Petruk Jadi ratu

Petruk dadi Ratu, Kisah Heroik yang Dilawan Kaum Feodal

“Jadi raja itu takkan bisa menjadi raja, kalau tidak dipangku kawula, rakyat jelata seperti saya ini”, kata Petruk.

Ucapan pamungkas Petruk.

Selama ini berkembang pemahaman bahwa kisah Petruk dadi Ratu atau Petruk jadi Raja adalah sebuah keburukan, kekurang-ajaran dan bahkan nista. Padahal sebenarnya malah terbalik dengan itu semua.

Kisah tentang Petruk dadi Ratu justru bercerita tentang perjuangan seorang Kawula atau Rakyat Jelata melawan penindasan dan kekejaman penguasa yang semena-mena. Perjuangan untuk mengembalikan harkat martabat seorang raja yang sebenarnya terhadap rakyatnya. Yaitu raja yang baik, dekat dengan rakyat serta mengayominya.

Para kaum feodal memutarbalikkan fakta cerita asli Petruk jadi raja ini. Kisah tentang perjuangan diputarbalik menjadi kisah pembangkangan, kekurang-ajaran serta kesombongan seorang rakyat jelata kalau berkuasa. Dan berbeda bila yang berkuasa adalah trah atau jalur bangsawan, dijamin akan selalu sejahtera rakyatnya.

Mengapa kaum feodal memutarbalikkan fakta ini?

Karena cerita wayang yang melegenda serta merakyat ini bisa menyulut keberanian rakyat jelata untuk melakukan pemberontakan terhadap penguasa yang kejam dan semena-mena terhadap rakyatnya.

Bila cerita wayang ini tidak dimanipulasi sedemikian rupa, maka akan bisa mengumpulkan energi rakyat yang selama itu ditindas, diculik, dibunuh, diperkosa dan dikejami oleh para penguasa.

Pada masa orde baru, pagelaran wayang petruk dadi ratu sulit sekali untuk berhasil dipentaskan. Karena cerita ini sangat ditakuti oleh penguasa orde baru, ditakutkan cerita ini bisa mempengaruhi masyarakat banyak untuk melakukan perlawanan bahkan pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru.

Kembali pada cerita aslinya Petruk dadi Ratu ini, sosok Petruk adalah sosok rakyat jelata yang benar-benar mengabdi kepada raja dan rakyatnya. Namun berani mengkritik raja dengan berbagai lelucon dan satirnya. Bahkan Petruk lah yang menggendong mayat Abimanyu hingga menguburnya.

Petruk bukanlah orang yang sombong, atau rakyat jelata yang menyedihkan sifatnya. Petruk adalah orang yang memegang prinsip dirinya sebagai pribadi yang mengabdi, mengabdi kepada bangsa dan negara. Bersama dengan Semar, Nala Gareng dan Bagong, Petruk terus mengabdi serta membangun masyarakat sesuai kodratnya dan juga sekaligus memberikan kritikan atau masukan kepada para raja / penguasa dengan baik.

Singkatnya, Petruk merupakan gambaran kawula / rakyat yang paham dengan posisinya. Mengabdi untuk bangsa dan negara sesuai tatanan, serta melawan bila ada penguasa yang dholim.

Sifat seperti inilah yang sangat ditakuti oleh para feodal, karena mereka tidak bisa nyaman melakukan kedholiman serta korupsi dengan mudah. Bagi penguasa korup, sifat seperti ini bisa menimbulkan gangguan bahkan pemberontakan. Karena bagi mereka, mereka butuh rakyat yang tidak berani melawan atau nurut ikut semua kesewenang-wenangan.

Baru-baru ini ada seorang Politisi yang menganalogikan Presiden Jokowi dengan Petruk dadi Ratu, diasumsikan sebagai sebuah cerita yang buruk. Padahal malah sebaliknya dan bisa diartikan bahwa Politisi itulah representasi dari Penguasa Korup.

Sudah tahukan sekarang?

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

%d bloggers like this: