Potret Produk Pertanian, Pengiriman Pertama Bagus Selanjutnya Hangus

Potret Produk Pertanian

Sebagai negara agraris dimana didalamnya ada pertanian, tentu saja Indonesia memiliki potret produk pertanian sendiri. Terkenal dengan kemewahan tanahnya yang bisa ditanami jenis tanaman apapun, potret pertanian Indonesia justru tertinggal jauh dari Thailand dan Vietnam keindahannya.

Bagi pembeli luar negeri, secara umum mereka menggambarkan bahwa secara kualitas produk pertanian yang dimiliki oleh Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain, namun Indonesia tidak memiliki sistem berjenjang yang memastikan kuantitas dan kualitas terjaga.

Sudah jadi rahasia umum, jika pengiriman produk pertanian Indonesia seringkali bagus pada pengiriman pertama namun selanjutnya hangus. Seorang pembeli Malaysia kecewa berat karena produk yang terkirim kedua kali, jauh dibawah kualitas produk pertama kali, dan rasanya ini umum sekali bagi pembeli lain.

Apakah ini menunjukkan produk pertanian Indonesia baik-baik saja? Susah didefinisikan, secara perputaran bisnis di dalam negeri masih bisa dianggap baik-baik saja, namun hanya untuk tataran masyarakat bawah. Karena tataran masyarakat kelas menengah atas akan lebih memilih produk impor yang sudah jelas memiliki standar.

Kondisi Standar Produk Pertanian

Secara aturan, baik melalui regulasi kementerian pertanian hingga regulasi organisasi pangan dunia seperti Food and Agriculture Organization (FAO) sudah tersebar banyak kerangka proses produksi dari sebuah rangkaian sistem bertani. Maka seharusnya Indonesia sudah bisa sejak dulu memiliki standar produk pertanian.

Namun sayangnya, terkait standarisasi pertanian ini hanya berujung di meja kantor. Tidak pernah meluncur ke lapangan atau lahan pertanian para petani. Kalau pun ada, maka pihak swasta yang menggaungkan serta menjalankannya dengan baik, kemudian pemerintah datang untuk melakukan klaim.

Sehingga tidak mudah menemukan produk pertanian di Indonesia yang memiliki standar kualitas sesuai pasar dan kuantitas jangka panjang yang bisa memenuhi keberlangsungan produk dalam pasar. Tidak terlihat ada sebuah potret pasti seperti apa standar produk yang harus dihasilkan.

Produk Pertanian Semampir

Penggemar Serba Instan

Petani Indonesia rata-rata tidak memiliki kemampuan fokus melalui satu produk yang bisa dijadikan keahlian atau spesialisasi produk, dalam satu buah lahan selebar 1000m persegi, seorang petani bisa memiliki 5 hingga 10 macam jenis tanaman. Rata-rata alasan yang dikemukakan adalah karena sayang bila lahannya tidak termanfaatkan.

Belum lagi, terlihat banyak sekali petani pengejar tren sebuah produk. Jika muncul sebuah produk pertanian yang tren semisal porang, maka semua petani seluruh Indonesia akan berlomba menanam tanaman porang. Dan ternyata menggemari segala hal yang serba instan ini juga ada peran pemerintah setempatnya.

Terlihat juga dari kegemaran impor produk, dengan alasan agar stok tetap terjaga maka dilakukanlah impor sebuah produk. Padahal ini lebih dikarenakan tidak terjaganya produk di dalam negeri serta lebih suka solusi instan. Ini ironis, negara dengan kultur pangan hebat tapi melakukan impor pangan.

Potret Produk Pertanian

Seperti itulah potret produk pertanian Indonesia kita secara umum. Tidak memiliki standar kualitas, tidak memiliki standar kuantitas produksi serta menggemari segala hal yang berbau instan. Tak terkecuali pemerintahnya.

Tapikan produk pertanian itu sebagian besar panen musiman? Ya! dan itu tugas pemerintah untuk membangun sustainability dengan berbagai macam rekayasa baik rekayasa genetik maupun rekayasa produksi dan penyimpanannya.

Sementara, industri pangan merupakan sektor bisnis tahan banting dari segala macam kondisi dan wabah pandemi. Seperti juga industri kesehatan. Maka sangatlah disayangkan jika tidak segera diperbaiki.

Dan mari kita dengarkan lagunya No Doubt – Don’t Speak.

One Response

Leave a Reply

Terkait

Ini Nyambung Loh..

Silaturahmi sangat Berharga - Terima kasih

© 2020 All Rights Reserved

Mari Tertawa
Bahagia.

Ikuti Saya