan bisa menjalankan Sila “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, dari tahun ke tahun.

Leave a Reply

Terkait

Ini Nyambung Loh..

Silaturahmi sangat Berharga - Terima kasih

© 2020 All Rights Reserved